
"Warga baru, ya?" Tanya wanita tersebut sambil menenteng kain yang baru saja ia cuci.
"Oh enggak, kami hanya sedang berkunjung ke rumah Kakek kami. Kebetulan anak-anak ingin mandi di kali, katanya." Sahut Pipa.
Sasa yang merasakan ada orang lain selain mereka pun ia langsung terbangun, "Ada apa, Pi?" tanya Sasa dengan menguap.
"Ya Allah, Sa. Ngagetin aja lu, ngomong-ngomong nih ye nguapnya di kondisikan dong!" protes Pipa sambil menggelengkan kepalanya.
"Hah?" Sasa yang setengah sadarpun tercengang, dia bingung sekarang. Lalu matanya tertuju pada wanita tersebut yang sedang tersenyum ramah padanya. "Eh, hai Mbak." Sekarang Sasa mengerti maksud dari Pipa tadi.
"Hai, Mbak. Nama saya Ratih. Saya tinggal di atas, dekat jembatan tua itu. Jika berkenan, boleh mampir kerumah saya, Mbak."
Ratih tersenyum ramah, Sasa memperhatikannya dan sedikit takjub dengannya. 'Cantik,' gumam Sasa dalam hati.
"Oh iya, terima kasih, Mbak Ratih. Insya Allah kami mampir, nanti." Jawab Sasa tanpa sadar.
"Ohiya, Ratih belum kenalan dengan mbak-mbak, nih. Namanya..."
"Kenalin, nama gue Shazfa," wanita itu memotongnya.
"Kalau gua Fifa." Sambung Pipa.
"Baiklah, Mbak Shazfa, Mbak Fifa. Ratih duluan ya, Permisi."
Sasa menatap Ratih sampai tak terlihat lagi, begitu juga dengan Pipa. "Sa, kok gak ucap salam ya?" Pipa menggelengkan kepalanya.
"Dasar gemblung, loe gak lihat tuh kalungnya tadi?"
__ADS_1
"Kalung?"
"Iya, Pipa. Kalungnya menandakan dia Non Muslim. Dah ah, gue laper, ada cemilan nggak?"
"Dasar bumil, ada noh tinggal wafer."
🌿🌿🌿
Setelah sholat, semuanya kembali ke pondok. Gus Sakhi tersentak karena merasakan ada yang aneh hari ini. Gus Sakha yang menyadarinya langsung menepuk punggung Gus Sakhi. "Ada apa, Kak?"
Gus Sakhi tersentak, "Astaghfirullah, ngagetin saja kamu, Kha!" Gus Sakhi mengelus dadanya.
"Ya Afwan, tapi ana lihat Kakak kaya ada pikiran begitu dari tadi, cerita sama ana siapa tahu ana bisa bantu."
"Ikut ana!" titah Gus Sakhi.
Gus Sakhi mengajak adik kembarnya itu ke tepi sungai di bawah rindangnya pepohonan besar dan tinggi. Tempatnya terlihat sunyi sekali bahkan tidak ada yang datang kesana hari ini kecuali Ratih.
"Kakak kenapa sih?" Ternyata, Gus Sakha tidak sabaran.
"Ana teringat sama wanita itu." Lirih Gus Sakhi.
"Wanita itu? maksud Kakak wanita yang pernah membuat Kakak hampir pindah agama?"
"Allahuakbar, kalau ngomong jangan ngadi-ngadi ya, ente! Bukan pindah agama, tetapi iman ana mulai goyah saat itu."
"Ck! Samo wae itu!" Gus Sakha berdecak saking kesalnya dengan kakaknya itu. "Kak, jujur ana sangat menghormati Kakak. Tapi Kakak juga nggak lupa kan kalau Kakak sudah punya istri?"
__ADS_1
"Astaghfirullah, ente ngira ana ingin berpaling dari Humaira? Nggak akan pernah, Sakha."
"Afwan, ana bukan maksud untuk mengira-ngira tapi ente juga harus sadar siapa ente sekarang, Kak. Walaupun ente itu Kakaknya ana, tapi kalau ente sekali saja menyakiti Shazfa, ente harus tahu akibatnya."
Belum sempat Gus Sakhi menjawab ucapan adiknya, tiba-tiba terdengar suara anak kecil memanggilnya. "Daddy! ayo ke pondok, Fakhi lapar."
"Iya, Sayang."
Gus Sakhi mengikuti Fakhi menuju pondok. Begitu sampai, ia langsung di suguhi pemandangan yang tidak enak di lihat. Baginya, jika Sasa marah padanya, itu seperti di campakkan ke angkasa. Gus Sakhi sangat mencintai istrinya, sampai tidak ingin melukai hatinya. Tetapi, apa yang dilakukannya sekarang? bahkan dia tidak sadar dengan apa yang sudah ia lakukan saat ini.
"Humaira," panggil Gus Sakhi pelan.
Cup!
Gus Sakhi mencium sekilas kening Sasa, ia sangat merindukan bawelnya Sasa hari ini.
"Sayang, kamu kenapa? cerita sama Mas." Ucapan Gus Sakhi membuat Sasa meliriknya sekilas.
'Glek!"
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
Hai semua, apa kabar? jangan lupa dukung othor yaaaaa.
Oh iya, kembali lagi nih, othor mau rekomen lagi punya teman othor. Cekidot👇
__ADS_1