
Pagi ini seperti biasa mereka akan melaksanakan sholat subuh berjamaah. Semua sudah berada di tempatnya masing-masing. Mereka belum melaksanakannya karena akan menunggu satu orang lagi yang baru saja menjadi anggota baru di rumah itu.
"Maaf, aku telat." Lirihnya dengan menunduk.
"Nggak pa-pa, ayo gabung biar kita langsung mulai sholatnya." Sahut Fakhi.
Maryam mengangguk patuh dan mengambil tempat di sebelah Nasya. Mereka melaksanakan sholat tersebut dengan khidmat. Setelah sholat dan berdoa, Azma dan Azmi menyalim tangan Sasa dan Gus Sakhi. Kemudian tangan Fakhi, Nasya dan Maryam. Mereka sangat menghormati keputusan Kakak nya yang memilih untuk menikah lagi.
"Daddy langsung ke kamar ya, mau siap-siap ke kampus. Ayo, Mom." Ajak Gus Sakhi pada Sasa.
Kini tinggal'lah Fakhi, Nasya dan Maryam. Biasanya Nasya akan mengaji dan didengar oleh Fakhi, kini ada Maryam juga disana.
"Sya, Mas. Aku ke kamar ya!" Pamit Maryam, ia merasa tidak enak jika menjadi pengganggu keduanya.
"Mar, kamu nggak mau nyimak bacaan aku? Atau sekarang giliran kamu saja yang di simak, iya 'kan Mas?" Kata Nasya sambil tersenyum.
"Hah? Aku ___"
"Benar kata Sya, coba kamu yang mengaji biar Saya simak. Saya juga belum pernah mendengar kamu ngaji!" Suara bariton tersebut membuat Maryam gemetaran.
"Baiklah," jawab Maryam setelah beberapa saat.
Maryam mengaji, suaranya begitu merdu di dengar. Nasya dan Fakhi mengagumi suaranya. 'Masya Allah, nikmat mana lagi yang ku dustakan. Aku telah diberi istri-istri yang sholehah, terima kasih karena sudah menitipkan bidadari-bidadari ini padaku ya Allah.' Gumam Fakhi.
"Shodaqallahuladzim," Maryam menutup bacaannya sementara Fakhi masih melamun sejak tadi.
__ADS_1
"Masya Allah! bacaan kamu sempurna, Mar. Iya 'kan Mas?" Kata Nasya sambil menyenggol lengan suaminya.
"Mas!" Panggil Nasya lagi setelah tidak mendapatkan sahutan dari Fakhi.
"Hah? Hm, iya!" Fakhi terlihat salah tingkah.
"Lamunin apa sih?" Tanya Nasya.
"Hm, nggak ada. Ya sudah, ganti pakaian yuk, kalian bukannya mau ngajar nanti?"
"Iya, Mas nanti ke kantor?"
"Iya, sebentar saja kok."
Ketiganya berjalan beriringan, kemudian Fakhi berhenti di tengah jalan. "Ada apa Mas?"
"Ke kamar Nasya saja."
"Ke kamar Maryam saja, Mas."
Mereka mengatakan itu dengan serempak, membuat Fakhi mengernyitkan alisnya. "Kalau bingung ke kamar Azma aja, Kak! Tapi sebelumnya Azma minta uang jajan dulu!" Azma datang secara tiba-tiba membuat semuanya terkekeh geli.
"Huh, dasar!" Fakhi menggelengkan kepalanya lalu mengambilkan dua lembar berwarna biru di dompetnya. "Belajar yang rajin, jangan pacaran!"
"Dih, siapa juga yang pacaran. Noh si Azmi tuh yang hobi mainin cewek." Setelah mengatakan itu Azma pamit karena orang yang dituju sudah berada di belakangnya.
__ADS_1
"Woi, jangan kabur!" Teriak Azmi.
"Hust, nggak boleh gitu!" Tegur Fakhi.
"Ngapain aja tuh Kak Azma datangin Kakak?" Selidik Azmi.
"Cuma ngobrol saja." Sahut Fakhi sementara Maryam dan Nasya menahan tawanya.
"Nggak minta duit'kan?" Selidiknya lagi.
"Menurut kamu?" Bukannya menjawab, Fakhi malah bertanya balik.
Azmi menarik turunkan alisnya, "kayanya sih enggak, soalnya pakai sarung. Ah ya sudahlah, Azmi pergi dulu ya kakak-kakak, assalamu'alaikum!"
"Waalaikumussalam." Sahut ketiganya.
"Dasar, anak sekarang. Dikasih tebak-tebakan saja sudah down." Kata Fakhi sambil berjalan tetapi ia tidak melihat sampai akhirnya ...
'Bruk!
"Maaf," Fakhi meminta maaf setelah menabrak seseorang.
"Nggak pa-pa." Sahutnya, tetapi tangan tersebut masih enggan lepas.
"Ekhm, lanjut dikamar saja. Siapa tahu kita bisa punya anak." Suara itu membuat keduanya salah tingkah.
__ADS_1
"Sya ..." Ucap keduanya membuat Nasya terkekeh geli.
"Ternyata aku nggak salah pilih." Begitulah ucapan Nasya sebelum pergi meninggalkan keduanya.