Begitulah Takdir

Begitulah Takdir
The guys


__ADS_3

"Maaf, tapi bisakah Fifa meminta waktu untuk beristikhoroh?"


Semua tampak hening, lalu melirik Gus Fathan sekilas.


"Baiklah, ana tunggu satu Minggu ke depan" Ujar Gus Fathan lalu di anggukin oleh semua. Namun raut wajah ayah Fifa tampak berbeda seketika.


"Tunggu!" Semua mata tertuju pada ayah Fifa


"Tiga hari, hanya tiga hari. Maaf sebelumnya, tapi saya tidak bisa berlama-lama disini, cuti saya hanya 5 hari" ucap Ayah Fifa


Fifa terlihat sedikit berfikir namun ia langsung mengangguk begitu saja.


***


Di tempat lain, Sasa sedang mengajak kedua orang tuanya duduk di taman. Sasa menceritakan apa yang terjadi di kampus selama beberapa bulan kebelakang.


Sasa memang suka menceritakan segalanya, bahkan ia pernah menceritakan Gus Sakha. lalu tiba-tiba..


"Siapa dulu laki-laki yang mau mengkhitbah kamu nak?" Tanya papa Sasa.


uhukk uhukkkk


Sasa langsung terbatuk-batuk, padahal bakso bakar yang ia makan saat ini sungguh lezat, ia bahkan sampai sayang jika menganggurinya.


"Papa...!" tegur Mama


"Papa kan hanya bertanya" elak Papa


"Maaf pa, tapi beliau sudah menikah karena di jodohkan, dan saat ini mereka sudah hidup bahagia menjadi sepasang suami istri" Lidah Sasa berkata seperti itu, namun tatapannya kosong.


"Apa kamu masih mencintainya?" Kali ini yang bertanya adalah mama .


Sasa menatap kedua orang tuanya dengan jengah "Apaan sih ma, mereka sudah bahagia, begitu juga dengan Shazfa, jadi jangan dibahas lagi"


Mama menatap putri kecilnya itu dengan iba, ia juga tak mungkin memarahi anaknya, karena hidup adalah pilihan, begitu juga dengan jodoh, pikirnya.


Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang mendengarnya, ia sedikit meringis karena mereka sedang membicarakannya. Ya, Gus Sakha tak sengaja mendengar semuanya saat ia hendak ke asrama santri laki-laki.


'Maafkan aku Shazfa, namun kau berhak mendapatkan yang lebih dariku, yang tidak pengecut sepertiku dan mau memperjuangkan dirimu' gumam Gus Sakha.


Sementara di tempat lain, Sapi tengah berbicara dengan kedua orang tuanya. Mereka bercanda gurau sampai tiba-tiba seseorang menghampirinya


"assalamu'alaikum" ucapnya

__ADS_1


"Waalaikumussalam" Sahut Sapi dan kedua orangtuanya


"Eh, bang... duduk bang" ucap Sapi membuat orang tuanya bingung. Sapi memang sudah menceritakan kepada orang tuanya bahwa dirinya akan di khitbah, namun ia belum memperkenalkan orang tersebut pada kedua orangtuanya.


"Mak, Pak.. kenalin, ini yang namanya Ustadz Ghibran" ucap sapi memperkenalkan


Ustadz Ghibran mencium tangan nya "Ghibran Bu, Pak"


"Jangan kau panggil aku ibu, mamak aja biar akrab" celetuk Mak Sapi dengan logat bataknya.


Ustadz Ghibran tersentak, ternyata beginilah calon mertua yang harus ia hadapi, nada bicaranya cukup membuat senam jantung ,pikirnya.


"Baik, Mak"


"Haa gitu kan ganteng" ucap Mak sapi sampai membuat Ustadz Ghibran menahan tawa nya.


"Jadi Cemana? apa Kelen mau gini-gini aja?" Tanya Pak Sapi


"Bapak.....! nanya nya di filter dikit kek, langsung to the point aja " keluh Sapi


Ustadz Ghibran pun tersenyum "Maafkan saya Pak, Mak ... karena saya belum sempat datang, tapi Insya Allah, bulan depan saya akan datang ke Medan untuk bersilaturahmi sekaligus mengkhitbah Safia"


Mamak dan bapaknya Safia tersenyum senang mendengarnya kemudian bapaknya Safia menepuk pelan calon menantunya itu "aku harap gak kau kecewakan kepercayaanku"


"Boleh mamak nanya nak?"


"Orang tua kamu dimana? apa di kota ini juga?"


Ustadz Ghibran tersenyum "Maaf beribu maaf Mak, Orang tua saya sudah lama meninggal, saat saya masih berumur 8 tahun, sejak saat itu Umi dan Abi mengangkat saya sebagai anak. Saya juga tidak tahu punya saudara kemanakan atau tidak, karena setau saya orang tua saya dulunya anak perantauan dan mereka berasal dari Lampung"


"Waduh.. maaf nak, mamak gak maksud buat ngebahas ini, maaf ya nak "


"Tidak masalah Mak " ucap Ustadz Ghibran dengan lembut.


***


Jika ketiga sahabatnya Patul sedang membahas pasangan, beda halnya dengan Dirinya dan Gus Sakha, malam ini mereka terlihat canggung kembali. Pasalnya, baru hari ini mereka membuka kado pernikahan mereka . Walaupun hanya mengundang orang terpenting saja, tapi kadonya lumayan banyak, bahkan beberapa santri juga memberikan mereka kado.


Gus Sakha yang melihat Patul begitu menggodanya ia langsung mendekati sang istri dan mencium pipinya sekilas


cupp


"Aa'....!"

__ADS_1


"Kenapa sayang?"


Patul menggeleng, "Tidur yuk A"


"Kalau tid*rin kamu , boleh?"


"Haaa?"


Gus Sakha tersenyum tipis melihat istrinya, membuat ketampanannya bertambah berkali lipat, istrinya lucu sekali pikirnya.


Gus Sakha mulai mencium seluruh wajah Patul, sungguh hal yang menegangkan bagi Patul. tiba-tiba saja ia mendorong bidang dada suaminya .


",Ada apa?" tanya Gus Sakha dengan suara berat


"Emh anu, haaa iya bagaimana kita buka kado aja? kasian A kadonya di anggurin"


Gus Sakha mendengus kesal, pasalnya ia sudah sangat ingin menerkam istrinya saat ini, tapi dilihat dari wajah istrinya seperti sangat menginginkan untuk membuka kado.


Akhirnya dia mengalah, toh masih bisa di lakukan setelah ini, pikirnya. "Ya sudah, ayo kita ke sebelah sana"


Gus Sakha berjalan sambil menggenggam tangan Patul dan duduk di dekat balkon karena memang kadonya di taruh sekitar sana.


Awalnya mereka membuka amplop, kadang tertawa kadang juga bahagia saat melihat isinya.


Tiba lah membuka kado, Satu persatu mereka buka, tak lupa mengucapkan syukur dengan apa yang mereka dapatkan, namun tiba-tiba...


"Masyaallah gede banget kotaknya A" ucap Patul dengan antusias


"Wah, ini sih dari sahabat-sahabat kamu" ucap Gus Sakha


"Benarkah? ayo kita buka" sahut Patul.


Namun seperti zonk, karena mereka menemukan kotak lagi di dalamnya . Gus Sakha menahan tawa sedangkan Patul menaikkan alisnya tanda tak mengerti


"Kok ngeselin ya?" ucap Patul


"Hahaha! sabar sayang, ayo di buka lagi... Semangat!" sahut Gus Sakha


Patul pun membuka kotak itu lagi dengan malas, seperti dugaannya kalau ia akan bertemu dengan kotak lagi yang lebih kecil.


"Ini isinya apa sih? " gerutu Patul


"Apa mau Aa aja yang buka?" tawar Gus Sakha , dan Patul memberikannya.

__ADS_1


Yang benar saja, Gus Sakha membukanya dengan sangat sabar, saat ia membuka kotak itu maka berisi kotak lagi yang lebih kecil, entah sudah kotak keberapa yang ia buka, hingga akhirnya.....


"Haaaaaaah?" teriak mereka Bersama.


__ADS_2