
"Umi, Abi... kami mohon izin pamit, maaf atas sikap kami selama disini baik itu disengaja maupun tidak disengaja" ucap Patul saat depan pintu.
"Iya nak, kalian anak-anak Umi.. sering-seringlah kemari ya nduk, Umi sama Abi akan merasa senang kalian datang, iya kan bi?"
"Benar sekali Umi, kalian hati-hati di jalan ya ?" Lalu kami semua mengangguk..
"Umi, Abi.. terimakasih juga karena sudah mau menampung kami disini" sahutku mencoba bersikap biasa saja.
"Tak perlu sungkan Nduk" sahut Abi
Umi melihatku, lalu merentangkan tangannya "sini nak peluk Umi"
Aku tersentak, sebenarnya ada apa ini?.
Aku pun langsung memeluknya "Umi sayang sama Shazfa" bisiknya.
deggg
Ada apa ini? aku lirik Ustadz Sakha sekilas, tapi percuma saja karena yang ku lirik tak melihatku. menyebalkan!
Di perjalanan aku hanya bisa diam, padahal di depanku saat ini ada Ustadz Sakha yang sedang menyetir, kepalaku rasanya seperti ingin patah karena yang ku lihat hanya ke arah kanan menatap jalanan.
Lain hal nya dengan Pipa dan Ustadz Fathan yang sudah semakin akrab sekarang.
Hari menjelang siang, Kulihat Sapi memegang perutnya "Kenapa Pi?"
"Perutku demo minta makan"
Aku yang mendengarnya pun hanya bisa menahan tawaku, ya saat ini aku merasa canggung di sini .
Ustadz Sakha dan Ustadz Fathan melirik jam yang melingkar di tangan mereka "Astagfirullah" gumam nya.
"Afwan Safia, ana tidak lihat jam dari tadi" kata Ustadz Sakha
"Iya bang gak apa-apa , tapi gimana nasib perutku sekarang bang?"
"Ya sudah kita cari tempat makan dulu ya, gimana?"
"Ha gitu kek dari tadi"
Ustadz Sakha mengangguk, ia kembali melirik kaca ke arah belakang hanya sedekat melihatku , aku tahu itu namun aku tak acuh sambil menghadap ke jalanan.
"Yang lain gimana?" tanya Ustadz Sakha dengan sengaja
Teman-temanku tampak setuju sedangkan aku hanya diam, aku melamun entah apa yang aku pikirkan.
"Shazfa?" panggil Ustadz Sakha , sementara aku masih setia menyenderkan kepalaku di pintu mobil.
"Dek?" panggilnya lagi.
Sapi yang berada di belakangku pun menyenggol tanganku "hussst micin, dipanggil tuh"
"Ha? apa? siapa? kenapa?" ucapku ngasal, pasalnya aku benar -benar kaget saat ini.
"Melamun terus kamu, ada apa?" Tanya Ustadz Sakha
__ADS_1
"Ha?" aku terkejut, memangnya apa yang ditanya nya tadi?
"Kamu kenapa? apa kuesionernya kurang? atau---"
"Gue gak apa-apa"ucapku memotongnya.
Ustadz Sakha terlihat meringis melihatku kembali menyebut gue ke dia. Hah, rasakan itu!
"Oh... Oh begitu ya.. hmm keberatan gak kalau kita makan dulu?"
"Tanya yang lain aja Ustadz" ceplosku.
"Kami sudah jawab loh micin"
"Oh iya ya? gue gak fokus sorry, ya sudah jawaban gue sama in aja dengan mereka" sahutku lalu mengambil ponsel dan mulai memainkannya.
Kami sampai di warung yang kebetulan sedang ramai, katanya memang disini makanannya sangat enak.
Entah sebuah kebetulan, atau memang direncanakannya kini kami duduk berhadapan. Aku yang sudah mulai terbiasa dengan itu pun hanya bisa diam pasrah.
"Permisi Mbak, Mas.. mau pesan apa?
"BAKSO NYA SATU" Ucapku dengan seorang lelaki bersamaan. Ya, dia adalah Ustadz Sakha.
Mbaknya menahan tawa "Maaf mbak, mas.. kebetulan baksonya tinggal 1porsi"
lalu kami menggaruk kepala kami "Monggo, Ustadz saja".. Kataku, lalu melihat menu kembali
"Tidak, kamu saja". Perdebatan hampir saja terjadi.
"Ustadz sengaja ya ngikutin gue?"
"Enak saja, kamu kali yang ngikutin ana"
"Ustadz!!!"
"Kamu"
"Ustadz!!!"
"Etsss, sudah - sudah.. biar adil semuanya aja mbak soto ayam tambah nasi ya" lerai Ustadz Fathan.
"Berarti 6 porsi ya, minumnya apa mas?"
"Biar ana yang pesanin, teh manis hangat saja semua."
"Baik Mas, mohon di tunggu ya " Mbaknya bersiap untuk pergi.
"Tapi kan----" ucapku terpotong
"Iya mbak, ada lagi yang mau di pesan?" tanya Mbaknya
"Alamakjang, banyak kali cengkunek mu (Cerita/omong kosongmu) , Lapar kali aku loh. Udah mbak ga ada lagi yang mau di pesan, langsung aja mbak dan gak pake (pakai) lama ya" celetuk Sapi yang kayanya memang sudah kelaparan .
Mbak itu pergi, aku hanya berdengus kesal, bagaimana mungkin aku bisa minum Teh manis hangat? sedangkan kepalaku kini sudah panas, huh menyebalkan.
__ADS_1
"Kenapa kau diam aja? merajok (merajuk)? " kata Sapi beberapa menit kemudian.
"Enggak!" ketusku.
Ustadz Sakha tersenyum, lah ini anak kenapa?
"Tadi mau pesan apa kamu Dek? biar Abang pesanin ke sana" tebak Ustadz Sakha
pesan gak ya? ah pesan aja, kan dia yang nawarin, batinku.
"Tambah es batu aja, ga suka yang hangat soalnya"
Ustadz Sakha mengangguk " Ya sudah, bentar ya "
Kenapa harus bersikap baik? Kau tahu, kebaikanmu membuatku enggan keluar dari hatimu, namun bertahan aku tak mampu. ~ Shazfa.
Aku melihat punggung badannya yang sudah menjauh, andai dia calon imamku.. Ah sudahlah!
"Eh micin, kelen (kalian) belum baikan ya?" tanya Sapi yang memang belum tahu.
Apa aku beritahu sekarang saja?
"Sapi, kamu mah kepo pisan" celetuk Patul yang sedari tadi hanya diam.
"Kami sudah selesai" ujarku pelan tapi ternyata mereka semua mendengarnya.
"SERIUS????" tanya the guys kecuali Ustadz Fathan, ekspresinya biasa aja, mungkin dia sudah tahu.
Aku mengangguk "Ustadz Sakha itu ternyata di jodohkan, gue gak mungkin jaga jodoh orang, eh bukan jaga tapi berharap hahahha"
"Benar juga, ah pantesan aja ku tengok (lihat) kau banyak diamnya"
"Iya, dan loe jangan banyak tanya lagi" jawabku cepat lalu semua terbahak-bahak
"Lagian lu sudah kelaparan juga masih aja kepo in orang, heran gua" Celetuk Pipa
"Yee kau juga pengen tahu sebenarnya yakan? mending aku langsung nanya"
"Ah sudah-sudah.. Gak baik di lihat orang neng" Kata Ustadz Fathan meleraikan nya.
Ustadz Sakha datang membawa sebotol air dingin di tangannya "Batu es nya masih sama mbaknya, ini minum dulu pasti kamu haus kan"
ekhemmm
'minumnya nya cuma satu nih '
'kita juga haus kali'
'romantisnya'
Ya , gitulah godaan dari mereka, sungguh aku malu sekali namun sudah terlanjur basah, ya sudah aku jeburin sekalian.
"Ya dong, kapan lagi dikasih air dingin sama kulkas berjalan, iya gak?" kataku sambil tertawa.
"Yang penting kamu suka kan?"
__ADS_1
"Ngapain suka sama jodoh orang" kataku membuat semua orang menjadi diam, ah apa salahku?