
"Sayang ..." Gus Sakhi mencoba untuk menenangkan Sasa agar tidak terpancing oleh Bu Nita, akan tetapi Sasa membalasnya dengan senyuman.
"Bu Nita terhormat, saya akui kalau Ibu itu cantik. Akan tetapi, lelaki bejat sekalipun kalau di suruh memilih permen terbuka atau tertutup alias terbungkus itu pasti memilih permen yang tertutup. Saya memang dulunya tidak seperti ini, saya memakai celana ketat baju ketat dan jilbab yang masih terlilit. Begitu kan yang Ibu maksud? Tidak masalah soal itu, yang terpenting itu lebih baik daripada seorang Dosen yang ketahuan sedang berbuat onar di kampus. Ck! memalukan. Oh iya, soal madu mari kita tanyakan langsung kepada yang bersangkutan." Sasa sengaja menjeda ucapannya, dia kembali melihat sang suami yang tercengang melihatnya. "Mas Sakhi, seandainya Sasa mengizinkan mas untuk menikah lagi, apa mas mau menikah dengan Bu Nita?"
"Demi Allah, itu tidak akan pernah terjadi. Sampai kapanpun istriku cuma satu, yaitu Shazfa Aiysha Humaira." Jawab Gus Sakhi dengan lantang membuat Bu Nita semakin malu sekarang.
"Ibu bisa dengar sendiri, kan'?" Sasa tersenyum sinis melihat lawannya, sedikit lucu karena lawannya adalah Dosennya sendiri.
"Kamu pasti pakai pelet, iya kan Shazfa?" bukannya diam, Bu Nita kembali menuduh Sasa.
"Pelet apa? pelet ikan? hahahha! Ibu ini ada-ada saja, status Dosen tetapi otak nya masih minus. Maaf Bu, tapi saya tidak pernah melakukan itu, coba tanya saja sendiri sama yang bersangkutan! Ya sudah lah, saya tinggal dulu. Permisi." Sasa sudah sangat geram sekarang, tetapi dia tak ingin membuat suaminya malu di depan Hendrawan makanya dia memilih pergi.
"Khi, pergi sekarang saja yuk." Pinta Hendrawan untuk mencairkan suasana.
"Astaghfirullah, sampai lupa. Ya sudah, bentar ya. ana mau ke kamar dulu." Ujar Gus Sakhi lalu ia mengejar sang istri ke kamarnya.
Ceklek!
Di lihatnya Sasa sedang menatap kosong di balkon sampai tidak mengetahui kehadirannya.
Grep!
"Astaghfirullah!" gumam Sasa, lalu ia melirik sang suami yang sedang memeluknya itu. "Lepasin!"
"Kok marah?" Tanya Gus Sakhi.
"Sudahlah, Sasa mau sendiri Mas."
"Demi Allah, mas sama Bu Nita gak ada hubungan apapun."
__ADS_1
"Sasa percaya."
"Tapi kenapa masih marah?"
"Jangan banyak bertanya, atau Sasa batalkan saja rasa percaya itu."
"Eh jangan dong, astaghfirullah. Sayang, mas pergi dulu ya. Nanti malam mas jelasin, mas janji sama kamu."
"Iya."
"Mas pulang cuma untuk ambil name tag, kamu hati-hati ya di rumah."
"Hm."
"Cium dulu."
"Nggak."
"Nggak."
"Humaira ..."
"Shazfa! nama Sasa itu Shazfa."
"Kamu masih marah sama mas?"
"Sudah sore, sebaiknya pergi sekarang."
Mau gak mau, Gus Sakhi pun mengangguk patuh. "Assalamu'alaikum, sayang."
__ADS_1
"Waalaikumussalam."
Cemburu? pastinya! Wanita mana yang tidak cemburu melihat sang Suami diperebutkan di depan matanya. Melihat ada seorang wanita yang juga menyayangi Suaminya apalagi wanita tersebut adalah Dosennya.
Tak pernah terpikirkan sebelumnya untuk bersaing dengan wanita dewasa, pikirnya. Sasa memijat pelipisnya dan terduduk di sofa balkonnya. "Argh! ternyata punya suami ganteng pun salah juga, bukan maksud untuk tidak bersyukur tapi entahlah ..." Tanpa sadar Sasa tertidur di sana.
🌼🌼🌼
Sasa memang sangat gampang untuk tertidur, di mana saja jika badannya lelah ia akan tertidur. Siang menjadi malam, Gus Sakhi pulang ke rumahnya.
Ceklek!
Lagi-lagi Gus Sakhi disuguhkan dengan pemandangan gelap gulita, Gus Sakhi kembali panik dan mencari keberadaan sang istri ke seluruh ruangan.
"Astaghfirullah, dimana kamu Humaira?" sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
Tiba-tiba pandangannya tertuju pada balkon di kamarnya, Gus Sakhi langsung berlari ke sana untuk melihat sang istri.
"Humaira ..." lirih Gus Sakhi, ia menundukkan kepalanya dan bersebelahan dengan wajah sang istri.
Cup!
"Kamu pasti kelelahan ya?" gumam Gus Sakhi.
Ia menggendong sang istri dan membawanya pindah ke atas kasur. Sesekali Sasa menggeliat kan badannya namun Gus Sakhi langsung mengusap kening nya Sasa dengan lembut
"Shhh shhh shhhh" ucapnya.
Setelah membaringkan istrinya, tiba-tiba saja Sasa membuka matanya.
__ADS_1
"Aaaaaaaa!" teriak Sasa membuat Gus Sakhi tersentak.
"Ada apa, Humaira?"