
Beruntunglah Sasa karena di saat yang bersamaan, Patul dan Pipa datang dan menjemput anak-anaknya. Awalnya mereka menolak, tetapi karena di beritahukan jika mobil milik Gus Sakhi sudah penuh akhirnya mereka pun menyetujuinya.
"Huh, ini nggak bisa di biarin, Mas." Lirih Sasa.
"Sabar, Sayang. Mereka masih kecil, butuh arahan dari kita semua." Gus Sakhi meyakinkan Sasa.
Di dalam mobil, terlihat Fakhi dan Mevlan sangat akrab, Fakhi memang terlihat dingin sama seperti Daddynya, tetapi dirinya juga punya sisi kelembutan juga.
"Fakhi, Mommy mau nanya sama kamu." Sasa melirik anaknya dari kaca depan.
"Ada apa, Mommy?"
"Menurut kamu, Kak Hawa gimana?"
"Gimana apanya, Mom?"
Salah Sasa sebenarnya yang bertanya tidak jelas begitu pada anaknya, wajar saja bocah 5 tahun itu tidak tahu apa-apa.
"Hm, Sayang ... maksud Mommy kamu itu apa kamu sayang dengan Kak Hawa?" kali ini yang bertanya adalah Gus Sakhi.
"Ya sayang lah, Dad." Fakhi menghentikan ucapannya membuat Daddy dan Mommy nya saling pandang, beberapa detik kemudian, "Kak Hawa kan sepupu nya Fakhi, mana mungkin Fakhi membencinya." sambungnya.
Sasa dan Gus Sakhi menghela napas panjangnya, "Huh, syukurlah ..." gumam Sasa.
"Syukur kenapa Mom?" bocah kecil itu benar-benar bingung sekarang.
"Ah enggak pa-pa, Sayang. Kamu nggak mau tidur, Nak? perjalanan masih jauh lho."
__ADS_1
πΌπΌπΌ
Setelah perjalanan panjang, akhirnya mereka sampai di sebuah wahana yang begitu banyak. Para orang tua harus lebih Hati-hati lagi, terutama Gus Sakha dan Patul yang kini tengah membawa tiga orang anak.
"Adam, Hawa. Dengarin Ummi, jangan jauh-jauh dari Ummi dan Abi, mengerti?"
"Siap Ummi," mereka memberikan hormat seperti sedang upacara bendera.
"Ummi, Hawa boleh bareng sama Abbasy eh maksudnya Fakhi nggak?"
Patul mengernyit alisnya, "Kenapa harus sama Fakhi, Nak? tuh ada Annasya, kamu main sama Annasya saja, ya?"
Wajah Hawa berubah menjadi cemberut, entah apa yang ada dipikiran bocah tersebut. "Kamu kenapa, Sayang? Kenapa kamu belakangan ini pengen dekat terus dengan Fakhi?" Patul merangkul anaknya yang tengah cemberut itu.
Hawa menjadi salah tingkah, "Nggak pa-pa, Ummi. Hawa cuma pengen main dengan Fakhi."
"Hawa, jujur sama Ummi. Apa kamu menyukai Fakhi?" Patul bertanya dengan lembut.
Hawa terlihat salah tingkah, "Tidak Ummi."
"Kamu jangan bohong sama Ummi dan Abi, Nak." Kali ini yang bicara adalah Abi, ia memandang wajah anaknya itu lalu mengelus pucuk kepala Hawa. "Sayang, dengarkan Abi. Kamu itu masih kecil, tidak boleh jatuh cinta apa lagi sama sepupu kamu sendiri, Nak."
"Bukankah Abi pernah ceramah kalau jatuh cinta itu fitrah dan hal yang wajar? lalu kenapa Hawa tidak boleh merasakannya?"
Deg!
Patul dan Gus Sakha terdiam, mereka di kagetkan dengan ucapan Hawa, anak itu yang dulunya pendiam dan sangat cuek kenapa mendadak berubah begini?
__ADS_1
"Hawa, apa kamu sadar dengan yang kamu ucapkan, Sayang?" Patul bicara sangat lembut dan bersusah payah mengontrol emosinya.
"Abi berharap ini semua hanya mimpi, Hawa." Ucap Abi, lalu meninggalkan Hawa bersama Patul.
Patul setia menemani putrinya. Sebenarnya Patul sangat kecewa dengan Hawa, tetapi sebagai seorang ibu dia juga harus menemani buah hatinya agar tidak salah jalan.
"Ummi, apa Hawa membuat Ummi kecewa?" pertanyaan itu lolos di mulut Hawa, ternyata bocah kecil itu merasakan kegundahan hati Ibunya.
πππππππππππππππ
Hai kakak-kakak.....
kira-kira Hawa kenapa ya?????
Sebentar, othor tanya dulu dengan Hawa.
Sambil nunggu othor up, othor punya rekomen lagi nih, cekidotπ
BLURB:
Tiga orang gadis yang dulunya tinggal di sebuah panti asuhan yang sama. Entah kebetulan atau tidak ketiga gadis tersebut mempunyai inisal nama yang sama yaitu Kania, Keysa dan Kirana. Mereka sering disebut TRIPLE'K.
Namun setelah beranjak dewasa ketiganya memutuskan untuk menjalankan hidupnya lebih mandiri, dengan hanya tinggal di kontrakan kecil mereka menjalaninya dengan suka cita.
Namun pada suatu kejadian mereka bertemu dengan pria kaya, mereka terjebak dalam suatu perjanjian.
__ADS_1
Bagaimana nasib mereka kedepannya?