Begitulah Takdir

Begitulah Takdir
Menuju Halal


__ADS_3

Semuanya mengenal Sapi sebagai orang yang ceria, akan tetapi tak ada yang tahu bagaimana rapuhnya orang yang terkenal ceria itu. Sapi juga sudah menceritakan semuanya pada kedua orang tuanya. Walaupun ujungnya dia akan dimarahin tetapi baginya itu lebih baik daripada orang tuanya tahu belakangan.


Kabar Sasa akan menikah pun sampai di telinga Ustadz Alif, beliau sangat terkejut saat mendengarnya dan menganggap itu hanya isu belaka. Ustadz Alif mencari Sasa namun tak ketemu jua. Tiba-tiba...


Bruk!


"Astaghfirullah," gumam keduanya.


Lalu, mereka mendongak dan sama-sama terkesiap "Maaf"


"Maaf ya Ustadz Alif, saya buru-buru."


"Tidak apa-apa Bunda Safia, saya juga tidak lihat-lihat tadi."


Saat Sapi hendak pergi, Ustadz Alif mencegah nya. "Maaf, boleh saya bertanya?"


"Silahkan Ustadz"


"Apa benar Bunda Shazfa akan menikah lusa?"


Sapi mengangguk "Benar Ustadz"


"Beliau dimana ya?"


"Saya juga kurang tahu karena belum ada jumpa."


"Baiklah, terimakasih. Assalamu'alaikum!"

__ADS_1


"Waalaikumussalam."


Sapi menatap punggung Ustadz Alif yang sudah semakin jauh 'laku keras kau bah" gumam Sapi mengumpat Sasa.


Ekhem.


"Siapa yang laku keras?" suara bariton itu mengagetkan Sapi.


"Hah? siapa? aku siapa? aku dimana? aku kenapa?" sambil pergi meninggalkan orang tersebut yaitu Gus Sakha.


Sapi begitu malu ketika umpatannya didengar oleh orang lain, apalagi yang mendengarnya adalah salah satu korban dari yang di umpatnya. Ingin sekali rasanya dia mengganti wajahnya saking malunya.


Sementara di tempat lain, Sasa sedang membereskan barangnya. Tidak banyak, dia hanya membawa laptop dan beberapa kertas hasil ulangan hari ini. Kali ini, Sasa akan di antar oleh The guys dan Gus Sakha sebagai supir pribadi mereka. Tak lupa pula membawa Adam dan Hawa yang membuat suasana menjadi ramai sekali.


Setelah berpamitan dengan Abah dan Ummah, mereka pun naik ke dalam mobil, dengan Adam di pangku oleh Sasa dan Hawa di pangku oleh Patul. Dari semua anggota The guys sebagai Ante, hanya Sasa yang membuat si kembar menjadi nyaman saat di pangku.


"Harusnya kalian itu gak usah anterin gue, tuh kan jadi ribet. Malah bawa si kembar lagi!" omel Sasa, lalu ia melihat Adam yang sedang ia pangku itu "Iya kan nak? Adam capek kan? ululuuuuuuu cayang Ante."


"Kami kan juga rindu sama kampung kau!" ketus Sapi.


"Iya, sudah lama ya kita gak ke Rumah Sasa," kata Patul sambil menggoyangkan p*ha nya."


"Kalau kalian sih gue gak heran, noh Masa bapaknya Adam dijadikan supir." Ledek Sasa membuat semuanya ketawa.


"Ya mau bagaimana lagi kan yang mau di antar itu calon kakak ipar," goda Gus Sakha membuat pipi Sasa merona seketika.


Sebenarnya jarak dari Pesantren ke Rumah nya Sasa cukup jauh, bisa memakan waktu lima jam, untuk itu Sasa lebih suka naik Kereta Api dan Pesawat dibandingkan naik mobil pribadi.

__ADS_1


Perjalanan cukup melelahkan, tetapi semuanya tampak seperti bahagia. Jam berlalu hingga sampai lah mereka di kediaman Sasa.


Sasa mengajak The guys ke kamarnya kecuali Patul dan Gus Sakha yang memang sudah disediakan oleh Mamanya Sasa dan mereka langsung beristirahat, untung saja si kembar tidak begitu rewel tadi.


Sementara, keluarganya Gus Sakhi baru akan tiba di daerah rumahnya Sasa besok pagi. Mereka tidak mempunyai saudara di sana, untungnya ada keluarga Mama yang rumahnya dapat di pinjam sebagai tempat tinggal keluarga nya Gus Sakhi. Untuk Gus Sakha dia lebih memilih mengikuti sang istri karena begitu repot mengurus si kembar sendirian.


Hari berlalu dan yang ditunggu pun tiba. Sasa sedang asyik di dandani oleh Mbak periasnya.


"Woy!!! bangun!" teriak Pipa pada Sapi yang masih terjaga dari tidurnya.


"Sapi, ih lu ya memang. Banguuuun!" kesal Pipa saat Sapi tak kunjung bangun.


Byurrrrrrrrrr


Pipa kehabisan akal, ia langsung menyiram Sapi dengan air di dalam gayung.


"Eh copot! Ayam siapa yang lepas! Ayam... Ayam... Ayam...," latahnya


"Bhahahhaha!" Pipa langsung terbahak-bahak.


"Kurang asin! Kau kerjain aku ya!" omel Sapi sambil melemparkan bantalnya.


"Makanya, dibangunin jangan kaya mayat hidup lu!"


"Aku tadi lagi mimpi indah ya, bukan kaya mayat hidup!"


"Tauk ah! Gua mau dandan dulu biar cantik."

__ADS_1


"Nanti make up in aku ya."


"Ya sudah, mandi sana!"


__ADS_2