Begitulah Takdir

Begitulah Takdir
Kembali ke Pesantren


__ADS_3

Ayo ikut aku!" Sapi langsung menarik tangan Sasa sampai Sasa hampir terjatuh.


Kini Sapi sudah berhasil membawa Sasa ke kantin yang berada di Pesantren. Kebetulan sekali pagi inj mereka memang tidak ada jadwal mengajar kecuali Pipa yang nanti siang menggantikan mata kuliah Patul.


"Duduk!" titah Sapi, sementara Patul menahan tawanya.


Sasa pun nurut begitu saja sambil meledek The Guys, "Ciye, pada kepo ya!"


"Pftttt hahahahaha!" tawa Patul pecah sampai membuat Sapi dan Pipa melotot ke arahnya.


"Bagus, adik ipar!" goda Sasa dengan sengaja, sudah kepalang basah pikirnya.


"Ada yang kalian sembunyikan ya?" selidik Pipa sambil memicingkan matanya.


"Oke, gue ceritain tapi traktir dulu minum gue. Haus!"


"Iya pesan ajalah nanti aku bayar." Sahut Sapi yang memang jika sedang ingin tahu sesuatu ia rela membayarkan The guys hanya untuk sebuah informasi.


"Biar gua yang pesanin, mana duit lu?" tawar Pipa, Sapi langsung mengeluarkan uangnya.


Setelah minuman datang, Sasa langsung meminumnya sampai setengah gelas habis. "Lumayan" gumamnya.


"O Mak Jang, haus kali kau bah." celetuk Sapi tak menyangka.


"Kan sudah gue bilang tadi kalau gue haus." sahut Sasa.


Ekhemm


"Dengarin baik-baik ya, gue mau ceritain ke kalian ini "


"Siap Bu guru."


"Pasang telinga masing-masing ya karena gak ada siaran ulang, mengerti?"


"Dih, lu kira ini di kelas?" Pipa berdecak sebal.

__ADS_1


"Udahlah kita turutin saja Pa, Bu guru satu ini emang agak bertingkah." Ujar Sapi membuat Sasa dan Patul terkikik geli.


Akhirnya suasana menjadi hening menandakan semuanya siap mendengarkan ceritanya Sasa.


"Jadi, lelaki itu adalah..... Gus Sakhi! Selamat ya, do'a kalian makbul juga."


"Loh? kok bisa?"


"Silahkan calon adik ipar, loe jelasin! Pasti loe sudah tau, ye kan?"


"Eh?" Patul terkesiap padahal dari tadi dia hanya diam.


"Baiklah, kakak ipar! Aku teh siap membantu. Begini guys, kalian ingat gak Sasa beberapa kali ada tabrakan dengan Pria yang statusnya adalah dosen di Kampus?"


"Oh iya, aku ingat. Trus apa hubungannya?"


"Nah, orang itu adalah Gus Sakhi, alias kakaknya Gus Sakha. Jadi Gus Sakhi itu ternyata sudah menaruh hati pada Sasa sejak pertama kali tabrakan."


"Beneran Sa?" ucap Pipa nggak percaya.


"Tapi, kok bisa?" Sapi juga tidak percaya.


"Gue juga gak tahu Sapi!"


"Ya, Begitulah Takdir. Kita tidak tahu siapa jodoh kita, Allah sudah mengatur sedangkan kita hanya menjalankan saja. Tapi, kamu terima kan ya?" sahut Patul.


"Tebak dong"


"Aku sih yes, gak tahu mas Pipa"


"Dih, lu kira gua lakik lu panggil mas? tapi ya gua juga yes sih!"


"Sama atuh, aku mah yes!"


"Ya sudah, ngapain nanya coba!" ketus Sasa.

__ADS_1


Saat asyik mengobrol tiba-tiba ada yang datang membuat Sasa sedikit risih disini.


"Assalamu'alaikum" suara bariton itu mengejutkan semuanya.


"Waalaikumussalam" jawab mereka serempak.


"Maaf, tapi boleh gabung gak?" ucap lelaki itu yang tak lain adalah Ustadz Alif.


The guys diam dan saling pandang, akan tetapi sedetik kemudian...


"Silahkan" ujar dua orang lelaki yang sangat mirip wajah nya membuat Sasa dan Patul sudah payah menelan Saliva nya.


Ustadz Alif tampak bingung, namun saat Gus Sakha mempersilahkan duduk ia pun mengangguk pasrah.


Untung saja meja mereka cukup besar. Di depan The guys sudah ada Gus Sakha, Gus Sakhi dan Ustadz Alif.


'Pemandangan seperti apa ini?' batin Sasa.


"Oh iya, Ustadz Alif, kenalin ini istri saya. Namanya Lila, beliau anaknya Abah Kiyai" Gus Sakha memperkenalkan istrinya, Ustadz Alif tersenyum sambil mengangguk "Saya Alif, Ning"


"Saya Lila, Terima Kasih daun katuk nya."


"Sama-sama Ning."


"Nah, ini Kakak ana namanya Sakhi dan di depannya ini namanya... Shazfa!" Gus Sakha kembali memperkenalkan Semuanya dan dia sengaja memperkenalkan Gus Sakhi dan Shazfa secara bersamaan.


"Masyaallah, pantas Mirip. Salam Gus, nama saya Alif. dan untuk Bunda Shazfa, kita sudah kenalan kan? Dan ini Bunda Fifa dan Bunda Safia."


"Bunda?" ucap Pipa dan Gus Sakha bersamaan, sedangkan Gus Sakhi sedang menahan api cemburunya.


"Iya, masa kami di panggil Ustadzah? bukannya gak mau ya, tapi belum pantas." sergah Sapi membuat Semuanya mangut-mangut.


"Oh iya, bunda Shazfa kenapa tidak kelihatan beberapa hari ini? kamu masih sakit?"


"Dia sedang ada urusan keluarga kemarin." Kali ini yang menjawab adalah Gus Sakhi.

__ADS_1


__ADS_2