Begitulah Takdir

Begitulah Takdir
Hukuman untuk Sasa


__ADS_3

Tak terasa hari kian menjadi sore, Sasa sudah sampai di rumah barunya. Mama dan Papa sudah pulang tadi siang ke rumahnya dan kini hanya dirinya sendiri lah di rumah.


Ceklek!


Gus Sakhi pulang ke rumah dan di jumpai nya sang istri sedang tertidur di Sofa. Tanpa sadar senyumnya melukis di sana, "Masya Allah, Indah nya ciptaan Mu ya Allah." Ucapnya.


Cup!


Gus Sakhi mencium pipi Sasa sekilas, gadis itu mnuat hidupnya berubah sekarang. Penantian panjang dengan proses yang begitu mudah membuatnya selalu bersyukur atas nikmat Allah. Maka nikmat tuhanmu manakah yang kamu dustakan?~


Gus Sakhi menggendong tubuh istrinya itu dan membawanya ke kamar, ditaruhnya di atas kasur yang empuk itu dan menyelimutinya. "Sepertinya kamu lelah sekali ya, Humaira."


Menjelang Maghrib Sasa bangun dari tidurnya, ia terkesiap saat melihat dirinya yang sudah di atas kasur. "Siapa yang pindahin?" gumamnya.


Tak lama kemudian ia mendengar suara gemercik air dari arah kamar mandi, ia tersenyum dan langsung mengambilkan baju ganti suaminya.


Ceklek!


Gus Sakhi keluar dari kamar mandi dan membuat Sasa tercengang. Lelaki itu hanya melilitkan handuk dari pinggang saja sampai membuat kotak-kotak itu terlihat jelas disana.


"Humaira!" panggil Gus Sakhi, tetapi Sasa hanya diam.


Beberapa detik kemudian Sasa tersadar dan menggelengkan kepalanya membuat Gus Sakhi tersenyum sendiri.


"Udah ngelihatin nya?" Ucapan Gus Sakhi membuat Sasa malu, pipinya semakin merona. Pantas saja Gus Sakhi memanggilnya Humaira.


"Si ... siapa yang Li ... hatin?" Sasa terlihat gagap menyahutinya.


"Benarkah?" Gus Sakhi semakin mendekat, "Jangan cuma dilihatin saja, di pegang juga boleh kok."


Sasa membulatkan matanya dengan sempurna, "Hah?"


"Mau kemana kamu?" Gus Sakhi langsung mencegah sang istri yang ingin pergi dari hadapannya.


"Mau mandi lah! Gerah nih, Mas." Jawab Sasa santai.


"Siapa yang kasih izin?"


"Mandi pun harus izin?"


"Ya, karena kamu sudah berduaan dengan lelaki tanpa izin dari Mas."

__ADS_1


"Astaghfirullah, itu tuh gak di sengaja. Masa diperpanjang sih?" keluh Sasa sambil cemberut.


"Benarkah?"


"Hm."


"Mana buktinya? jangan teori aja, kamu."


Sasa tampak kesal dengan Suaminya, ia seperti penjahat yang sedang di kerumunin warga saja saat ini.


"Sementang Dosen, jadi harus pakai praktek ya?"


"Mas kan memang Dosen," sergahnya sambil memakai baju.


"Tapi kan itu di kampus, lagian Sasa bukan mahasiswa nya Mas, kan? kita hanya satu kampus dan Sasa juga sudah tamat tuh."


"Tapi kamu belum wisuda, jadi belum ada tuh label lulusnya. Dan kamu tahu tidak kalau menjelekkan ataupun melawan pada Dosen itu harus dapat hukuman?"


Sasa berdecak kesal, "Ck! sebenarnya mau mas apa sih? nyebelin banget nih!"


"Mas mau kamu dapat hukuman."


"Hukuman? baiklah Pak Dosen, Sasa harus apa? angkat kaki? lari lapangan? atau apa nih?"


"Sayang ..." Suara itu sudah terdengar berat sekali.


"Mas, jangan macam-macam deh." Sasa mulai panik.


"Satu macam aja kok, boleh ya?"


"Ta ... tapi ...," belum lagi Sasa selesai bicara Gus Sakhi sudah membuatnya melayang dan membawanya ke atas tempat tidur.


Cup!


Sasa menutup matanya saat ciuman itu mendarat di bibirnya, Gus Sakhi tersenyum melihatnya dan kembali lagi mencium jenjang lainnya berkali-kali. Setelah puas, ciuman itu pun turun ke leher membuat Sasa semakin mendesah dibuatnya. Akan tetapi ******* itu pula lah yang membuat Gus Sakhi semakin rakus berjalan-jalan disana.


Mendaki gunung melewati lembah, sepertinya Gus Sakhi memakai rumus itu sekarang. Sebelum ke gunung Gus Sakhi bermain dulu di lembah, setelah puas baru lah ia mendaki dengan semangatnya.


Bukan hanya itu, menurut Gus Sakhi tak lengkap rasanya jika sudah mendaki dia tidak singgah ke goa. Apalagi dia menginginkan anak yang banyak, pastinya dia akan meninggalkan jejak di dalam goa tersebut. Akan tetapi perjalanan ini tidak berlangsung lama, hanya sekali putaran saja karena mengingat waktu yang sebentar lagi akan memasuki Maghrib.


"Huh huh huh," gumam keduanya dengan nafas tersengal-sengal.

__ADS_1


"Terima kasih, sayang." Ucap Gus Sakhi sambil mengelus rambut sang istri.


Sasa tak mampu menjawabnya, dia hanya mengangguk karena begitu lelah sekarang.


"Kamu mau mandi?" tanya Gus Sakhi, kembali lagi Sasa hanya mengangguk.


"Capek ya?" tanya nya lagi.


"Hm."


"Mandi bareng, yuk?" tawar Gus Sakhi membuat Sasa melototkan matanya.


"Tenang, cuma mandi saja kok." Gus Sakhi mencoba menenangkan sang istri.


Sasa tidak menjawab, akan tetapi Gus Sakhi langsung menggendongnya dan menaruh Sasa di atas bath up.


"Mas mau kemana?" tanya Sasa saat melihat Gus Sakhi ingin pergi.


"Sebentar, mas mau nyala in air hangatnya." Ujar Gus Sakhi.


Setelah itu, Gus Sakhi ikut nyusul di sana. Awalnya Sasa kaget, tapi karena Gus Sakhi sudah berjanji ia pun mencoba untuk tenang.


"Mas sabun in ya?" tawar Gus Sakhi.


"Tapi...,"


"Tenang lah, Humaira. Mas tahu kamu lelah, maafin mas ya?"


"Iya Mas."


***


Sementara di tempat lain, Bima sengaja menunggu pujaan hatinya itu pulang mengajar. Menikahi gadis lebih tua darinya merupakan kejutan terindah baginya. Tak pernah terpikirkan sebelumnya, apalagi gadis itu dulunya sangat membencinya.


"Bim ... Bima ...." Suara bariton itu mengagetkan nya.


"Astaghfirullah, Mbak ..." Bima tersentak kaget.


"Ck! Aku bukan Mbakmu." Kesal Pipa.


"Jadi, siapanya aku?" Goda Bima.

__ADS_1


"Tauk ah, jadi pergi gak?"


__ADS_2