
"Dih, jangan GeEr kau! Bukan kami yang beli, tapi tuh Ustadz Alif. Tadinya dia mau ikut tapi katanya mamaknya mau ke dokter jadi ya dia pulang." Jelas Sapi, sementara Sasa hanya ber oh ria.
"Kau mau makan apa? Biar ku bukain."
"Tumben?"
"Karena aku mau mintalah!" ucapnya dengan bangga.
Sasa dan Pipa terbahak-bahak.
"Ya sudah, ambil aja kalau mau." Sahut Sasa.
"Sa, sebenarnya lu kenapa sih? kok bisa tiba-tiba demam gitu?"
Deg!
"Iya Sa? kenapa?"
Kedua sahabatnya itu terus saja bertanya dan membuat kuping Sasa semakin panas rasanya.
"Oke, gue cerita!" Sasa membuat kedua sahabatnya diam seketika.
"Sebenarnya ada yang ngajak gue Ta'aruf," kata Sasa sambil menjeda ucapannya dengan menarik nafas dalam.
"Alhamdulillah," suara itu berasal dari balik pintu, bukan dari Pipa dan Sapi.
Ketiganya menoleh "Patul?"
"Kunaon? kok pada kaget begitu?" protes Patul Gak kalah ikut kagetnya.
"Kau udah kaya jelangkung aja, bukannya ngucap salam malah ngagetin." Omel Sapi sambil menepuk jidatnya.
"Stop! Sudah ya, jangan berdebat lagi. Sini Tul gue ceritain karena gak ada siaran ulang. Deuuuh pusing gue punya sahabat abstrak gini!" Sasa memijat pelipisnya yang tidak sakit itu.
Patul pun mengangguk patuh dan duduk di sebelah Pipa.
"Kemarin, gue dapat inbox dari orang yang jelas dia itu laki-laki ya kan gak mungkin dong dia cewe terus ngajak ta'arufan?" Niatnya Sasa ingin mengajak bercanda, tetapi sahabatnya masih fokus mendengarkan ceritanya.
"Nah, terus dia ngirim CV ke gue. Jujur gue kaya pernah lihat tuh orang, tapi gak tahu dimana. Alamatnya juga kaya pernah gue dengar." Pipa dan Sapi terkesiap mendengarnya sedangkan Patul tampak biasa saja.
Sasa tidak menyadari jika Patul sudah mengetahui semuanya.
Flashback On
__ADS_1
Saat Sasa dan yang lainnya pulang, Gus Sakha menghampiri istrinya yang sedang menyusui Hawa.
"Hawanya sudah tidur, Sayang?"
"Sudah atuh! ini mau Lila taruh di tempat tidurnya, Mas."
Setelah itu, ia menghampiri sang Suami lagi.
"Ada yang mau di omongin ya Mas?"
Gus Sakha mengangguk lalu mengambil jemari sang istri dan mengajaknya untuk duduk di balkon kamarnya.
"Ada apa Mas?"
"Yang kamu dan teman-teman kamu do'akan itu tersemogakan," ujar Gus Sakha membuat Patul merasa heran.
"Maksudnya Mas?"
"Kalian menginginkan Kak Sakhi berjodoh dengan Shazfa, bukan?"
Tanpa aba-aba Patul langsung mengangguk dan menunggu kelanjutan pembicaraan dari suami.
"Ternyata, Kakak menyukai Shazfa selama ini."
"Apa?"
"Hah?"
Gus Sakha diam, wajahnya terlihat kecewa sekarang, untung saja Patul tidak menyadari itu.
"Tapi Mas, bagaimana bisa kakak menyukai Shazfa? jumpa saja mereka tidak pernah!" sergah Patul.
"Kamu kenapa gak bilang sama Mas kalau kakak juga mengajar di Universitas kalian?" bukannya menjawab, Gus Sakha malah bertanya kembali.
"Afwan, Lila lupa." lirih Patul
"Sudahlah, tidak papa." sambil merangkul sang Istri.
"Kakak pernah beberapa kali berjumpa dengan Shazfa, akan tetapi pertemuan itu tanpa di sengaja dan hanya karena tertabrak saja," Gus Sakha baru saja menjeda kalimatnya tapi Patul memotongnya kembali.
"Tertabrak?"
"Iya, tabrak badan gitu loh. Apa itu ya namanya Mas gak paham..."
__ADS_1
"Oh iya iya, Lila ngerti," Patul tampak berfikir dan sedetik kemudian "Ah iya Mas, Lila baru ingat Sasa pernah bilang memang beberapa kali tubrukan dengan laki-laki dan dia juga pernah bilang kalau laki-laki itu Dosen di kampus juga. Ya ampun, jadi orangnya itu Kak Sakhi?"
Gus sakha mengangguk. "Dunia ini sempit ya ternyata."
Patul memeluk sang Suami seakan tahu apa yang dirasakannya. "Mas kecewa dengan takdir?"
"Maksud kamu?"
"Menangis lah tapi berjanji sama Neng, kalau ini adalah tangisan terakhir."
"Demi Allah, mas ridho Sayang. Mas Ridho kalau kamu takdir Mas."
"Dan Neng juga tahu bagaimana susahnya melupakan. Tidak apa-apa mas. Lila yakin kita bisa, pelan-pelan saja Mas."
'Aku mengerti Mas dengan apa yang kamu rasakan, Karena aku juga merasakannya. Kak Sakhi itu cinta pertamaku, Mas! Tapi sepertinya takdir sedang mempermainkan perasaan kita. Aku ikhlas, Apalagi sekarang kita sudah memiliki Adam dan hawa,' gumam Patul.
Flashback off.
"Tul, loe kok diam aja sih? loe tau sesuatu ya?" selidik Sasa.
"Eh? engga kok." elak Patul
"Anak-anak mana?" tanya Pipa
"Lagi sama a' Fathan dan teh Indah." sedangkan Pipa hanya ber oh ria.
"Jadi jawaban kamu apa atuh?" tanya Patul pada Sasa.
"Gue masih ragu."
"Sudah istikhoroh kan?"
"Sudah Patul, tapi ya tetap aja kan gue belum jumpa orangnya."
"Kamu pasti pernah berjumpa dengan orangnya!" tegas Patul membuat Sasa curiga.
"Tahu dari mana loe?" sambil menyipitkan matanya.
💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕
**Jangan lupa dukung Author terus ya...
Oh iya ini othor juga mau rekomendasiin punya teman othor lagi. Kali ini karyanya Momy Ida dengan judul Pernikahan Kontrak Sang CEO .
__ADS_1
cekidot👇**