
Semua orang sudah berkumpul di ruang rawat Nasya, acara pernikahan akan segera dimulai. Tidak ada kebahagiaan disana. Hanya ada tangisan, tangisan dan tangisan! Pernikahan yang terjadi seperti sebuah paksaan yang mengharuskan semua terjadi. Menikahi sahabat istri sendiri itu terdengar konyol, tetapi Fakhi harus melakukannya demi menyelamatkan nyawa Nasya.
Fakhi menarik napasnya dalam-dalam, "Saya terima nikah dan kawinnya Maryam Fahira binti Alm. Muhammad Ibnu dengan mas kawin seperangkat
Alat sholat Tunai."
"Sah!" Ucap saksi tanpa ekspresi.
Nasya tersenyum senang sembari mengucapkan Hamdallah. "Terima kasih, Mas."
Sedangkan Fakhi hanya menjawabnya dengan anggukan.
Nasya menatap Maryam sambil tersenyum, "selamat ya, Mar."
"Semoga kamu bahagia, Sya." Lirih Maryam.
Maryam memang mengagumi Fakhi sejak dulu, tetapi ia sadar jika lelaki itu milik sahabatnya. Maryam hanya mencintainya dalam diam. Bahkan Nasya tidak mengetahui itu. Saat tahu jika dirinya ingin dijodohkan dengan Fakhi, entah apa yang dirasakan Maryam. Satu sisi ia senang dan sisi lainnya ia sedih karena harus berbagi dengan sahabat sendiri. Menjadi yang kedua bukanlah impiannya.
"Sekarang kamu siap-siap ya, sebentar lagi akan dipindahkan ke ruang operasi." Ucap Fakhi pada Nasya.
Setelah ijab qabul selesai, penghulu pulang dan yang lainnya berpencar. Fakhi duduk di kursi sambil memijat pelipisnya, sedangkan Maryam pergi ke kantin sebentar.
"Mas." Panggil Nasya.
"Ada apa?"
"Sebelum Sya masuk ruang operasi, apa Mas ridho dengan Sya?"
"Mas sangat meridhoi kamu, Sya. Kamu harus berjuang untuk sembuh ya, janji sama Mas."
Nasya mengangguk, "sekarang Sya jadi lega kalau Allah mencabut nyawa Sya."
"Kamu jangan bilang gitu lagi, Mas nggak suka!" Tegas Fakhi.
'Cup!
Fakhi mencium bibir istrinya, tetapi bertepatan dengan itu Maryam masuk ke ruangan dan melihat semuanya. Fakhi melepaskan ciuman tersebut dan menoleh ke arah Maryam dengan rasa bersalah.
"Ma___ maaf, a __aku nggak lihat kok. Ta___tadi pintunya nggak ketutup sempurna makanya aku langsung masuk saja." Ucap Maryam gelagapan, "kalau gitu silahkan dilanjut lagi, aku permisi."
__ADS_1
"Tunggu!" Ucap Gus Fakhi, lalu ia mendekati Maryam dan memegang tangannya. "Kamu nggak perlu keluar."
"Ta__tapi ..."
"Iya, Mar. Kamu disini saja." Nasya ikut bersuara, ia tersenyum walaupun hatinya sedikit sakit melihat sang suami memegang tangan sahabatnya.
"Ya sudah, oh iya ini aku belikkan teh hangat buat kalian." Maryam mendekati Nasya, "ini kamu minum ya Sya." Lalu ia mendekati Gus Sakhi sambil memberikannya ke tangan Gus Sakhi. "Ini buat Gus Sakhi."
"Panggil saya Mas. Saya ini suami kamu juga, jadi jangan panggil Gus seperti sebelumnya."
"I __iya, Mas." Jawab Maryam gelagapan.
***
Saat ini, Nasya sedang berada di ruang Operasi. Semua merasa degdegan selama operasinya berlangsung. Begitu juga dengan Fakhi saat ini ia sedang mondar-mandir, hatinya sangat gelisah karena ia sangat takut jika operasinya gagal dan Nasya meninggalkannya. Ia tak bisa membayangkan itu semua. "Astaghfirullah," gumamnya.
Seseorang mendekati Gus Fakhi, "Mas, Nasya akan baik-baik saja."
Gus Sakhi tersentak, bahkan ia sempat menjauhkan badannya sedikit. Ia belum terbiasa jika ada wanita lain menyentuhnya. "Maaf, saya nggak maksud." Ucap Gus Sakhi.
"Nggak pa-pa, aku mengerti." Lirihnya walaupun ada sedikit sakit yang ia rasakan.
Tak lama kemudian, lampu di depan ruangan tersebut hidup dan menandakan bahwa operasi telah selesai dilaksanakan. Mommy Sasa dan Bunda Pipa terus saja menangis disana.
"Mas, tenang dulu." Maryam kembali menenangkan suaminya.
"Alhamdulillah, operasinya lancar dan saat ini istri Bapak sedang dalam efek bius. Sebentar lagi akan di pindahkan ke ruang rawat."
"Alhamdulillah," sahut semuanya.
"Baiklah, saya permisi dulu ya. Mari semuanya!"
***
Seminggu sudah berlalu, Bunda Pipa juga sudah kembali ke negaranya karena Ayah Bima tidak memiliki banyak cuti. Walaupun berat tapi inilah kenyataan yang harus ia hadapin. Nasya juga akan pulang ke rumah hari ini karena kondisinya semakin membaik. Selama seminggu ini Gus Fakhi tidur di rumah sakit, begitu juga dengan Maryam yang pulang ke pondok.
Maryam adalah anak yatim piatu yang di adopsi oleh Abah sejak kecil. Maryam juga tidak memiliki keluarga bahkan kerabat terdekat kecuali almarhum Abah. Dulu Maryam memiliki seorang Nenek tapi sayang beliau juga sudah dipanggil sang pencipta. Mommy Sasa sudah mengajaknya untuk kerumah tetapi wanita itu tidak mau, ia sangat tidak enak hati jika harus ke rumah tersebut tanpa suaminya.
Sementara Patul dan Gus Sakha saat ini sedang menunaikan Ibadah Haji, jadi ia tidak tahu apa pun yang terjadi di rumah selama seminggu ini.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum," Fakhi kembali ke ruangan setelah izin ke kantin sebentar.
"Waalaikumussalam." Sahut Sya sambil tersenyum.
"Kamu sudah siap untuk pulang, Sayang?"
"Siap, Mas." Senyum itu menjadi pudar, karena ia memikirkan sesuatu.
"Kenapa wajahnya begitu? Kamu mikirin apa?"
"Maryam!"
Fakhi mengerutkan alisnya, "Maryam?"
"Apa Mas sudah menyiapkan kamar untuknya?"
"Astaghfirullah, Mas lupa Sya." Fakhi benar-benar lupa karena terlalu memikirkan Nasya.
"Sudah Mommy siapkan, Nak." Suara itu membuat mereka terperanjat kaget.
"Mommy!"
"Assalamu'alaikum," Sasa datang dan memeluk mereka.
"Waalaikumussalam. Mommy kenapa nggak bilang mau datang?"
"Bukan cuma Mommy, tapi Mommy juga bawa istrimu yang lain."
Maryam masuk ke ruangan sambil tersenyum, "assalamu'alaikum."
"Waalaikumussalam."
"Sya, aku senang kamu akhirnya pulang!" Begitulah ucapan Maryam.
"Aku juga senang, disini nggak enak Mar." Nasya begitu antusiasnya.
'Ekhm!
Fakhi berdehem membuat semuanya menoleh, "ada apa Mas?"
__ADS_1
"Teman kamu ini lupa jika dia juga sudah memiliki suami." Ucap Fakhi membuat Maryam terperanjat kaget.
"Astaghfirullah, afwan Mas." Maryam mencium tangan Fakhi dengan gemetaran.