Begitulah Takdir

Begitulah Takdir
Kedatangan Bima


__ADS_3

Sementara di tempat lain, Bima sengaja menunggu pujaan hatinya itu pulang mengajar. Menikahi gadis lebih tua darinya merupakan kejutan terindah baginya. Tak pernah terpikirkan sebelumnya, apalagi gadis itu dulunya sangat membencinya.


"Bim ... Bima ...." Suara bariton itu mengagetkan nya.


"Astaghfirullah, Mbak ..." Bima tersentak kaget.


"Ck! Aku bukan Mbakmu." Kesal Pipa.


"Jadi, siapanya aku?" Goda Bima.


"Tauk ah, jadi pergi gak?" tantang Pipa


"Jadi dong, Tuan Putri." Bima langsung jalan membuat Pipa menahan tawanya.


Di mobil, Bima memutarkan lagu Ana Uhibbuka Fillah membuat keduanya terhanyut dalam lagu ini.


"Kok bisa ya?" pertanyaan Pipa membuat Bima mengernyitkan alisnya.


"Bisa apa mbak?"


"Kita jadi kaya gini."


"Benar juga, kok bisa ya mbak?"


"Ih! ngeselin banget kamu." Sambil melemparkan tas ke arah Bima.


"Ampun mbak, ya Allah calon bini ana kok anarkis banget kaya begini sih."


"Kamu mengumpat ku?"


"Enggak, aku cuma lagi curhat sama Allah."


"Ter-se-rah!" Ucap Pipa sambil menekankan setiap kalimat nya.


"Mbak ... Rezeki, maut, dan jodoh itu semua sudah di atur sama Allah dari sebelum kita lahir ke dunia. Jika Allah mengatakan Kun maka terjadilah. Sama seperti pertemuan kita, mungkin memang seperti itu cara Allah mempertemukan nya. Aku juga gak ngerti kenapa jodohku lebih tua dari aku. Tetapi, aku janji sama kamu mbak kalau aku tidak akan membuat kamu tua sebelum waktunya."


"Kamu meledekku tua ya? ngeselin banget sih, Bim!"


"Tapi, kamu suka kan mbak?"


"Percaya diri sekali, anda!"

__ADS_1


"Aku bukan meledek kamu, mbak! tapi itu sebagai tanda kalau aku gak akan buat kamu marah, kecewa dan terluka. Konon katanya, kalau sering yang tiga itu akan membuat seseorang akan semakin tua sebelum masa nya. Seram kan mbak?"


"Biasa aja! kamu kapan sih gak manggil aku mbak lagi? berasa kakak kamu aku ini, tau gak!"


"Nanti ya? aku hanya akan mau menggantinya kalau panggilan itu berubah menjadi sayang."


Deg!


"Dih, dasar bocah!" ledek Pipa.


"Salah aja Bhambang ya Markonah!"


"Pfttttt Hahahhahha" Tawa Pipa pecah melihat ekspresi Bima yang terlihat kesal itu.


"Nah, sekarang malah ketawa. Dah lah, aku mau beli ice cream aja."


"Ih mau!"


"Iya, kita beli sekarang."


"Enak juga jahilin kamu ya, langsung dapat ice cream. Sering-seringlah kalau begitu."


"Jahat bener sama calon suami."


Malam harinya, Bima mengajak Pipa ke rumahnya karena Bubu juga merindukan Pipa.


"Assalamu'alaikum, Bubu ...." teriak Pipa yang merindukan wanita Paruh baya itu.


Bubu keluar dari kamarnya dan langsung memeluk Pipa, "Waalaikumussalam."


"Bubu rindu aku gak?"


"Rindu pisan! kamu apa kabar? kenapa gak pernah kesini ?"


"Ada yang larang Bu, katanya nanti bikin gak konsen belajar. Tuh orangnya, marahin Bu ..."


Bubu langsung melotot ke arah Bima dengan tatapan tajam , "Bima!!!"


"Ck! berasa anak tiri saya." Lirih Bima membuat bubu dan Pipa tertawa bersama.


Bubu mengajak mereka untuk makan malam, Masakan bubu sangat di tunggu oleh Pipa selama ini.

__ADS_1


"Pelan-pelan makannya, Nak!" Bubu mengingati Pipa yang sedang makan seperti orang yang puasa setahun.


"Maaf Bu, tapi ini enak banget. Aku tuh rindu sama masakan bubu."


Saat asyik makan, Bima mengeluarkan tiket Kereta Api yang sudah ia pesan kemarin dan menunjukkan nya pada Pipa.


"Mbak, aku sudah pesankan 3 tiket untuk Kita ke kota mbak. Aku mau bertemu ayah sama bundanya mbak."


Uhukkkkk uhuk!


Bima segera mengambilkan air minum untuk Pipa, "Nih, minum. Gitu aja langsung grogi."


"Dih, bukan grogi ya, cuma kaget saja."


"Bagaimana? kamu sudah siap gak?" tanya Bima.


"Kamu serius Bim?"


Bima mengangguk. "Kalau kita menikah sambil aku kuliah, kamu siap gak mbak?"


"Kenapa tidak?"


"Kali aja kamu malu punya suami masih bocil."


"Kamu memang bocil tapi aku gak malu."


"Makasih Mbak."


Ekhemmmm


Deheman Bubu membuat keduanya salah tingkah, memang benar sejak tadi tanpa mereka sadari keduanya saling tatap tanpa memperdulikan adanya Bubu disana.


"Bubu berasa ngontrak!" ketus Bubu.


"Hehehhe!" keduanya tampak salah tingkah.


"Nak Fifa yakin mau sama anak Bubu yang tengil ini?" pertanyaan Bubu membuat Bima membulat kan matanya.


"Bubu gak tahu aja kalau kamu aslinya bar-bar." Sahut Bima membuat Fifa ingin menerkam nya sekarang.


"Terkadang sebagai wanita juga harus bersikap seperti itu pada lawan jenisnya untuk melindungi dirinya sendiri." Tegas Bubu .

__ADS_1


"Sekarang aku benar-benar merasa anak tiri." lirih Bima.


Umur tak menjamin kedewasaan, karena untuk menjadi dewasa itu berasal dari kemauan kita sendiri, bukan dari seberapa lama kamu terlahir di dunia ini. ~ Pipa.


__ADS_2