Begitulah Takdir

Begitulah Takdir
Keputusan Gus Sakha


__ADS_3

Setelah Beberapa hari istikhoroh Jawabannya tetap sama, yaitu Fathulila Ghassani. Aku menjadi bingung, kenapa bisa Lila jawabannya? Kenapa setiap aku memikirkan jawaban hanya ada wajah Lila yang muncul? argh aku benar-benar frustasi.


Pagi hari, Aku hendak berangkat ke kota lagi untuk kembali ke pesantren milik Abah kyai.


"Le, sini!" Titah Abi


Aku pun menurut dan duduk di sebelah Abi juga Umi.


"Bagaimana? apa Jawabannya?" tanya Umi yang penasaran


"Afwan Umi, tetap sama." lirihku sambil menunduk.


Umi malah tersenyum "Ning Lila?"


Aku mengangguk.


"Nak, apa yang kamu inginkan belum tentu sesuai dengan apa yang kamu butuhkan. Umi tau, mencintai seseorang itu gak salah. Namun takdir Allah bukan kita yang menentukan, jika jawaban atas doa mu itu adalah wanita lain, mungkin saja memang itu yang terbaik, itu lah yang kamu butuhkan" Jelas umi panjang lebar.


"Tapi Umi, menurut pendapat Umi, bagaimana dengan Shazfa? apa Umi tidak menyukainya? bahkan Umi pernah bilang Umi sayang sama Shazfa, iya kan?" Tawarku lagi agar Umi mengubah Keputusannya.


"Apa kamu tidak menyayangi Lila?" Tanya Umi lagi.


"Ana hanya menganggapnya adik Umi, dari dia bayi ana sudah mengenalnya itu sebabnya ana menyayanginya" ucapku jujur


"Kadang kamu juga gak sadar kalau kamu sudah mencintainya sejak dulu. Soal Shazfa, bisa saja kamu hanya penasaran nduk. Hari ini, kita akan mengkhitbah Lila. suka gak suka, mau gak mau, pokoknya harus" kali ini yang berbicara adalah Abi.


Aku hanya diam mematung, khitbah? astaga tak pernah ku pikirkan sebelumnya.


ustadz Sakha POV,end.


***


Author POV

__ADS_1


Hari ini dirumah Patul akan ada masak-masak yang banyak, Keempat anak gadis bingung kenapa ummah memasak sebanyak ini . Hingga akhirnya...


" Ummah, maaf nih... masak sebanyak ini untuk apa ya? eh maksud Safia memangnya mau ada acara ya Ummah?" Tanya Sapi si kepo


"Memangnya kalian gak tahu teh?" Tanya Ummah balik, sementara The guys hanya menggeleng.


"Kamu juga gak tahu neng? Abah gak kasih tahu?" Tanya Ummah lagi memastikan pada Patul


"Enggak ummah, Neng teh dari tadi di kamar, ini baru keluar mau bantu masak" jawab Patul


Ummah tersenyum "Hari ini kan acara lamaran kamu Neng, nanti Ba'da Maghrib acaranya. Kamu teh sore nanti harus dandan yang cantik atuh" ucap Ummah Patul sambil mengelus rambut yang ditutupi jilbab putrinya.


deggg!


Mendengar itu ada dua hati yang kecewa di ruangan itu, mereka saling lirik . Patul dan Sasa mencoba untuk bersikap biasa saja, terlebih lagi Sasa yang harus menguatkan sahabatnya.


"Ummah, Neng balik kamar ya, mau ngerevisi skripsi" kata Patul lalu pergi . Sedangkan yang lain hanya saling melirik.


Ummah menatap ketiga sahabat Patul, ia mengerti perasaan anaknya dan kecemasan teman-teman anaknya itu. "Ya sudah, kalian ke kamar juga gih.."


"Sudah, di sini sudah banyak yang membantu nak" kata ummah lagi


"Kami permisi ummah, assalamu'alaikum"


"Waalaikumussalam"


Di kamar Patul, mereka melihat sahabatnya itu tengah menangis menghadap jendela. Ada rasa iba di hati mereka terutama Sasa yang harus menetralkan perasaannya juga.


"Patul" lirih Sasa.


Patul menoleh lalu memeluk Sasa, sementara sapi dan pipa hanya mematung di depan pintu.


"Loe harus kuat Tul, loe harus terima ini, karena ini takdir loe " ucap Sasa.

__ADS_1


"Sa, aku mau nanya boleh?" setelah ia bisa mengontrol tangisannya.


Sasa tersenyum "boleh, tapi bayar "


"Hasilnya kita bagi dua ya" celetuk Sapi membuat kami semua tertawa.


"Lu ya mulutnya ga bisa di rem dikit, gak lihat kondisi juga, ngeselin " ketus Pipa membuat Sapi cengar-cengir sendiri.


"Tadi mau nanya apa Tul?" ucap Sasa lagi


"Tapi kamu teh harus janji jangan marah sama aku, kamu teh juga jangan bohong sama aku" sahut Patul yang dianggukin oleh Sasa.


"Kamu beneran ikhlas lahir batin aku sama Gus Sakha?" tanya Patul sambil menggenggam tangan Sasa.


degggg


Jantung Sasa rasanya tak karuan, ingin rasanya ia menjerit sekarang.


"Patul , demi Allah gue ikhlaskan Gus Sakha untuk loe. lagian loe lucu deh, kaya do'i lakik gue aja sampai nanya ikhlas enggaknya" sambil tertawa getir.


"tapi---"


"Ga ada tapi-tapian, loe harus terima ini semua. Udah ah, ga enak temenan sama loe, loe nya cengeng.. iya gak the guys?" ucap Sasa sambil menghibur Patul


"Yaps, benar sekali " sahut Sapi dan Pipa yang kebetulan kompak


"Nah tuh" sambil senyum kemenangan dari Sasa.


"Eh jangan atuh" panik Patul membuat mereka semua tertawa kecuali Patul.


"Bwahahahhaa, sorry Tul muka kau lucu kali " ucap Sapi yang masih tertawa.


"kaya udang rebus iya gak guys hahahahah" kali ini Pipa yang nyahut.

__ADS_1


"Udah, udah.. Gak boleh begitu...." lerai Sasa, namun sedetik kemudian "Tapi memang iya sih hahahhaha" kata Sasa yang membuat Patul semakin kesal.


"ngeselin deh" sambil mengerucutkan bibirnya.


__ADS_2