
Tiba lah mereka di sebuah Butik Syariah, Gamis-gamis yang terpajang disana sangat bagus dan indah. Ingin rasanya Pipa membelinya semua, tapi gajinya tak mampu menampungnya. Ya, walaupun masih ada tabungan yang selalu diberikan Bunda dan Ayah.
"Mbak, yang ini cocok gak untuk bubu?" Sambil menunjukkan sebuah gamis berwarna kuning cerah itu.
"Gak! selera kamu payah banget sih Bim. Sebentar, biar aku bantu cari." sahut Pipa sementara Bima tersenyum puas melihat Pipa.
"Nah, ini bagus!"
"Fix ya Mbak?"
"Iya, Sudahkan? yuk lah, kita belum sholat Ashar."
"Astaghfirullah, iya Mbak maaf Aku lupa. Tapi bentar Mbak, tunggu sini."
Tak lama kemudian, Bima datang dengan satu set gamis yang menjadi cinta pertama Pipa sejak tadi datang ke Butik ini.
"Kalau ini gimana Mbak? suka?" tanya Bima sedangkan Pipa tanpa sadar langsung mengangguk.
"Oke, kita beli yang ini juga dan gamis ini buat Mbak. Nanti malam di pakai ya Mbak?"
"Untukku?"
"Iya, hitung-hitung hadiah karena sudah menemaniku satu hari ini."
"Makasih, tapi atas dasar apa? hmm tumben gitu, Kamu menang lotre ya?" Kata Pipa ngasal.
"Iya, iseng-iseng berhadiah. Siapa tahu hadiah nya itu kamu," goda Bima .
"Sorry lah ya, aku bukan barang Isengan."
"Jadi kalau serius mau Mbak? beneran?"
Pipa terkesiap "Eh, bukan begitu konsepnya!"
πΈπ₯πΈπ₯
Malam pun tiba,
__ADS_1
Pipa sejak tadi memang belum balik ke pesantren dan dia sudah pamit pada Abah Kiyai.
Malam ini Abah mengajak mereka untuk makan di rumahnya, dan kini semua sudah pada berkumpul di meja makan.
Pandangan Gus Fathan tertuju pada satu kursi yang tidak di huni itu.
"Kok kayanya kurang lengkap ya" ucap Gus Fathan
"Maksud Gus? gak ada Pipa, gitu?" terang Sasa sengaja, membuat Gus Fathan salah tingkah.
"Udahlah Gus, kenapa juga masih mikirin anak gadis, tuh apa gak Gus tengok (lihat) ada istri disamping Gus sendiri."
Sedangkan indah menunduk menahan malunya karena ia sendiri juga korban dari salah satu wasiat dari suaminya.
"Jangan salah paham dulu atuh, aa teh cuma peduli aja sesama manusia."
"Cukup!" teriak Abah Kiyai membuat semuanya diam tanpa kata
"Kalian ini, sudah besar tapi masih saja ribut"
"Kamu juga A', supaya apa kamu nanya kabarnya Pipa?" bentak Abah
"Abah gak tahu bagaimana bisa kalian berdua sampai menikah, tapi secara agama kalian sah sebagai pasangan. Dan untuk kamu A, kamu juga tahu hukum pernikahan harusnya kamu bisa perlakukan istri kamu sebagaimana mestinya!" tegas Abah.
Gus Fathan terdiam, ia seperti mendapatkan tamparan keras dari Abah. Ia melihat ke sisi kiri dimana ada sang istri sedang menikmati makannya sambil meneteskan air mata, hatinya sedikit tercubit sekarang!
Kini ia menyadari kesalahannya yang begitu fatal. Menyakiti dua hati perempuan sekaligus, apakah dia pantas di maafkan?.
Seusai makan, Gus Fathan melihat istrinya yang langsung tidur dan ia pun menyusul untuk naik ke atas ranjang.
Betapa kagetnya ia, saat melihat sang istri langsung membelakanginya sekarang.
"Dek..." panggil Gus Fathan namun tak di gubris.
"Aa' tahu, adek belum tidur sekarang. Duduk dulu yuk, kita ngobrol dulu!"
"Maaf a', Indah sudah ngantuk."
__ADS_1
"Dosa loh dek, nolak suami!"
Indah berdengus kesal karena kalimat itu selalu saja dikeluarkan Gus Fathan selama mereka menikah. Mau gak mau, Indah langsung duduk dan menghadap sang Suami.
"Ada apa A?"
"Maafin aa ya..."
"Maaf? untuk apa?"
"Karena sudah menyakitimu, aa sadar kalau aa salah. Maaf ya."
"Untuk menikah dengan Aa itu bukanlah kemauan Indah. Jika aa tidak menerima pernikahan ini, Indah ikhlas a', pulangkan saja indah ke rumah paman dan bibi. Walaupun Indah sudah tidak memiliki orang tua tapi Indah masih punya Paman." Lirih Indah.
"Astaghfirullah Dek, ngomong apa kamu?"
"Indah sadar kok kehadiran Indah disini sebagai perusak, iyakan A? toh juga mas Zaidan sudah meninggal, beliau sudah tenang di sana. Indah yakin kalau mas Zaidan akan setuju dengan keputusan Indah."
"Tapi tidak dengan Aa. Kamu itu istri Aa dan selamanya akan tetap jadi istri Aa."
"Terkadang status tidak lebih penting daripada siapa pemilik sebenarnya A. Indah mau tidur dulu, selamat malam."
Hampa? ya, hubungan mereka sedang tidak baik-baik saja. Bukan sedang, tapi memang dari awal hanya ada perang dingin di dalamnya.
Anak Indah kini sudah berusia 1 tahun, ia sudah bisa berjalan sekarang.
"Kia, maafin Amma ya..." lirih Indah pada bocah kecil yang sudah tertidur itu.
πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ
Sambil nunggu othor up, yuk sekalian mampir ke karya teman othor yang tak kalah kerennya, ini diaπππ
Gak ada acara NgaNuπ€π€
Hanya cerita tentang perjodohan anak Sma. Babnya hanya sedikit.
__ADS_1
Kawal sampai Endππ