
"Neng apa kabar?"
"Aa' yang gimana kabarnya? Senang ya hilang tiga hari?"
"Maafin Aa neng, ponsel aa' kemarin jatuh terus rusak dan ini baru benar lagi. Oh ya kemungkinan aa pulangnya agak lama, gak apa-apa kan?"
"Kenapa begitu A?"
"Karena teman Aa lagi sakit neng, ini aa nemanin dia di Rumah Sakit."
"Iya a' gak apa-apa. Aa baik-baik disana ya.."
"Iya neng juga, jangan galau terus. Kata Abah Neng murung terus, jangan lagi ya neng. Assalamu'alaikum "
"Waalaikumussalam"
Semua tampak bahagia, apalagi Pipa saat ini sedang makan bahkan sudah tambah dua kali karena kegalauan yang menerpa nya.
"Astaghfirullah" ucap semuanya bersamaan.
Pipa tersadar lalu ia hanya bisa cengar-cengir saja.
"Pa, yang makan itu loe?" tanya Sasa heran
"Iya, sorry deh... gua lapar banget tau gak sih udah 3hari gua puasa. Sekarang waktunya pembalasan!" jawabnya santai
"Yeee itu sih salah loe sendiri , kali."
Tanpa sadar pandangan Sasa beralih kepada sepasang insan yang baru beberapa Minggu menjadi sepasang kekasih. Mereka terlihat romantis di meja makan dan menganggap yang lainnya ngontrak.
Sakit, gumamnya.
Ya, Tak dapat di pungkiri jika sampai saat ini Sasa masih mencintai Gus Sakha. Lelaki yang dulunya berharap padanya dalam hitungan sekejap menjadi milik orang lain.
Sasa meringis jika mengingat kala itu saat ia memilih mundur dan menyuruh Gus Sakha untuk menerima perjodohan itu. Mungkin jika jodohnya bukan Patul, Sasa akan baik-baik saja.
Takdir memang unik ya karena yang gak mungkin akan menjadi mungkin. Allah SWT memang sang pembolak-balikkan hati manusia. Takdir itu juga yang membawa Sasa untuk belajar mengikhlaskan. Ternyata praktek tak semudah teorinya, pikirnya.
"Woy, micin! Melamun aja kau." cetuk Sapi sambil menggoyangkan badan Sasa.
pranggggg
Sasa pun terkesiap sampai menjatuhkan cangkir nya kebawah.
"Sapi , loe mau gue sembelih?" teriak Sasa membuat semuanya tertawa.
"Kau yang ku cekik nanti. Melamun aja kau, mikirin apa sih?"
"Mau tau?"
Sapi mengangguk
"Emhh mau tau banget apa mau tau aja?"
Sapi berdengus kesal "Mau tau kali, noh mandi kau sana di kali. Kesal kali aku!"
"Bhahahhahahha" semua tertawa kecuali Sapi yang memang sedang kesal.
"Senang Kelen ? iya? senang? mantap kali"
"Loe lagi datang tahun ya?"
"Datang menit, dah ah cabut dulu aku. Bye!" Sambil menaruh piring ke dapur.
Kepergian Sapi membuat suasana menjadi hening kembali namun ternyata Gus Sakha tengah memperhatikan Sasa. Ingin sekali rasanya ia menghampiri wanita itu karena ia juga khawatir, tapi ia juga harus memikirkan isterinya.
'Kamu kenapa Shazfa?' batin Gus Sakha
"Sasa, kamu kenapa?" Patul memecahkan keheningan
__ADS_1
"Gue kenapa? memangnya kenapa gue?" Sasa malah balik tanya
"Kamu sakit? atau lagi ada masalah?" Patul benar-benar khawatir.
"Gue gak apa-apa Patul" ucap Sasa sambil tersenyum.
'Kamu mungkin bisa bohongin yang lain Shazfa, tapi tidak dengan aku' batin Gus Sakha.
"Gue ke taman dulu ya, cari angin" kata Sasa sambil pergi .
"Napa tu anak?" tanya Pipa sementara Patul hanya menggelengkan kepala.
Di taman Sasa menangis sejadi-jadinya ,ia hanya bisa menangis dan menangislah yang ia bisa.
"Waktu akan menyembuhkan gue, waktu juga yang akan menuntun seseorang untuk datang ke gue! ya, Sasa loe harus kuat! loe gak boleh cengeng!" ucap Sasa.
Tak pernah ada yang mengira jika Sasa masih menyimpan luka hatinya, topeng senyuman dan tawa riangnya itu berhasil menjadi tempat persembunyiannya. Kini ia menikmati semilir angin yang menghembuskan ketubuhnya.
"Shazfa!!" suara bariton terdengar dari kejauhan.
Sasa menoleh,
degg!
"Gus?" kaget Sasa
"Maafkan Abang" lirihnya
"Gus? ada apa ini?" Sasa semakin kaget dengan tingkah lelaki yang didepannya.
"Maafkan Abang, Dek! Sungguh, berlian sepertimu tak pantas di tinggalkan, tapi Abang bisa apa dek? Abang hanya seorang anak dan kamu sendiri yang menyuruh Abang untuk menerima ini, kan?"
"Gus Sakha ngomong apa sih? sebaiknya Gus Sakha balik aja ke kamar, Patul pasti nungguin . Maaf Gus, gue lagi pengen sendiri"
"Apa yang harus Abang lakuin agar kamu maafin Abang dek?"
"Tolong di jawab dek"
"Berbahagialah dengan Patul. Gue sebagai temannya gak Ridho kalau Gus nyakitin dia. Hargai dia sebagai istri, sayangilah dia, dan berjanjilah hanya dia satu-satunya istri Gus sampai maut memisahkan"
"Iya dek, insyaallah Abang janji."
"Ya sudah, maaf tapi silahkan pergi"
"Boleh Abang minta sesuatu sekali saja?"
Sasa mengangguk
"Bisa kah untuk terakhir kalinya kamu memanggil Abang kepada orang yang sudah menyakitimu ini?"
"Ha? buat apa?"
"Hanya untuk kenangan"
Sasa menggeleng namun Gus Sakha tidak pergi dari tempatnya .
"Abang... Tolong pergi."
Gus Sakha tersenyum tipis "Berjanjilah satu hal"
huffffh banyak bener, gak siap-siap kalau begini. gumam Sasa pelan
"Ya sudah, apa itu? cepat bilang!" ketus Sasa
"Tetaplah menjadi sahabatnya Lila, dan bahagia lah selalu . Abang cuma bisa minta itu , karena Abang sudah gak bisa membahagiakan mu. Semoga nanti, jodohmu bukanlah seorang yang pecundang kayak Abang, tolong maafkan Abang."
"Tanpa diminta pun, gue akan ngelakuinnya Gus, gue titip sahabat gue! Dia orang baik, gak pantas disakiti."
"Dan kamu adalah berlian yang harus di bahagiakan"
__ADS_1
"Akan ada kebahagiaan di hari nanti, tentunya itu sudah ditakdirkan Allah"
"Ya sudah, Abang pamit. Assalamu'alaikum"
"Waalaikumussalam"
Sasa menatap kepergian Gus Sakha sampai tak terlihat lagi.
Abang? ah, panggilan itu...
Tiba-tiba ada seorang santri membawa gitar, entah dari mana ia datang namun Sasa yang melihatnya langsung memanggil santri tersebut.
"Hmm Afwan, Akhi" panggil Sasa
Kemudian kedua santri laki-laki itu pun datang "Assalamu'alaikum"
"Waalaikumussalam, kalian yang bertugas keliling malam ini kan?" tanya Sasa
"Na'am"
"Kalau begitu, saya bisa pinjam gitarnya sebentar gak?"
"Oh boleh... boleh... Ini mbak, ambil saja. Kalau sudah siap letak aja di sini lagi Mbak."
Sasa mengambil gitarnya "Terimakasih ya"
Mereka mengangguk "Sama-sama. Kalau begitu kami tinggal dulu ya Mbak, Mau lanjut keliling. Assalamu'alaikum"
"Waalaikumussalam"
jrenggggggg
Sasa mencoba memetik gitarnya itu, dan ia kepikiran untuk menyanyikan lagu **Melawan Restu.
Hmmm hmmm
Indah semua cerita
Yang t'lah terlewati dalam satu cinta
Kita yang pernah bermimpi
Jalani semua, hanya ada kita..
Namun ternyata, pada akhirnya
Tak mungkin bisa kupaksa
Restunya tak berpihak
Pada kita
Mungkinkah aku meminta
Kisah kita selamanya?
Tak terlintas dalam benakku
Bila hariku tanpamu
Segala cara t'lah kucoba
Pertahankan cinta kita
S'lalu ku titipkan dalam doaku
Tapi ku tak mampu
Melawan Restu**...
__ADS_1