
Gus Sakha punya kembaran?" Tanya Sapi
"Iya" jawabnya datar.
"Siapa namanya Gus? masih single gak?" Tanya Sapi polos .
Pipa langsung menjewer telinga Sapi "Aw, sakit!!!"
"Lagian lu juga ngapain nanya kaya gitu? Gak menghargai Ustadz Ghibran banget, gua aduin lu nanti."
"Sanggup kali bah. Jangan kek gitu lah, maksud aku tadi kalau masih single kita jodohin aja sama si micin, iya gak Sa?"
Uhukkkk uhukkkkkkk
Sasa yang memang sedang minum pun jadi tersedak sedangkan Gus Sakha terkesiap mendengarnya.
"Ide bagus tuh" kali ini yang jawab adalah Patul.
"Udah sehat Tul?" tanya Sasa heran
"Udah."
"Yaelahhhhh" celetuk The guys.
"Mau gak Sa sama kakaknya AA ? Namanya Sakhi, dia dosen di kampus kita loh" Tanya Patul antusias.
"Ih gak mau ah, gue itu bukan loe jadi gak ada ceritanya tuh di kamus gue kejebak dengan perjodohan" ceplos Sasa tanpa sadar.
deg!
Sedetik kemudian dia menutup mulutnya "Astaga, mulut gue liar banget"
"Maaf" lirih Aisa .
"Iya , gak apa-apa atuh." jawab Patul sambil tersenyum
"Tapi kalau kamu berubah pikiran mah , bagus pisan euy. Tinggal bilang ke kami, oke?" sambung Patul sementara Aisa hanya tersenyum tipis.
Sapi menahan tawanya sedangkan Pipa yang disebelah Sapi menyenggol tangannya.
"Pa, lucu ya. Gak dapat adeknya, saudara kembarnya pun jadi" bisik Sapi, tapi sedetik kemudian....
Pletakkkk
Hampir saja Sapi meringis kesakitan tapi tak jadi saat mendapat tatapan tajam dari Pipa.
🌸🌼🌸🌼
__ADS_1
Mengingat kisah Pipa yang masih terhalang dengan jarak, Pipa sengaja merahasiakan kegelisahannya dengan canda tawa. Ternyata bukan hanya Sasa yang harus memakai topeng tetapi Pipa juga merasakannya.
Jarak itu berbanding lurus dengan rindu, tak dapat dipungkiri kini hanya doa yang menjadi jembatan melepaskan rindu yang semu.
"Bagaimana kabarmu disana? ku teringat dengan senyummu sebagai jurang tanda pemisah antara ketidakmampuan dan keinginanku untuk mendekapmu , A' " ~ Pipa.
Kini ditengah dinginnya hujan Pipa mencurahkan perasaannya. Sudah dua bulan Gus Fathan tidak pulang ke Indonesia dengan alasan untuk menemani sahabatnya.
Sangat egois bagi Pipa jika ia harus menyuruh calon suaminya itu untuk pulang, tapi terlalu munafik juga jika dia mengaku baik-baik saja.
bruukkk
Pipa pingsan setelah lama di terpa hujan, beruntung saat itu ada pemuda yang sedang lewat mengendarai mobil.
ckiiiiitt (anggap suara rem mobil)
"Astaghfirullah" pekik pemuda itu
"Mbak tu kenapa?" tanya nya pada dirinya sendiri.
Lalu ia turun dan membawanya ke dalam mobil. Saking paniknya ia sampai lupa membawa Pipa ke Rumah Sakit dan malah membawanya ke Rumah nya.
"Buka Bu" ucap nya
Wanita paruh baya keluar dan membukakan pintu untuk mereka .
"Nanti Bima jelasin, Mbaknya kita letak dimana?"
"Ah iya bubu sampai lupa. Taruh di kamar bubu saja."
Pemuda itu yang bernama Bima menaruh Pipa ke kasur bubunya.
"Kamu tunggu sini Nduk, biar bubu ambilkan air hangat" kata bubu .
Tak lama kemudian, bubu masuk lagi ke kamar dengan membawa dua gelas teh hangat.
"Nih, kamu juga minum dulu" Lalu Bima mengambil gelas itu dan meminumnya.
"Sekarang kamu ceritakan sama bubu, siapa dia?"
"Bima tadi ketemu di jalan pas mbaknya pingsan Bu"
"Mbaknya? kenapa kamu manggil mbak? Emang kamu kenal?"
Bima mengangguk "Bubu ingat gak , Bima pernah cerita ada mbak-mbak yang bawelnya kebangetan, malah dia bilang Bima itu kurir lagi trus dia juga ngasih Bima seratus ribu rupiah untuk ongkos antar . Nyebelin kan?"
Bubu tersenyum menahan tawanya.
__ADS_1
"Bubu kenapa?" Sambil mengernyitkan alisnya.
"Kamu gak ngelanjutin cerita kamu? bukannya setelah itu kamu bersumpah kalau jumpa lagi dengan dia itu pertanda kalian berjodoh?" goda Bubunya.
Bima tampak berfikir sejenak kemudian dia menggelengkan kepalanya "Aih gak ah, gak jadi. Amit-amit punya istri kaya dia. Cantik sih, tapi kalau kaya abang-abang gitu siapa yang mau coba?"
"Husttt! gak boleh ngomong gitu. Sana mandi, biar gak masuk angin! Habis mandi jangan lupa pakai minyak angin, besok kamu sekolah jangan sampai sakit!"
"Iya bubu ku sayang"
Setelah Bima keluar dari kamar bubu nya, Pipa pun sadar sekarang . Saat ia membuka mata ia terkejut karena tempat ini sangat asing baginya.
"Gua dimana ini?" gumamnya.
Lalu Pipa melirik tubuhnya, "Aaaaaaaa" teriaknya.
Bubu yang tadinya sedang membuat bubur pun dengan segera masuk ke kamar.
"Ada apa?, syukurlah kamu sudah sadar nak"
"Saya dimana Tante?"
"Dirumah saya, jangan panggil Tante ya... Panggil saja saya bubu"
"I--iya Bu. Tapi... baju saya?" tanya nya terbata-bata. Pipa sungguh dikagetkan dengan busananya yang sudah berbeda dan ternyata bubu lah yang sudah menggantikannya karena tampak basah.
"Bubu ganti tadi dan sudah bubu taruh dalam plastik. Maaf sebelumnya ya nak"
"Iya Tan, eh Bu... Saya yang harusnya bilang makasih. Tapi bagaimana bisa saya disini Bu?"
"Tadi kamu pingsan nak, untung saja anak bubu tadi lewat sana dan melihat kamu yang sudah tergeletak di aspal"
"Astaghfirullah, serius Bu?"
Bubu mengangguk dan Pipa seperti mencari sesuatu.
"Ada apa nak?"
"Maaf Bu, tapi dimana anak bubu sekarang?"
"Oh dia sedang mandi, mungkin sebentar lagi kesini."
Sedetik kemudian...
"Ada apa mbak mencari saya?" suara bariton itu membuat Pipa menelan ludahnya sendiri.
"Hah??? kamu???"
__ADS_1