
"kholas itu artinya sudah atau selesai. Ya sudah, kalian masih mau disini atau----"
"kita lanjut"
Kami pun berjalan ke arah gedung dibelakang yang hanya disekat oleh dinding dan pintu..
NGEK
Pintu itu sedikit terbuka, lalu dibuka lebar oleh Ustadz Sakha. Sudah berdiri pengurus yang menjaga santriwan di ambang pintu termasuk Ustadz yang tadi mengantarkan Sapi.
"assalamu'alaikum"
"waalaikumussalam"
" Afwan menganggu, disini ana membawa teman-teman ana untuk sedikit merepotkan antum dan alangkah lebih baiknya biar mereka saja yang berbicara, silahkan dek eh maksudnya ukhti "
Kenapa aku merasakan sakit saat Ustadz Sakha merubah panggilan itu? apa itu juga yang dirasakan Ustadz Sakha tadi?
"Shazfa...!" panggilnya lalu aku tersadar dari lamunanku.
"ah iya" sambil menggarukkan kepala. Sapi yang melihat itu langsung menyenggol tanganku "kau kenapa sih?" lalu aku menggeleng.
"ekhem, baiklah perkenalkan nama saya Shazfa dan ini teman saya bernama Safia, kami dari Universitas Abc dan sudah semester akhir"
"Jangan panjang-panjang perkenalannya" kata Ustadz Sakha tiba-tiba. Nih orang kenapa sih?
"Hm Afwan, baiklah tujuan kami kesini adalah ingin meminta bantuan kepada kalian semua agar turut membantu kami dalam menyelesaikan skripsi kami"
Mereka semua mangut-mangut, lalu ada satu santriwan menaikkan tangannya tanda ingin bertanya.
"Afwan, kalau boleh tahu apa yang bisa kami bantu ya ?"
Kali ini yang menjawab adalah Safia "hmm begini, di tangan kami ada beberapa lembar pertanyaan yang jika kalian semua berkenan untuk menjawabnya kami sangat amat berterimakasih untuk itu"
Mereka mengangguk dan kami pun memberikan kertas itu. Selama menunggu aku dan Ustadz Sakha hanya bisa berdiam-diaman. Entah apa yang membuat mulut kami menjadi bungkam begini.
Sementara Sapi sedang berbicara dengan Ustadz tadi, loh kenapa jadi Sapi yang senang disini?.
ekhemm
Aku berdehem, lalu Ustadz Sakha hanya menyodorkan air mineral kepadaku.
"terimakasih" ucapku
"hm" .
cuma Hm? sesingkat itu?
"Gus, mau nanya boleh?"
"tanya saja ukhti"
"kok ukhti?"
"antum bilang ini kawasan pondok ana, berarti ana harus bersikap seperti ini bukan?"
jlebbbb
__ADS_1
Sakit sebenarnya yang kurasakan, ada apa ini? yang dikatakannya benar namun kenapa hatiku seperti ditusuk?
"jadi bertanya?" sambil melirikku sekilas
"Gus Sakha kenapa sih?"
"kamu yang kenapa, enak gak digituin? enggak kan? sama!"
"kok jadi sewot" gumamku
"nanti kita bicara"
***
Pagi menjadi siang, akhirnya kuesioner kami sudah terbagi dan terisi semua. secepat ini kah?.
Kini kami sudah berada di Mushola dan duduk di terasnya. Aku, Pipa, Patul dan Sapi merapikan kuesioner kami dan sedikit membaca apa yang telah dijawab oleh mereka sementara kedua Ustadz masih diam dan setia menemani kami.
"Syukron Gus Sakha sudah membantu kami", kata Patul.
"na'am, jangan sungkan Ning Lila"
heh apa ini? kenapa Patul boleh memanggil Gus? sedangkan aku? ah entahlah.
Patul menyadari itu, "ada apa sha?" dan aku menggeleng.
Ustadz Fathan juga melirik Gus Sakha "ente sehat kha?"
"Alhamdulillah" sahut Ustadz Sakha
"Pi, ada apa sih?" tanya Pipa
"kok nanya aku?"
"karena lu yang bareng mereka"
"lagi ada perang dingin" dan mereka hanya ber oh ria.
Kami pun sholat Dzuhur dalam mushola secara bergantian, karena mengingat yang kami bawa sangatlah banyak, bukan takut di ambil santri tapi ya bisa aja kena angin kan?
Setelah sholat aku memilih menyendiri di taman sambil memegang kertas tadi dan laptopku. Menyendiri adalah hal yang paling ampuh saat ini untuk menghilangkan kegundahan hati.
ekhemmm
deheman itu masih ku abaikan, aku sudah tahu siapa pelakunya.
"assalamu'alaikum " ucapnya membuatku mau gak mau ya harus mengeluarkan suara.
"waalaikumussalam" singkatku sambil tangan masih berkutat dengan laptop.
"makan dulu, marah juga butuh tenaga"
"saya tidak lapar Gus"
"hanya pohon yang bergoyang disini, tak ada siapa-siapa. ayo diambil makan ini, kamu jangan gitu dek, kamu nyiksa aku namanya ini"
"nyiksa? memangnya aku apain?"
__ADS_1
"kamu nyuekin aku sejak tadi pagi, salah Abang apa dek? hm?"
"kenapa Abang tersiksa?"
"emh anu, itu...."
"anu itu anu itu, apaan sih. dah ah Abang balik aja lagi kesana . bukankah tidak boleh berduaan seperti ini?"
"kamu makan dulu, ini ambil"
"letak disitu aja bang, aku masih sibuk"
"boleh kah kita berkomitmen?"
degggg!
pertanyaan apa itu?
"komitmen? maksud Abang?"
"mohon maaf dan mohon ampun, karena selama ini Abang memiliki rasa denganmu dek, tapi sungguh ini diluar dari kehendak Abang"
Sementara aku masih menunggu kelanjutan dari ucapannya.
"Abang akan menunggu kamu sampai kamu lulus dek"
degggggg
"kenapa diam saja?"
"emh anu, itu..." ucapku gelagapan, sementara aku tidak tahu harus menjawab apa.
"dek, Abang hanya manusia biasa, Abang juga lelaki yang normal"
Aku menatapnya , ada kesungguhan diwajahnya, tapi apa yang harus ku katakan?
"maaf, tapi aku tidak tahu harus jawab apa"
"Tak perlu dijawab, kamu hanya perlu mendengar dan percaya dengan ucapan Abang."
***
Dua hari sudah kami di pesantren ini, aku semakin tidak ingin pergi dari sini, padahal tugasku sudah hampir selesai.
Kedua orangtua Ustadz Sakha emang sangat menyayangiku , tapi aku tak tahu apa aku disetujui menjadi menantunya atau malah sebaliknya.
"ada apa?" tanya ustadz Sakha tiba-tiba
"astaghfirullah, kalau datang itu ucap salam Gus" sambil ku pegang dadaku yang sedikit terkejut tadi.
"maaf, tapi kenapa manggil Gus lagi?"
"ini daerah rumahmu Gus, udahlah jangan ngajak berantam aja ih"
Ustadz Sakha terlihat cekikikan mendengar itu. Lalu tak lama kemudian yang lain juga ikut menyusul kesini.
"ah kau dicariin kemana-mana juga rupanya disini" kata Sapi tiba-tiba.
__ADS_1