Begitulah Takdir

Begitulah Takdir
Sasa Hamil


__ADS_3

"Permisi ..." Kata dokter Fitri agar mereka memberinya jalan untuk masuk.


"Saya cek dulu kondisinya ya!" seru dokter tersebut.


Dokter pun memeriksa Sasa, tiba-tiba tangan dokter Fitri meraba perutnya Sasa sambil sesekali ia tekan di beberapa tempat.


"Bagaimana kondisi istri saya, dok?" tanya Gus Sakhi, sementara dokter Fitri tersenyum lebar pada mereka.


"Ada apa, dok?" tanya Gus Sakha yang juga ikut khawatir namun hanya sebatas khawatir seorang ipar saja.


"Ning Shazfa nggak apa-apa. Dia hanya kelelahan." Ucap Dokter Fitri , tetapi Sasa langsung memotong nya.


"Tuh kan, apa Sasa bilang? Sasa itu gak pa-pa cuma kecapean aja." Sanggah Sasa.


"Jangan terlalu banyak gerak ya, Ning. Janin Anda masih terlalu kecil." Kata dokter Fitri.


"Siap dok." Jawab Sasa, namun sedetik kemudian... "Apa dok?"


"Maksudnya gimana dok? istri saya hamil?" tanya Gus Sakhi


"Belum ada yang tahu?" bukannya menjawab, dokter Fitri malah balik bertanya.


Gus Sakhi dan Sasa terdiam sambil menggelengkan kepalanya.


"Sebaiknya untuk memastikan lagi, Gus Sakhi membawa Ning Shazfa ke dokter kandungan untuk melihat lagi lebih jelasnya." Saran Dokter Fitri.


"Baiklah dok, terima kasih."


Setelah dokter Fitri pulang, teman-teman Sasa pun datang dan berhamburan memeluk Sasa.


Ekhm!


Semua terdiam, terlihat Gus Sakhi memasang wajah datarnya.

__ADS_1


"Pelan-pelan, istri orang itu!" Kata Gus Sakhi membuat semua nya terbahak-bahak.


Semua menyambut kebahagiaan itu dengan gembira, bahkan Ayah dan Bunda Sasa pun juga menyusul ke kota untuk melihat Sasa secara langsung.


🌼🌼🌼


Keesokan harinya, Sasa dan Gus Sakhi pergi ke dokter kandungan. Nomor antrian pun di ambil olehnya, dan mereka duduk sambil menunggu namanya di panggil.


"Mas, Sasa mau itu ..." Sambil nunjuk gulali (gula-gula kapas).


Gus Sakhi melotot dan menatap Sasa tak percaya, "Kamu serius, Yank?"


"Iya, beliin dong." Ucap Sasa memelas.


"Sayang, itu manis banget, nanti perut kamu kram loh."


Tolak Gus Sakhi dengan halus.


"Mas, turutin aja kalau istrinya ngidam." Kata Ibu-ibu yang duduknya berada di depan mereka.


"Hah? Emh, i---iya Mbak." Sahut Gus Sakhi sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Kamu tunggu di sini sebentar ya, Mas belikkan." Ujar Gus Sakhi membuat Sasa bersorak gembira.


Tak lama kemudian Gus Sakhi membawa gulali tersebut dan menyerahkannya pada Sasa.


"Terima kasih, suaminya Humaira." Kata Sasa membuat Gus Sakhi terkekeh geli.


"Sama-sama Sayang." Jawab Gus Sakhi.


Bertepatan dengan gulali tersebut habis, nama Sasa pun di panggil oleh perawat.


Mereka masuk ke dalam, dan duduk di depan dokter yang sudah mempersilahkan mereka untuk duduk.

__ADS_1


"Baik, Ibu Shazfa kapan hari pertama haid terakhirnya?" tanya dokter tersebut dengan lembut.


"Sasa lupa dok, tapi kayanya bulan lalu Sasa gak ada haid."


"Sudah test pack?"


"Belum dok."


Dokter tersebut tersenyum lalu mempersilahkan Sasa untuk baring di ranjang. Dokter Tania melirik perawat yang sebagai asistennya itu sekilas, "Tolong ambilkan gel nya, Sus."


"Baik Dok." Seru perawat itu. Kemudian perawatnya mengambilkan gel tersebut dan memberikannya pada dokter Tania.


"Kita mulai ya, Bu." Dokter tersebut menggerakkannya ke sembarang arah.


"Lihat Bu, kantung yang disebelah sana. Itu dia Bu calon anak Ibu dan Bapak. Alhamdulillah dia berada di dalam rahim. Oh iya untuk usia kehamilan itu sudah memasuki empat Minggu lima hari ya."


"Terus dok, untuk jenis kelamin?"


Dokter Tania tersenyum, "Sabar Bu ... ini terlalu dini dan jenis kelaminnya belum terlihat, empat bulan lagi baru bisa kita lihat dengan jelas. Ini saya kasih vitamin, Ibunya jangan banyak gerak dulu ya." Keduanya menatap monitor dengan sangat bahagia, bahkan sampai tidak bereaksi apa-apa sampai Dokter tersebut selesai menjelaskannya.


"Terima kasih dokter."


"Sama-sama Bu, terus bagaimana dengan keadaan ibu sekarang? apakah selama beberapa hari ini ada mengalami pendarahan?


"Tidak dokter, hanya sedikit keram saja."


"Itu masih hal yang wajar ya Bu."


"Kalau begitu kami permisi dulu, Dok."


"Iya, silahkan ..."


***

__ADS_1


__ADS_2