Begitulah Takdir

Begitulah Takdir
Mevlan dan Zahra


__ADS_3

Langit cerah menggambarkan perseteruan dua orang remaja yang jika bertemu sudah seperti kucing dan tikus. Zahra sejak dulu sangat suka duduk di taman buatan khusus untuk melihat Air pancur milik keluarga Gus Sakhi. Pohon yang teduh mengelilingi sekitar taman.


"Pucuk di cinta, ulam pun tiba. Dicariin ternyata disini, ngapain sih Dek?"


Zahra tersentak, mendengar suaranya saja dia sudah males. "Ada apa sih, Bang? Bukannya ucapin salam." Ketus Zahra.


"Yee, sembarangan. Abang udah ucap salam, tapi kayanya Adek Abang yang cantik jelita ini sedang melamun."


"Oh iya, ya? Ya sudah, Waalaikumussalam." Singkat Zahra.


Lelaki itu semakin dekat dan duduk di samping Zahra. "Ada apa?" tanyanya.


"Aku lagi suka sama seseorang, tapi kayanya nggak mungkin deh."


"Orangnya itu Abang ya?, ekhem!"


"Dih, pede banget. Mata aku tuh masih normal, Bang."


"Ya allah, retak hati Abang, Dek."


"Lagian, Bang Mevlan ngapain kesini sih? Kaya nggak ada kerjaan aja."

__ADS_1


"Abang memang nggak ada kerjaan, karena kerjaan Abang cuma satu, yaitu jagain Zahra. Kan Zahra calon istri Abang. Hmm ... Pede aja dulu!" Sambil tersenyum tampan.


Seorang paruh baya kebetulan sedang melewati tempat itu, ia langsung mendekati mereka, dan tiba-tiba ...


"Aw, sakit Bu!" pekik Mevlan.


"Dasar bocah semprul, Bubu cari-cari malah asyik di sini. Kau di cari itu sama Baba, bantuin Baba cari es kristal sana, biar dingin otak kau dulu." Omel Bubu sambil tangannya masih menjewer telinga Mevlan.


"Yang kuat Bu, yang kuat ... Jangan di kasih ampun!" Zahra tersenyum sambil mengacungkan jempol.


"Ah, demi Adek, Abang rela di jewer terus sama Bubu." Mevlan masih saja berusaha menggoda Zahra.


"Nggak usah mau Zahra sama si Mevlan, Tidurnya ngorok." Sahut Sapi.


"Aish, Bu ... Bongkar aja aib anak sendiri, nggak masalah, bongkar aja terus ..." keluh Mevlan.


Zahra terkekeh sambil menatap kepergian ibu dan anak itu.


Sebenarnya, Zahra tidak menyadari jika dirinya sudah jatuh cinta pada bocah tengil itu. Sejak dulu, hanya Mevlan yang bisa membuatnya merasa jauh lebih baik. Bahkan, Adam saja sebagai kakak tidak mampu, begitu juga dengan Hawa.


Sedangkan Mevlan, rela di apain saja asalkan melihat Zahra tersenyum. Walau terdengar seperti sedang bermain-main, tetapi Mevlan memang sangat mencintai Zahra. Mungkin bagi wanita itu Mevlan hanyalah sahabat terbaiknya, lain hal dengan Mevlan yang selalu berharap lebih.

__ADS_1


'Aku akan selalu menyebut namamu di setiap sujudku, Fatimah Az-Zahra.' Gumam Mevlan.


Sementara Sapi menatap miris putra semata wayangnya itu. Ia sangat mengetahui jika putranya mencintai Zahra. Sapi teringat pada buku harian Mevlan yang pernah ia tulis dan sembunyikan di balik meja belajarnya.


*Fatimah Az-Zahra ...


Kau tahu, aku rela menjadi batu ...


Di saat kau sedih, kau bisa mencampakkanku, melemparku, bahkan kau dapat membuangku.


Disaat kau terjatuh, aku rela sebagai pengganjal mu agar kau tidak sampai ke jurang.


Bahkan, di saat kau bahagia pun, aku rela tak kau anggap ada.


Besar harapanku mungkin sama besarnya dengan rasa kesalmu saat melihat tingkahku.


Tapi, ketahuilah ... Namamu sudah ku selipkan di setiap sujudku.


-Mevlan Al Wahab*


Begitulah isi curahan hati anak lajangnya Sapi. Tanpa sadar, tangan Sapi mengelus pucuk kepala Mevlan. "Jadi anak lajang itu harus kuat. Kau itu juga berdarah Batak, jadi harus semangat dan pantang mundur, ngerti nggak kau?"

__ADS_1


Mevlan mengerutkan alisnya, "Kenapa sih Bu? Aneh kali."


"Kau menyukai Zahra, bukan? Nggak usah bohong sama Bubu," Ucapan Sapi membuat Mevlan terdiam.


__ADS_2