
Uhukkkkk
Sasa langsung tersedak, pertanyaan suaminya seolah memintanya untuk segera memiliki anak.
"Seberapa di kasih Allah aja mas," Sahut Sasa membuat Gus Sakhi tersenyum senang.
Patul pun keluar dengan membawa minuman dan cemilan, sedangkan Gus Sakha masih mengambil kursi untuk tidur para Baby.
"Minuman datang!" ucap Patul
"Kirain lupa sama anak, biar gue bawa aja nih si kembar. Iya gak mas?" sahut Sasa
"Iya, boleh juga tuh."
"Enak saja, buat sendiri dong." Suara bariton itu mengagetkan penganten baru.
"Lagian Adam dekatnya sama gue!" jawab Sasa.
"Iya, Hawa juga lengketnya sama ana." Sahut Gus Sakhi.
"Ih gak gitu konsepnya atuh." Kesal Patul
__ADS_1
"Kompak bener ya Ummi pengantin baru ini." Sahut Gus Sakha sambil meletakkan kursi bayi itu di depan Gus Sakhi.
"Jadi pindahan hari ini? jam berapa?" sambil memindahkan Hawa yang sedang tertidur pulas di pangkuan Gus Sakhi.
"Jadi, setelah Ashar nanti biar gak terlalu panas harinya."
"Ya sudah, nanti ana bantu."
"Aku mau ikut bantu atuh, tapi teh bantu apa ya?"
"Bantu do'a saja, lagian ngurus dua kurcaci saja keteteran kok ini malah mau bantu gue."
"Ummi buatkan aja cemilan buat beberapa santri nanti yang ikut bantuin, biar Adam sama Hawa di jaga Ummah dan Abah." Pinta Gus Sakha sementara Patul mengangguk patuh.
"Iya, hati-hati manten baru. Jangan lupa gandengan biar gak hilang."
"Seperti ini maksud kamu, Kha?" Goda Gus Sakhi sambil merangkul pinggang Sasa membuat sang empunya melorotkan matanya.
"Astaghfirullah. mengumbar kemesraan itu dosa, Kak!" sahut Gus Sakha walau tampak sekali wajahnya sedikit meringis.
"Dan bermesraan dengan yang halal itu pahala." Sahut Gus Sakhi, sementara Patul dan Sasa hanya menggelengkan kepala.
__ADS_1
🌼🌼🌼
Sore harinya, Gus Sakhi dan Sasa tengah disibukkan dengan acara pindahan nya. Beberapa santriwan juga membantu, The guys sibuk membuatkan makanan di dapur pesantren. Sementara ada beberapa santriwati juga yang ikut berpartisipasi untuk membersihkan rumah yang akan ditempati Gus Sakhi.
Rumah Gus Sakhi yang baru juga terbilang cukup luas, halaman nya saja besarnya dua kali lipat dibandingkan dengan lapangan basket.
Mama dan Papa sudah datang sejak semalam, mereka juga sudah membersihkan beberapa ruangan sebelumnya, kini mereka hanya mengarahkan kepada para santri untuk meletakkan barang milik Sasa.
Barang milik Sasa memang tidak begitu banyak. akan tetapi bersamaan dengan itu, Gus Sakhi juga membeli beberapa pernak-pernik barang seperti lemari, kasur, tv, dan lainnya yang akan di susun di rumah tersebut.
Ternyata, rumah tersebut pun sudah di renovasi oleh Gus Sakhi. Siapa sangka Rumah yang dari luar tampak seperti rumah jadul yang besar, ternyata di dalamnya penuh dengan kejutan. Rumah seperti inilah sebenarnya yang menjadi idaman Sasa dan Gus Sakhi belum memberitahukannya pada sang istri. Ia ingin rumah ini menjadi hadiah pernikahan mereka yang cukup terbilang singkat ini.
"Kamu tahu dari mana Nak dengan seleranya Sasa?" tanya Papa pada menantunya.
"Sakhi gak sengaja ketemu diary Sasa di kampus Pa, dan disana ada foto rumah idamannya. Sakhi kepikiran untuk membuatkan rumah seperti itu untuknya, qadarullah pemilik rumah ini ingin menjual rumahnya. Sakhi rasa rumah ini dan rumah yang di foto nya itu tidak jauh beda, makanya Sakhi memutuskan untuk membelinya."
Mendengar penuturan Gus Sakhi, Papa merasa tersentuh saat melihat ada laki-laki yang begitu menghormati dan menyayangi anaknya.
"Terima kasih, Nak. Sasa itu permata kami dan sekarang menjadi milikmu. Papa titipkan dia padamu, jika kamu sudah tidak menginginkannya lagi tolong antarkan dia padaku, jangan biarkan dia pergi sendiri karena kamu memintanya dengan cara yang baik. Papa percayakan semuanya padamu, anak itu memang nakal tapi dibalik itu semua dia mudah di atur. Karena sejatinya wanita itu seperti tulang rusuk, ia bengkok dan jika kamu paksakan untuk lurus dia akan patah."
"Bismillahirrahmanirrahim, Sakhi tidak akan pernah mengecewakan Allah, Papa, dan istri Sakhi sendiri. Allah yang menuntun kami untuk bertemu, maka titipan Allah ini akan Sakhi jaga dengan betul, bahkan setetes air mata saja tidak akan Sakhi izinkan itu keluar dari wajahnya."
__ADS_1
"Papa percayakan semuanya padamu." Ucap Papa lalu mereka berpelukan.