Begitulah Takdir

Begitulah Takdir
Kisah Sapi 1


__ADS_3

"Loe kenapa ketawa, Pa?" selidik Sasa.


"Muka kalian itu lucu tau gak. Hahahha!" Pipa semakin terkekeh.


"Loe nikah sama bule, Pi?" sambil menoyor kepala Sapi.


"Ya gitu deh," jawab Sapi santai sambil mengambil cemilan. Sedangkan yang lainnya menatap Sapi seperti ingin menelannya mentah-mentah.


Sapi menjelaskan semuanya, Patul dan Sasa awalnya terkejut karena sahabatnya itu menikah dengan seorang bule. Untung saja lelaki itu mau menjadi mualaf saat ingin menikah dengan Sapi.


Flashback On (Sapi POV)


Hidup di perantauan tak selamanya indah, aku tahu terlalu egois jika ku katakan merantau itu perih padahal alasan sebenarnya adalah karena sudah dua kali gagal dalam mencoba suatu hubungan, tapi aku bersyukur karena aku belum sempat menikah dengan mereka.


Gagal menikah dengan Ustadz Ghibran adalah kesalahan takdir yang masih belum bisa aku terima.

__ADS_1


Tak munafik, aku memang sering merasa iri dengan ketiga sahabatku yang sudah menemukan belahan jiwanya. Terkadang aku mikir, kenapa jalan cinta mereka begitu mulus?


Pagi ini aku memutuskan untuk pulang ke kota kelahiranku. Jujur saja, ini merupakan pilihan tersulitku. Meninggalkan ketiga sahabatku membuat hatiku sangat hancur, sekarang mereka adalah hidupku. Tetapi, apa yang harus aku lakukan sekarang?


"Mamak gak mau tahu ya, Safia. Kau harus pulang sekarang, mamak mau kenalin kau sama anaknya kawan Bapak. Jangan banyak kali lah tingkah kau itu kalau masih mau Mamak anggap anak Mamak, Titik!"


Suara lantang itu membuat Safia memutuskan pilihan ini, Walau gimana pun syurga nya terletak pada wanita itu yang sudah mengandungnya. Semua pakaian sudah di susun nya ke koper, sekarang tinggal meminta izin saja pada Abah dan Ummah.


Ceklek!


Dengan sekuat tenaga, Sapi menahan air matanya. "Sini, peluk aku." Ya, hanya itu yang bisa ku katakan.


Di dalam pelukan itu, aku menangis dalam diam. Ini pelukan terakhir, pikirku. "Kalian jaga diri baik-baik, ya." Sambil ku hapus air mataku.


"Kamu beneran mau tinggalin kita?"

__ADS_1


"Iya Pi, loe tega sama kita?"


"Pi, apa gak bisa lu tinggal di sini saja?"


Pertanyaan itu membuatku semakin sakit, kalian memang hidupku tetapi tuntutan dari orang tuaku juga tidak dapat ku hindari lagi.


"Maafkan aku, Guys. Suatu hari nanti aku janji kalau aku akan kembali. Orangtuaku benar-benar menuntut pernikahan dariku." Lirihku jujur.


"Bagaimana dengan Ustadz Alif saja? Pi, loe kan tahu kalau Ustadz Alif suka sama loe?" Saran Sasa membuatku bergidik ngeri.


"Kayanya aku udah kapok dengan Ustadz, nanti aku cari bule aja biar perbaiki keturunan. Hahahah!" Gurauku membuat yang lain tertawa, aku senang melihat mereka bahagia walau itu pasti hanya di paksa.


"Ya sudah, lu hati-hati ya! jangan ganti nomor hp, mengerti?" Pinta Pipa yang aku anggukin.


Setelah itu, aku pamit dengan Abah dan Ummah. Aku juga sempat berjumpa dengan Ustadz Alif, lelaki itu memang sudah mengatakan perasaannya padaku. Tetapi aku masih takut jika harus memulai lagi dengan seseorang bergelar Ustadz.

__ADS_1


Beberapa jam kemudian, aku sampai di kota kelahiran. Huh, cepat ya? karena aku melalui jalur udara. Jika tidak, mungkin bisa memakan waktu sampai tiga hari ke rumahku.


__ADS_2