Begitulah Takdir

Begitulah Takdir
Menunggu suami pulang


__ADS_3

Akhirnya Gus Sakhi sampai di rumahnya, di lihatnya rumah begitu sepi bahkan lampu saja tidak ada yang hidup di rumah itu.


"Apa sedang mati lampu?" gumam Gus Sakhi.


Akan tetapi saat Gus Sakhi menekan saklar lampunya, ia di kagetkan dengan hidupnya lampu tersebut. "Allahu Akbar, ternyata hidup lampu. Terus, dimana Humaira?" ucapnya yang mulai khawatir.


"Assalamu'alaikum." Ujar nya sambil masuk ke dalam rumah.


Sebelum Gus Sakhi ke kamarnya, ia pergi ke dapur terlebih dahulu, akan tetapi sang istri tak kunjung terlihat. Gus Sakhi tampak frustasi dan akhirnya ia masuk ke kamarnya.


Ceklek!


"Astaghfirullah, Humaira." Lelaki itu terlihat panik dan langsung berhamburan mendekati sang istri yang sedang terbaring di atas sajadah.


"Humaira!" Panggilnya sambil mengguncang tubuh Sasa.


Tak lama kemudian Sasa membuka matanya membuat Gus Sakhi bernapas lega. "Alhamdulillah," ucapnya sambil tersenyum.


"Mas kenapa?" Dengan polosnya pertanyaan itu lolos begitu saja.


"Kenapa kamu bilang?" Gus Sakhi mengerutkan alisnya.


Sasa mengangguk. "Kenapa Mas terlihat panik gitu? ada masalah apa?"


Gus Sakhi terlihat gemas melihat sang istri dan dia langsung mencubit hidung Sasa yang mancung itu. "Kamu penyebabnya, Humaira."


"Sasa?"


"Iya, Mas panik lihat lampu yang masih padam dan kamu tidak menyahuti kedatangan suami kamu ini. Ternyata, bidadari mas lagi tidur toh. Mas kira kamu pingsan tadi."


"Maaf," lirih Sasa.


"Nggak pa-pa. Kamu masih ngantuk gak? tidurnya pindah yuk ke kasur."


"Sasa mau seperti ini saja." Wanita itu semakin mengeratkan pelukannya.


"Mata kamu kenapa sembab?" Gus Sakhi kembali panik saat melihat mata Sasa.

__ADS_1


"Sasa nggak pa-pa, Mas."


"Kamu tidak mau bicara dengan suami kamu?"


Sasa merinding sendiri mendengarnya, suara yang berat dan wajah tidak bersahabat itu membuatnya terdiam membisu.


"Ya sudah, Mas mau mandi saja." Gus Sakhi pura-pura merajuk.


"Mas ..."


"Hm."


"Kapan ya kita punya keturunan?"


"Insya Allah, jika Allah meridhoi pasti secepatnya kita punya anak. Bersabarlah, Sayang."


"Apa Mas menginginkan anak?"


"Tentu saja, Sayang."


"Bagaimana jika Sasa tidak bisa memberikannya?"


"Mas, Sasa takut ...."


"Apa yang kamu takutkan, Humaira?"


"Mas akan berpaling dari Sasa, itu yang Sasa takut 'kan ...."


"Mas nggak akan berpaling darimu, sekali pun Allah tidak mengizinkan kita punya anak. Kamu jangan bicara aneh lagi ya, Mas gak suka."


"Kenapa Mas omelin Sasa sih?"


Gus Sakhi mengernyitkan alisnya, tak biasanya sang istri seperti ini. Moodnya yang suka berubah membuat nya pusing sendiri.


"Kamu kenapa jadi sensitif begini? Hm?"


"Iya juga ya, Sasa kenapa jadi begini?" Bukannya menjawab, Sasa malah ikut bertanya.

__ADS_1


Cup.


Ciuman sekilas itu mendarat di bibirnya Sasa, "Biar kamu diam."


Sasa mengerutkan mulutnya membuat sang suami semakin gemas melihatnya.


Cup.


"Ih, Pak Dosen mesum!" Kesal Sasa.


Cup.


"Ini hukuman buat kamu yang ngatain suami kamu mesum."


Cup.


Kali ini bukan hanya sekedar kecupan, tetapi juga sekalian lu*atan lembut membuat Sasa semakin terhanyut, akan tetapi tiba-tiba Gus Sakhi mengentikan nya.


"Maaf," ucap Gus Sakhi.


"Jangan cemberut begitu, Mas lupa kalau mas belum mandi. Keringat Mas masih lengket, kamu tunggu disini ya, setelah itu kita usaha lagi supaya Dede bayi ada di sini." Sambungnya sambil mengelus perut Sasa, kemudian ia menggendongnya dan membawanya ke atas kasur.


"Duduk dulu ya, baring juga boleh. Tapi, jangan sampai tidur." Gus Sakhi mengelus rambut Sasa sekilas sebelum ia masuk ke kamar mandi.


🌼🌼🌼


Sementara di tempat lain, Fifa baru saja sampai di rumah orang tuanya, sementara Bima dan Bubu sudah berada di sebuah hotel yang tak jauh dari rumahnya Pipa.


Tok! Tok! Tok!


"Assalamu'alaikum." Fifa mengucapkan salam, kemudian keluarlah Mbok Atun yang bekerja sebagai ART di rumah itu.


"Waalaikumussalam," ucapnya sambil membuka pintu.


"Masya Allah, Neng." Sambung nya setelah mengetahui bahwa Pipa lah yang datang ke rumah.


"Bunda sama Ayah dimana, Mbok?"

__ADS_1


"Di kamar, Neng Fifa mandi saja dulu biar Mbok panaskan makan malamnya, Neng belum makan kan?"


"Mbok memang paling pengertian deh." Fifa Langsung masuk ke kamarnya.


__ADS_2