
Malam harinya, Sasa sudah berada di rumah baru mereka. Mama sama Papa juga sudah masuk ke kamar, Kak Arya sudah pergi kerumah teman nya. Kini, di ruang tamu hanya tersisa Gus Sakhi dan Sasa yang sibuk dengan aktivitas masing-masing. Gus Sakhi sedang mempersiapkan bahan untuk mengajarnya di Kampus sedangkan Sasa sedang memeriksa tugas yang diberikannya kepada anak-anak di sekolah.
"Humaira ...." Gus Sakhi mendekati sang istri yang sibuk dengan lembaran kertas itu.
"Iya Mas?"
"Sudah selesai belum? Masuk kamar yuk."
Deg!
Mendengar kata masuk kamar membuat Sasa merinding sendiri, tragedi kemarin malam saja masih membekas dirasanya dan dia tak ingin melakukan itu hari ini.
"Mas ...." Sasa akhirnya bersuara setelah beberapa menit tak menjawab ucapan suaminya itu.
"Hm?"
"Tidurnya di sini aja, yuk." Ucapan ambigu Sasa membuat Gus Sakhi mengernyitkan alisnya.
"Kenapa di sini?"
"So ... Soalnya ...."
"Astaghfirullah, Humaira." Gus Sakhi mengerti atas kegelisahan sang istri.
"Kamu mengira kalau Mas itu ...." Sambungnya dengan memberikan isyarat lewat jari, kemudian Sasa mengangguk.
"Pfftt," Gus Sakhi menahan tawanya lalu ia menggenggam tangan Sasa, "Malam ini kita istirahat aja, Sayang. Tapi gak tahu kalau malam besok. Mas juga sudah lelah, masuk kamar yuk. Mas ada kejutan buat kamu!"
"Kejutan?"
Gus Sakhi mengangguk, Sasa memang belum melihat seperti apa bentuk kamarnya. Dia sangat menyukai dekorasi rumah nya sampai melupakan bentuk kamarnya seperti apa.
"Sebentar ya Mas, Sasa rapikan dulu kertasnya." Pinta Sasa.
Setelah menunggu Sasa merapikan kertasnya, Gus Sakhi mengambil kain sebagai pengikat di mata Sasa membuat dirinya terkesiap melihat itu.
"Kenapa pakai di tutup segala sih!"
"Kalau tidak di tutup, nanti gak jadi kejutan dong, Sayang."
__ADS_1
Akhirnya Sasa mengangguk patuh, "Sudah berani ya Mas panggil Sayang?"
"Kenapa harus takut? Kamu istri mas, dan mas sangat menyayangi kamu sejak dulu."
"Mas jangan buat Sasa terbang dong, Sasa gak punya sayap nanti kalau jatuh gimana?"
"Mulai sekarang kamu sudah punya sayap!"
"Maksudnya?"
"Karena mas lah yang akan jadi sayap untuk melindungi kamu." Sambil menggendong Sasa.
"Mas, ih! nanti Sasa jatuh beneran nih."
Cup.
"Biar gak bawel!" Sahut Gus Sakhi membuat Sasa terdiam. Antara senang dan malu bercampur aduk sekarang.
Tap! tap! tap!
Suara langkah kaki Gus Sakhi menaiki anak tangga terdengar jelas, apalagi saat ini ia bukan hanya berat badannya saja yang ia tampung, melainkan berat badan Sasa yang langsing itu. Akhirnya mereka sampai di depan kamar, Gus Sakhi menurunkan Sasa dan membuka penutup matanya itu.
"Kita sudah sampai, kamu baca Bismillah lalu buka pintunya." Pinta Gus Sakhi. Sasa mengangguk patuh, ia pun membuka pintunya dengan perlahan.
"Masya Allah," ucap Sasa yang langsung berhamburan memeluk Gus Sakhi.
"Bagaimana? Kamu menyukai nya?" tanya Gus Sakhi yang membalas pelukan istrinya.
Sasa mengangguk "Sasa suka mas, suka banget. Ini tuh kamar idaman Sasa, ya Allah kenapa bisa sama persis gini sih? Alhamdulillah."
"Berarti suami kamu ini bukan seram, tapi hebat dan romantis. Iya kan?"
"Eh?"
"Ngaku aja!"
"Sejak kapan pandai ngegombal?"
"Apa itu termasuk gombal? jujur, mas gak tahu soal itu soalnya mas kan gak pernah pacaran."
__ADS_1
Sasa langsung cemberut, suaminya seperti ingin mengejeknya sekarang.
"Kok cemberut?" sambungnya lagi tanpa dosa.
"Jadi maksud mas, sementang Sasa pernah pacaran Sasa udah ahli soal gombal menggombal, iya? gitu?"
"Eits! kapan coba mas ngomong kaya gitu?"
"Gak ngomong gitu tapi maksudnya gitu, iya kan?"
"Enggak tuh."
"Ternyata bukan hanya seram, tapi ngeselin. Dah ah, malas Sasa."
Sasa hendak meninggalkan Gus Sakhi, namun langkahnya terhenti saat Gus Sakhi tiba-tiba merangkul pinggangnya.
Grep!
"Mas!" ketus Sasa.
"Kesal sama suami itu dosa loh!"
"Biarin!"
"Apalagi kalau ngomongnya sambil cemberut begitu, syurga jadi jauh tau gak."
"Terus Sasa harus bilang, ampun mas .... ampun ...., gitu?"
Cup.
"Biar syurga nya jadi dekat, jangan bawel lagi! Mas tadi hanya bercanda, Sayang."
"Tapi Sasa gak sayang tuh sama Mas, Wleee ...."
"Biarin!"
"Kok di biarin? Dasar Dosen aneh!"
"Karena mas tahu, semua akan berubah pada waktunya. Jujur, mas tahu kalau kamu belum sepenuhnya menerima mas di hati kamu. Akan tetapi mas juga tahu, kamu akan berusaha untuk itu. Humaira, cinta memang tidak bisa di paksa tetapi cinta akan datang karena terbiasa. Kamu mau jadi istri mas saja mas sudah bersyukur banget. Untuk saat ini mas memang nggak mau berharap lebih, tapi untuk ke depannya di hati Humaira ku ini, hanya ada mas dan anak-anak kita."
__ADS_1
"Mas ...." Mata Sasa berkaca-kaca, ia tak dapat membendung perasaannya lagi.
'Aku bersyukur karena menjadi istri kamu, Mas. Aku janji, kamu lah yang terakhir.' Batin Sasa.