Begitulah Takdir

Begitulah Takdir
Season 2 Eps 5


__ADS_3

#POV Maryam.


Hari ini aku ikut menjemput sahabat sekaligus istri pertama suamiku. Terdengar lucu memang, tapi inilah faktanya kalau aku menikah dengan suami dari sahabatku. Tidak pernah aku fikirkan sebelumnya jika hidupku harus menjadi orang ketiga, tetapi apa yang bisa ku lakukan saat sahabatku terbaring lemah? Aku memang menyukai Gus Fakhi sejak dulu, tetapi bukan berarti harus memilikinya karena aku sadar akan diri dan statusku.


Rumah mewah bernuansa coklat ini sekarang juga menjadi rumahku. Biasanya aku tak segugup ini saat memasukinya, berbeda dengan hari ini. Rasanya aku ingin kembali saja ke pondok karena memang disanalah aku tinggal. Keluarga ini sudah sangat baik padaku.


"Maryam," panggil Nasya.


Aku tersentak, "iya, Sya!"


"Kata Mommy kamar kamu di sebelah Azma." Rupanya, Nasya sedang memberitahu letak kamarku.


"Oh begitu ya? Baiklah aku akan kesana. Kamu istirahat ya, jangan banyak gerak!"


"Kamu sudah seperti Mommy saja!" Nasya terkekeh geli, lalu ia melirik seseorang di balik badanku. "Mas!" Panggilnya.


Mendengar panggilan itu jantungku kembali berdegup kencang. "Iya, Sayang."


"Kamu antarkan Maryam ke kamar ya, malam ini kamu sama Maryam saja." Begitu ucapan Nasya membuat aku dan Gus Fakhi tercengang.


"Hah?" Begitulah respon kami berdua.


"Kompak banget sih," ledek Nasya walaupun aku tahu jika saat ini ia merasaka sedikit sakit.


"Biar Mas antar dulu kamu, baru Mas antar Maryam." Pinta Mas Fakhi, lalu ia melirikku sekilas. "Kamu tunggu di sini dulu ya, Mar!"


"Iya Mas!" Jawabku.


Hampir lima belas menit aku menunggu Mas Fakhi datang, walaupun sedikit lelah tapi aku harus menunggunya karena ini perintah dari suami. Ck, suami!

__ADS_1


"Afwan, lama." Suara bariton itu mengagetkanku.


"Nggak pa-pa Mas."


"Langsung saja, Yuk."


Kami berjalan beriringan, tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut kami. Hingga kami berada di depan kamar yang dulunya adalah kamar tamu. Mas Fakhi membukakan kamar tersebut lalu aku masuk ke dalamnya dan disusul olehnya.


"Kamu istirahat saja dulu, nanti malam saya akan kesini." Singkat Mas Fakhi lalu pergi setelah mengucapkan salam.


Wajar saja lelaki itu dingin padaku, karena aku bukan wanita yang di inginkannya. Pernikahan kami hanya di landaskan karena terpaksa dan demi menyelamatkan nyawa seseorang. Mengharapkan cintanya itu mustahil, tetapi menjadi istrinya yang lain itu sudah menjadi keajaiban untukku yang sejak dulu sangat mengaguminya.


***


Malam tiba, aku sudah berganti baju dengan mamakai pakaian tidurku. Aku berbaring di ranjang sambil membaca buku kesukaanku.


Tiba-tiba ...


"Aaaaaa!" Seseorang masuk ke kamarku dan aku berteriak dengan kencang karena saat ini aku tidak memakai jilbab.


"Afwan!" Katanya, sambil menghadap belakang. Dengan segera aku mengambil jilbabku lalu ku pakai langsung.


"Sudah, Mas. Maaf, aku tidak tahu." Lirihku.


Lelaki itu membalikkan lagi badannya dan berjalan ke arahku setelah menutup pintu kamar. "Maaf saya terlambat, tadi saya memberikan Nasya obatnya dulu."


"I___iya, Mas. Aku hanya terkejut, aku kira Mas nggak jadi datang makanya aku bersantai sejak tadi."


"Ya sudah ayo kita tidur."

__ADS_1


'Deg!


Jantungku semakin tak karuan, tidur seranjang dengan lelaki asing sangat membuatku tidak nyaman sekarang. Aku hanya mengangguk lalu tidur di sisi kanan.


"Apa kamu bisa tidur dengan memakai jilbab seperti itu? Bukalah, disini nggak ada orang juga selain kita."


"Ta___tapi ..."


"Saya tahu, ini nggak mudah buat kamu. Sama, ini nggak mudah juga untuk saya. Tapi kita sudah menikah, jika tidak di mulai sekarang, mau sampai kapan kita merasa canggung seperti itu?"


"Iya, Mas. Aku paham."


#POV Maryam END.


Setelah Maryam membuka jilbab, lelaki itu tercengang. Entah berapa lama ia menatap Maryam dengan perasaan kagum seperti itu. "Masya Allah ..." Itulah ucapan yang dikeluarkan Fakhi setelah melihat Maryam. "Eh, afwan!" Fakhi gelagapan setelah sadar dengan ucapannya.


Maryam ingin mengambil kembali jilbab tersebut tetapi ditahan oleh Fakhi, "begini saja jika di kamar. Saya suami kamu, saya berhak melihatnya."


"Iya, Mas."


"Maryam, malam ini _____"


"Kalau Mas belum siap, aku nggak pa-pa."


"Afwan, tapi ___"


"Aku mengerti, Mas."


Maryam selalu memotong ucapan Fakhi, keduanya saling diam setelah mengatakan itu. Fakhi langsung berbaring dan tak lama kemudian ia tidur dengan lelap. Begitu juga dengan Maryam yang kini tertidur setelah meletakkan bantal guling sebagai pembatas keduanya.

__ADS_1


****


Assalamu'alaikum, mohon maaf kalau belakangan ini Author nggak ada up ya. Oh iya, selamat hari raya Idul Adha 🥰🥰🥰


__ADS_2