Begitulah Takdir

Begitulah Takdir
KOK BISA?


__ADS_3

Patul sudah sampai di rumah dan saat ini ia sedang terjaga bersama si kembar. Dari suasana hening tiba-tiba...


"PATUL!!!" teriakan itu berhasil membuat sang buah hati menangis histeris.


Sebenarnya, suara itu tidak semeriah itu jika Sapi tidak ikut serta di dalamnya.


"Astaghfirullah, ngagetin aja kalian mah" kesal Patul.


"Loe sih" protes Sasa pada Sapi


"Pi, lu ngomong yang nadanya menurut loe biasa aja itu tuh udah gede loh. Ini malah ikut teriak segala!" omel Pipa.


"Ya maaf, aku kan senang jumpa ponakan."


"GAK GITU JUGA KONSEPNYA" sergah mereka serempak.



(*lucu ya? jadi pengen. *eh othor ga pokus haha*)


Oeeekkk, oooekkk...


Mereka terus menangis, Patul sudah coba untuk mendiamkannya namun tak kunjung diam.


"Coba digendong Tul" saran Pipa , lalu Patul mencobanya, tapi hasilnya nihil.


"Haus kali" kata Sapi, dan hasilnya tetap sama.


"Coba sini, sama Ante. Kali aja popoknya basah." pinta Sasa , dan ternyata benar... Kedua bayi itu langsung diam ketika popoknya di ganti oleh Sasa.


Patul, Sapi dan Pipa tercengang melihat Sasa bisa mendiamkan Adam dan Hawa.


"Napa pada lihatin gitu?" Sasa menaikkan alisnya.


"KOK BISA?" Tanya mereka barengan.


Sasa hanya menggelengkan kepala.


"Sa, kok bisa? jangan-jangan kau emang udah punya anak ya?" celetuk Sapi ngasal.


"Sembarangan! Nih ya gue kasih tahu, Bayi kalau nangis itu gak melulu minta di gendong. Tapi yang jelas karena ada sesuatu dan dia belum bisa ngomong makanya nangis. Kita yang harus pintar bertindak, kalau dia masih nangis waktu di gendong coba kita kasih susu, kalau masih nangis juga ya coba kita lihat popoknya. Gitu kata My emak."


"Terus kalau masih nangis juga?"


"Tabok bapaknya!"


Sedetik kemudian mereka terbahak-bahak "Hahahah"


Namun tiba-tiba...


"Astaghfirullah, kenapa bapaknya di tabok?" suara bariton itu membuat The Guys sulit menelan Saliva nya.

__ADS_1


eh?


"Bukan aku ya yang bilang..." elak Sapi


"Eits, bukan gua juga." sambung Pipa


Sasa dan Patul saling pandang, lalu...


"Gue yang bilang!"


"Aku yang bilang!"


Mereka menjawab bersamaan membuat Pipa dan Sapi ingin tertawa saat itu.


"Gus Sakha ngapain kesini?" pertanyaan itu lolos di mulut Sasa dengan niat ingin mengalihkan pembicaraan.


"Ana? ini kamar ana!" jawab Gus Sakha santai.


"Astaghfirullah, benar juga." gumam Sasa pelan. Sementara yang lain sudah tertawa.


"Ya sudah Tul, ini sayur Katuk nya. loe sudah makan siang belum?"


"Sudah, nanti deh aku makan lagi."


"Enak saja, makan sekarang! Ga perlu pakai nasi mumpung masih hangat nih. Susah tahu nyarinya."


"Iya Tul, harus ke rumah Ustadz yang baru itu"


"Ustadz yang baru?" gumam Patul dan Gus Sakha


"Kalian pergi bareng dia?" tanya Gus Sakha, dan ketiganya mengangguk.


"Hati-hati kamu Sa" kata Gus Sakha membuat yang lain bingung.


"Kok cuma si micin? Kami enggak?" protes Sapi


"Afwan, bukan begitu maksudnya. Ana melihat sepertinya Ustadz Alif menyukai Shazfa. Bukan melarang tapi kan kita belum mengenalnya lebih jauh lagi." jelas Gus Sakha agar tidak salah paham.


"Betul kata Gus Sakha itu" sahut Pipa dengan menunjukkan jari telunjuknya.


"Udah kaya kampanye aja kau bah" celetuk Sapi membuat semua terbahak-bahak, untung saja sang bayi tidak ada yang merasa terganggu.


Satu jam kemudian, Sasa pergi bersama Ummah ke pasar sementara ketiga sahabatnya masih berada di kamar Patul untuk menemani nya mengasuh Adam dan Hawa.


"Assalamu'alaikum" Seseorang datang membawa perlengkapan bayi.


"Waalaikumussalam" jawab mereka serempak.


Patul menoleh "Kak Sakhi?"


Mendengar nama itu The guys pun ikut menoleh, Pipa dan Sapi tercengang saat melihat lelaki itu membuka maskernya.

__ADS_1


"Itu???" ucap mereka terbata-bata, Gus Sakhi hanya tersenyum ramah.


"Kenalin, ini kakaknya Gus Sakha guys. Namanya Sakhi."


Gus Sakhi mengangkat kedua tangannya lalu menyatukannya kembali "Salam kenal"


"Sa---lam ken---al juga kak. Astaga benar-benar mirip ternyata."


"Si kembar rewel ya?" Gus Sakhi mengabaikan ucapan mereka tadi.


"Iya kak"


"Ini kakak bawakin buah, Jangan lupa di makan biar asupannya tidak kurang ya." Kemudian Gus Sakhi celingukan mencari seseorang.


"Sakha mana?"


"Di Mushola kak"


"Ya sudah, kakak tunggu di luar ya. Ana mau bicara juga sama si Sakha nanti. Oh iya, Adam sama Om yuk..." sambil menggendong Adam.


"Maaf semua, saya permisi dulu. Assalamu'alaikum" Sambungnya.


"Iya Ustadz. Waalaikumussalam."


Setelah kepergian Gus Sakhi, Sapi terus saja menatap pintu itu sedari tadi. Ia masih gak nyangka melihat saudara kembar Gus Sakha yang sangat mirip dengan Gus Sakhi.


"Bagai buah pinang dibelah dua" gumamnya.


🌈🌈🌈🌈🌈🌈🌈🌈🌈🌈🌈🌈🌈🌈🌈


**Jangan lupa dukung othor terus ya 🥰


Nih aku punya rekomendasi lagi nih punya temen aku, dijamin wokehhh bingits!!!! cekidot👇**



**Blurb :


Eldren dan Aldrich adalah saudara kandung yang dibuang oleh keluarganya di suatu tempat.


Kemudian mereka ditemukan oleh sepasang suami istri yang rela menolong nya lalu menjadikan mereka sebagai anak adopsi yang sah.


Al dan El memiliki kisah cinta yang sangat berbeda, walaupun sikap Al terbilang lebih dingin.


Tetapi mereka tetap saling menyayangin satu sama lain, meskipun caranya memang terlihat sangat unik.


Bagaimana kehidupan El dan Al selanjutnya ?


Apakah mereka bisa menemukan cintanya dengan benar ? ataukah mereka salah orang.


Lalu balas budi apa yang mereka berikan pada keluarga adopsinya ?

__ADS_1


Akankah El dan Al adalah tipe pria seperti kacang yang lupa pada kulitnya.


Mari kita simak cerita selengkapnya di bab berikutnya**.


__ADS_2