
"Karena mas tahu, semua akan berubah pada waktunya. Jujur, mas tahu kalau kamu belum sepenuhnya menerima mas di hati kamu. Akan tetapi mas juga tahu, kamu akan berusaha untuk itu. Humaira, cinta memang tidak bisa di paksa tetapi cinta akan datang karena terbiasa. Kamu mau jadi istri mas saja mas sudah bersyukur banget. Untuk saat ini mas memang nggak mau berharap lebih, tapi untuk ke depannya di hati Humaira ku ini, hanya ada mas dan anak-anak kita."
"Mas ...." Mata Sasa berkaca-kaca, ia tak dapat membendung perasaannya lagi.
'Aku bersyukur karena menjadi istri kamu, Mas. Aku janji, kamu lah yang terakhir.' Batin Sasa.
"Kenapa nangis? Mas keren ya?" Gus Sakhi kembali lagi menggoda sang istri, akan tetapi Sasa tidak kesal sekarang, malahan dia mengangguk patuh seperti terkena hipnotis dengan ketampanan suaminya yang saat ini sedang tersenyum padanya.
"Beneran mas keren?" tanyanya lagi.
"Iya, mas ku memang keren. Makasih mas, walaupun mas bukan yang pertama, Sasa bisa pastikan kalau mas lah yang terakhir."
..."Pada akhirnya, yang berjanji akan kalah dengan yang berani. Yang pertama akan kalah dengan yang selalu ada."~ Shazfa Aiysha Humaira...
🌼**
Pagi ini, Sasa sudah menyiapkan sarapan untuk semua orang di rumah nya. Kebetulan saat ini ada Mama dan Papa, juga ada Abi dan Umi yang baru saja datang karena kemarin mereka tidak bisa datang ke rumah barunya Gus Sakhi dan Sasa.
"Masya Allah, ini beneran kamu yang masak?"
"Benar Umi, tidak enak ya?"
"Enak banget, Nak. Wah bisa gemuk nih Sakhi kalau dimasakin kaya gini terus." Goda Umi membuat Sasa dan Gus Sakhi salah tingkah sekarang.
"Humaira ku memang hebat, Umi." Celetuk Gus Sakhi sambil menggenggam tangan wanita yang sudah menjadi istri sah nya itu.
__ADS_1
Uhukkk uhukk!
"Kamu ini, senang banget godain istri kamu!" tegur Umi sambil memberikan segelas air mineral pada menantunya.
"Makasih Umi," Sasa mengambil minuman itu dan meneguknya.
Sedangkan Mama dan Papa sedari tadi hanya diam sambil tersenyum bahagia karena mereka merasa senang jika putri kecilnya kini sudah berada di keluarga yang tepat.
"Oh iya, Bu Fitri nanti jadi kan ke rumah Abah? Bagaimana kalau kita bareng saja Bu?" tawar Umi pada Mama yang sedang membersihkan meja dapurnya.
"Umi mau ke sana juga?"
"Iya Bu, sekalian mau lihat anaknya Sakha."
"Sekarang mereka sudah bisa jalan Bu, sudah bisa panggil Ummi dan baba nya."
"Benarkah? Masya Allah."
Sedari tadi Sasa mencari keberadaan orang tuanya yang ternyata sedang nimbrung di dapur. Sasa menggelengkan kepalanya saking kesalnya. "Di cariin ternyata malah ngumpul di sini." kesalnya.
"Dih, udah punya suami juga masih sering ambekan, gak malu apa dilihat mertua?"
"Mama ..., kan Sasa jadi malu." Sasa menutup wajahnya karena mama nya sedang mempermalukannya di depan Umi yang sudah menjadi mertuanya itu.
"Masya Allah, pada ngumpul di sini ternyata. Sudah yuk, berangkat." Suara bariton itu mengejutkan Sasa dan orang tuanya.
__ADS_1
"Ya Allah, Sakhi kamu ini ngagetin aja!" omel Umi sambil berkacak pinggang.
"Mas ikut ke pesantren juga?"
"Iya, Humaira. Mulai hari ini mas juga akan ngajar di sana, Abah yang minta. Katanya guru Fiqih disana sedang cuti melahirkan ya?"
Sasa tampak berfikir sejenak, "Oh iya benar mas, Ustadzah Nisa cuti dari kemarin. Memangnya gak mengganggu jadwal di kampus mas?"
"Enggak, Sayang. Sudah mas pindahin jadwal nya."
"Duh, kita mah ngontrak ya Umi?" Kali ini yang menggoda mereka adalah Mama.
"Iya Bu, malah nunggak tiga bulan lagi." sambung Umi membuat kedua insan itu menahan malunya.
Satu jam kemudian, mereka sudah sampai di pesantren. Umi dan Mama langsung menghampiri Ummah yang sedang mengasuh Hawa, sedangkan Papa dan Abi sudah pergi ke panti asuhan di desa sebelah sejak selesai sarapan tadi. Sementara Gus Sakhi saat ini berjumpa dulu dengan Abah.
Sasa mencari keadaan sahabatnya alias The Guys, akan tetapi yang jumpa malah Ustadz Alif yang berjalan ke arahnya.
"Assalamu'alaikum"
"Waalaikumussalam"
"Bunda cari siapa? Maaf, tapi tadi ana lihat Bunda seperti mencari sesuatu."
"Iya benar, Lihat sahabat saya tidak?" Sasa langsung saja bertanya, dia tak ingin memberikan harapan yang seharusnya tak pernah ada.
__ADS_1