Begitulah Takdir

Begitulah Takdir
Kisah Sapi 2


__ADS_3

Tok! Tok! Tok!


Ku ketuk pintu rumah yang sudah lama ku tinggal itu, sebenarnya aku juga tidak ingin pulang ke sini lagi. Aku takut untuk ketemu dengan si Ucok, Mantan yang sudah berkhianat itu.


Ceklek!


"Non Fia! masuk Non ..." Terlihat Bi Asih yang membuka pintu, wanita paruh baya itu sudah lama bekerja di rumah ku.


"Assalamu'alaikum, Bi. Apa kabar?" tanyaku sambil masuk ke dalam rumah.


"Waalaikumussalam, Non. Alhamdulillah, Baik. Non sudah makan belum? bibi siapkan lah dulu makanan untuk Non ya?"


"Ah gak perlu repot, Bi. Tadi juga sudah makan kok di bandara. Oh iya, Mamak sama Bapak kemana?"


"Ibu lagi arisan, kalau Bapak masih belum pulang kerja."


"Oh ya sudah, Fia ke kamar dulu ya."


Ku langkahkan kakiku ke dalam kamar, ah kamar yang sangat ku rindukan ternyata semuanya masih sama dan masih tersusun rapi di sana.


Baru saja ku mengerjapkan mata tiba-tiba pintu kamarku terbuka dan sudah ada Ibuku di sana.


"Dari jam berapa sampainya?" Ibuku langsung menghampiriku.


"Baru kok, Mak. Ini mau golek (baring) dulu sebentar." Sahutku yang memang merasa lelah.

__ADS_1


"Duduk dulu, Mamak mau ngomong samamu." Wanita paruh baya itu menunjukkan ekspresi seriusnya, sungguh sangat menyeramkan.


"Iya, Mak."


"Safia, apa kau gak ada kepikiran mau nikah?"


Hah? pertanyaan seperti apa itu? ku usap wajahku ini dengan kasar, walau aku belum memiliki calon tetapi aku juga masih normal sebagai perempuan.


"Ada, tapi calonnya belum ada. Nanti lah ya, Mak. Ku cari dulu. Milih suami bukan kaya milih kuaci, Mak." Walau sedikit menantang tetapi apa yang ku katakan itu benar adanya.


"Nggak usah milih kau, biar Mamak sama Bapakmu aja yang milih karena pilihan mu itu gak ada yang beres Mamak tengok. Nanti malam dandan lah yang cantik, Mamak mau kenalin kau sama anak kawan Mamak."


"Tapi, Mak ..."


"Jangan di bantah!"


Tiba-tiba terlintas di benakku untuk pergi ke sebuah pantai yang berada di batubara. Jarak nya memang sedikit jauh dari rumah, kali ini aku benar-benar butuh liburan, pikirku.


Ku ambil ponsel dan ku cari nama Abel di sana, teman semasa kecilku. Entah dia masih ingat denganku atau tidak, tetapi ku yakin dia bisa membantu ku saat ini.


In call


"Bel, Kau dimana?"


"Jemput aku, sekarang."

__ADS_1


End call.


Benar saja, Abel menjemputku dengan mobilnya. Abel pamit pada ibuku dan beliau berpesan untuk pulang sebelum jam lima. Dengan mudahnya, Abel meng iyakan ucapan Ibu. Padahal, Abel juga tidak tahu akan aku ajak kemana sekarang.


Di dalam mobil, aku hanya bisa merenung. Tatapan kosong itu menandakan bahwa aku tidak baik-baik saja. "Fia, kau kenapa sih?" Abel membuka obrolan setelah keheningan terjadi.


"Aku mau di jodohkan! Tolong aku, Bel. Aku gak mau." lirihku meminta.


"Apa yang bisa aku lakukan, Fia? ah kau ini."


"Bawa aku ke pulau Mursala!" ucapan itu lolos begitu saja.


Ckiiittttt!


Abel menghentikan mobilnya dengan mendadak, aku sebenarnya terkejut tetapi aku tahu jika itu salahku.


"Kau udah gila, ya?"


"Tolong lah, Bel. Aku butuh hiburan, kepalaku mumet kali ini."


"Kau benar-benar menyusahkan ku. Bukannya datang ngasih oleh-oleh ini malah ngajak perang. Bentar 'lah ku telpon dulu lakikku."


Abel mengambil ponselnya dan menelpon suaminya, setelah beberapa saat .... "Bagaimana?" Aku begitu penasaran sekarang.


🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼

__ADS_1


Hai, hari ini othor double Up ya buat gantiin yang kemarin. Semoga suka❤️


__ADS_2