Begitulah Takdir

Begitulah Takdir
Bau, Mas!


__ADS_3

"Ya Allah, apa salah hamba." Gumam Gus Sakhi. Lalu Gus Sakhi melirik sang istri, "Sayang?"


"Hm"


"Mas punya ide!"


"Apaan?"


"Mas akan mandi!" terang Gus Sakhi membuat Sasa mengacungkan jempolnya.


"Bagus itu." Sahut Sasa semangat.


"Tapi, ada tapinya nih." Kata Gus Sakhi sambil tersenyum.


Sasa mulai merinding sekarang, ia merasakan seperti akan terjadi sesuatu padanya. "Tapi apa?"


"Kamu yang mandikan mas, gimana?"


"Hah???"


"Ayolah Sayang ..."


"Enggak!"


"Ya sudah kalau begitu, kamu harus terbiasa dengan wangi mas yang akan memeluk kamu."


"Ih bau, Mas!"


"Kalau begitu, ini perintah. Kamu gak boleh nolak!" Gus Sakhi menarik tangan Sasa dan mengajaknya ke kamar mandi. Sampai di kamar mandi, Sasa hanya mematung melihat kotak-kotak itu. Suaminya sudah gila, pikirnya. Bagaimana mungkin lelaki itu akan beneran mandi lagi padahal baru saja dia selesai mandi.


"Sudah belum lihatin nya?" Ucapan Gus Sakhi membuat Sasa salah tingkah sekarang.

__ADS_1


"Si--apa yang li---hatin?" Sasa tampak gugup dan membuang pandangan ke sembarang arah.


"Mas itu tampan ya?"


"Percaya diri sekali Anda!"


BYUUURRRRR


Sasa langsung menyiram Gus Sakhi pakai shower dan terjadilah perang siram menyiram bak anak-anak yang bermain dengan teman-temannya.


"Nakal kamu ya!" Kata Gus Sakhi sambil menggelitik Sasa.


"Bhahahha! haha ... hehe ... ampun Mas ... haha ... ampun!" Kata Sasa membuat Gus Sakhi akhirnya menghentikan ulahnya.


Melihat Sasa yang juga sudah basah akhirnya mereka berdua mandi bersama.


Setelah mandi, Sasa kembali mencium aroma badan Gus Sakhi. "Kok masih Bau?" sambil di tutupnya hidungnya.


"Bauk dari mana sih, Sayang? Mas malah semakin wangi sekarang."


"Allahu Akbar. Kamu ini kenapa sih? huh? Kita pakai sabun yang sama kalau kamu lupa." Gus Sakhi terlihat kesal dengan Sasa.


Sasa tampak berfikir dan dalam hati kecilnya ia juga membenarkan ucapan suaminya itu. "Besok antarin ke dokter THT ya, Mas? Sasa takut!"


"Iya Sayang. Ya sudah kamu tidur gih." Ujar Gus Sakhi, lalu ia mengambil bantal dan selimut membuat Sasa tampak kebingungan.


"Mau kemana, Mas?"


"Mas tidur di luar saja jika kamu tidak nyaman."


Cup!

__ADS_1


Gus Sakhi mencium sekilas keningnya Sasa dan mengelus ubun-ubun nya. "Selamat tidur, Sayang."


Sasa masih melongo dan menatap kepergian sang suami, hampir saja Gus Sakhi membuka pintu kamarnya, Sasa sudah mencegahnya.


"Tunggu!" Sasa menyusul Gus Sakhi, dan tiba-tiba ...


Grep!


Sasa memeluknya. "Jangan pergi, Sasa gak bisa tidur tanpa Mas."


"Hm benarkah?"


Sasa mengangguk.


"Bujuk dulu dong."


"Kaya anak kecil saja, sudah tua juga. Ih!" Omel Sasa membuat Gus Sakhi tersenyum.


Tanpa aba-aba Gus Sakhi langsung menggendong istrinya dan menaruhnya di atas kasur, kemudian ia menyusulnya dan memeluk Sasa.


"Bagaimana? masih Bau?" Goda Gus Sakhi.


"Udah enggak." Jawab Sasa sambil tersenyum.


Keduanya saling berpelukan kemudian tak lama kemudian Gus Sakhi menutup matanya.


Sasa memandang wajah Gus Sakhi sambil tersenyum, di elusnya pipi sang suami itu dan sesekali di kecupnya dengan singkat.


"Mas, kamu tahu ... kamu adalah orang yang tak pernah aku fikirkan sebelumnya. Terima kasih, Mas! Kehadiranmu mengubah takdirku, mengubah diriku dan mengubah masa depanku. Aku tak tahu bagaimana aku nantinya jika bukan kamu yang menjadi suamiku. Benar katamu, cinta datang karena telah terbiasa. Aku sudah mencintai mu, bahkan sangat mencintai mu. Cinta ini membuatku takut akan kehilanganmu. Aku tak tahu bagaimana aku, jika tanpa mu. Aku ...." Ucapan Sasa terpotong.


"Mas gak akan pernah meninggalkanmu!" Suara bariton itu mengagetkan Sasa, bagaimana bisa orang yang sedang tertidur itu bisa menyahutinya.

__ADS_1


"Mas gak tidur?" pekik Sasa.


Gus Sakhi membuka matanya.


__ADS_2