Begitulah Takdir

Begitulah Takdir
Season 2 Eps 11


__ADS_3

Suasana kembali tegang, apalagi saat ini Zaydan harus berhadapan langsung dengan Patul dan Gus Sakha, orang tua yang ia tunggu kedatangannya sejak kemarin. "Maaf nih, tapi kalau boleh tahu, tujuan kamu kesini malam-malam begini apa ya, Nak?" Patul membuka obrolan, menbuat Zaydan semakin gemetaran.


"Saya _____" Zaydan menarik napasnya, "Maaf, Gus. Ana nervous." Sambungnya.


"Memangnya ada apa, Nak Zaydan? Sepertinya ini serius!"


"Bismillahirrahmanirrahim, saya ingin menikahi putri Umi dan Gus Sakha. Untuk itu saya minta restu dari Umi dan Gus saat ini."


"Menikahi? Maksud kamu, Hawa?"


"Iya, Umi."


"Apa kamu sudah membicarakan ini pada Hawa, Nak?" Kali ini Gus Sakha yang bertanya, ia tidak ingin membyat Zaydan kecewa karena lelaki ini adalah guru terbaik di pesantren mereka.


"Sebelumnya ana minta maaf, Gus. Karena ana sudah jatuh cinta pada Hawa sejak ana masih di mesir." Gus Sakha dan Patul tercengang mendengarnya.


"Awalnya ana ingin mengungkapkan ini saat ana baru datang disini, tetapi saat ana mengatakan itu semua pada Hawa, ia tidak menyukai ana. Ia menolak saat itu, ana tidak menyerah tetapi ana masih menyebut namanya dalam do'a sampai saat ini. Alhamdulillah, tadi siang ana sudah bicara dengan Hawa, ia mengatakan jika dirinya bersedia menikah dengan ana."


"Alhamdulillah, namun alangkah baiknya kita bertanya langsung pada Hawa." Kata Gus Sakha, lalu ia melihat patul sekilas. "Umi, tolong panggilkan Hawa."


"Baik, Abi."


Lima belas menit kemudian, patul kembali dengan membawa Hawa. Gadis itu sudah cantik dengan gamisnya, ternyata gamis itu adalah pemberian dari Zaydan.


'Masya Allah,' gumam Zaydan dalam hati.


'Ekhem!

__ADS_1


Gus Sakha berdehem, "belum halal, anak muda!" Goda Gus Sakha membuat Zaydan salah tingkah.


"Hawa, duduk Nak." Titah Gus Sakha. Setelah Hawa duduk, ia melanjutkan ucapannya. "Baru saja Nak Zaydan mengutarakan maksud dan tujuannya. Bagaimana menurut kamu? Apa kamu menerima Zaydan?"


'Deg!


Setelah dua menit terdiam, Hawa menundukkan kepalanya. "Hawa bersedia, Abi."


'Alhamdulillah!


***


Acara khitbah dadakan itu berlangsung dengan lancar, saat ini Hawa sedang duduk di meja kerjanya. Memorinya berputar saat Zaydan tiba-tiba menemui nya tadi siang.


'Tin! 'Tin!


Hawa tersentak kaget, "astaghfirullah, Mas Zaydan!"


"Assalamu'alaikum, Hawa. Ayo naik!"


"Waalaikumussalam, Mas. Afwan, Hawa naik taksi saja!"


"Ada yang mau ana bilang, ayo naik!"


Hawa mengangguk, sudah berulang kali bahkan sampai berpuluh kali ia menolak ajakan Zaydan. Lelaki itu terus mendekatinya layaknya seorang laki-laki yang sedang memperjuangkan cintanya.


"Mas mau ngomong apa?"

__ADS_1


"Ana tahu, kamu pasti sudah bosan mendengarnya. Tetapi nama kamu masih selalu ada dipersetiga malam ana. Hawa, ana tahu kamu tidak mencintai saya. Tetapi cinta bisa datang karena terbiasa. Mencintai setelah menikah itu lebih dahsyat rasanya dibandingkan cinta tak halal."


"Maaf, Mas. Tapi Hawa ___"


"Ana akan menunggu sampai saat itu tiba, Hawa. Ana akan bersama kamu sampai kamu bilang cinta sama ana. Ana akan berusaha mendapatkan hati kamu setelah kita menikah."


"Apa Mas bersedia menikah dengan orang yang tidak mencintai Mas?"


"Ana bersedia, Hawa."


"Apa Mas bersedia dengan wanita yang tidak menyebut nama Mas di dalam doanya?"


"Demi Allah, ana bersedia."


"Masya Allah," dalam hati Hawa ia berdecak kagum dengan Zaydan.


"Bagaimana, Hawa?"


"Silahkan temuin Abi dan Umi."


"Alhamdulillah ..." Zaydan mengucapkan syukur kepada Allah, ia begitu bahagia saat ini. "Hawa, jika kamu memang benar-benar menerima ana, tolong pakai gamis ini nanti malam. Jujur, ana sudah mempersiapkan ini sejak pertama kali ke Pesantren ini. Ada membelinya di mesir bersama Fakhi dulu."


"Fakhi?" Dengan spontan Hawa begitu bahagia mendengar nama itu.


Zaydan mengangguk, "Maaf, Mas." Ia menyadarj kesalahannya.


"Nggak pa-pa, sebentar lagi ana akan mengubah ekspresi itu menjadi biasa saja. Setiap kamu melihat ana maka jantung kamu akan bergetar. Akan tiba nanti waktunya, Hawa."

__ADS_1


"Terima kasih, bersabarlah menunggu hari itu tiba." Sahut Hawa.


__ADS_2