Begitulah Takdir

Begitulah Takdir
Kisah Sapi 3


__ADS_3

"Let's Go!" sahut Abel, tentu saja membuatku kegirangan.


Pulau Mursala merupakan salah satu pulau yang terletak di Samudera Hindia, tepatnya di sisi barat Pulau Sumatera. Konon katanya, Pulau Mursala merupakan pulau terbesar yang terletak di Tapanuli Tengah, Provinsi Sumatera Utara, Indonesia. Keindahan alamnya membuat banyak orang ingin berwisata kesana, apalagi turis yang memang hobi berjalan-jalan.


Perjalanan memang sangat jauh, Sapi dan Abel pun bergantian membawa mobilnya. Hingga akhirnya kami sampai di sini. Sungguh pemandangan yang sangat menyejukkan mata dan pikiran.


"Kita nginap ya?" Tanya Abel,


"Boleh nggak kalau nginap?"


"Selow, aman itu."


Baru saja sampai di hotel, Tiba-tiba seseorang menabrakku. "Aw!" Pekikku.


"Kalau jalan hati hat ..." Sebenarnya aku ingin mengomel, tetapi aku lihat wajah seseorang di depanku ini kenapa membuat jantungku tak karuan,


ya.


"Sorry," lelaki itu tersenyum padaku.


Deg!


Perasaan seperti apa ini?


"Oke!" sahutku, aku memang tidak pandai berbahasa asing.


"Kamu sendiri saja?" Pertanyaan itu mengagetkanku, ternyata lelaki ini Pandai berbahasa Indonesia.

__ADS_1


"Aku sama temanku." Ucapku singkat.


"Nama saya Amarcus, kalau kamu?" ternyata pria ini mencoba untuk kenalan denganku.


"Namaku Safia," tiba-tiba aku mendengar Abel memanggilku dan berjalan semakin dekat kesini, ah syukurlah. "Dan kenalin, ini sahabatku. Namanya Abel!" ucapku saat Abel sudah dekat.


"Hai, senang berkenalan dengan kalian. Jika berkenan kita bisa berteman, bagaimana?"


"Oke!" hanya itu yang ku katakan, ku lirik Abel yang sedang bingung sekarang. "Kalau begitu kami permisi ya, Tuan. Assalamu'alaikum." Ku tarik tangan Abel yang masih bingung itu.


***


Di hotel, Ibuku selalu saja menelpon membuatku tidak tenang sekarang. Dengan penuh keberanian, aku mengirimkan pesan pada Ibu untuk membiarkanku sendiri saja sekarang. Aku memang butuh waktu untuk itu semua.


Aku keluar dari kamar hotel dan menuju air laut yang begitu indah. Aku menangis sekencang-kencangnya, kenapa hidupku begitu menyedihkan sekarang?


"Ka ... kamu ...." Ucapku terbata-bata.


Seseorang itu semakin dekat dan duduk di sebelahku, "Menangis bukanlah jalan untuk menyelesaikan masalah, Safia."


Lelaki itu sangat lancar berbahasa Indonesia, padahal aku mengira nya dia hanya sebatas turis yang ingin liburan.


"Kamu tidak tahu apa-apa tentang hidupku, tuan Amarcus." Jawabku tanpa meliriknya sedikitpun.


"Kalau begitu biarkan saya menjadi salah satu pondasimu jika kamu membutuhkanku, Safia."


Deg!

__ADS_1


Laki-laki itu menatapku, matanya penuh kejujuran. Apa maksudnya?


"Jangan bercanda, Tuan." Hanya itu yang bisa ku katakan.


"Apa kamu meragukan saya? Lihat ke belakang kamu, sudah ada keluarga saya di sana."


Spontan aku melirik ke belakang, benar saja aku melihat sepasang paruh baya sudah berdiri di sana, lalu juga sudah ada seorang wanita yang bisa ku tebak itu adalah adiknya.


"Saya serius, Safia. Jika kamu mau, saya akan melamarmu sekarang juga."


"Mohon maaf, tapi benteng pertahanan kita cukup kuat. Perbedaan itu tak mungkin bisa di satukan, aku Muslim dan nggak mungkin aku menikah dengan non Muslim, tuan." Jawabku dengan hati-hati karena begitu takut jika lelaki ini tersinggung.


"Biarkan kami memeluk agama kamu, Nak." Wanita paruh baya itu mendekatiku. Apa maksudnya?


"Saya tidak pernah melihat putra saya seserius ini dengan wanita, tetapi saat saya melihatnya begitu mengagumimu saya yakin jika ini sudah di takdirkan. Apa kamu mau?" lelaki paruh baya itu mengucapkan dengan serius. Sunggu aku bingung sekarang.


"Aku ...." ucapku terbata-bata.


🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼


Hayoo, kira-kira Sapi langsung percaya gak? dududuuu degdegan nih😂.


Oh iya, othor sekalian mau promoin karya teman othor nih, kemungkinan juga beberapa hari ke depan othor lebih sering promo in punya mereka. Gpp ya, sambil menunggu othor Up, kalau berkenan mampir di karya teman othor juga ya hehehhe.


cekidot👇


__ADS_1


__ADS_2