
"Nggak Bu, ada-ada saja Bubu ini ..." Mevlan menggaruk tengkuknya.
"Dasar anak lucknut! Kau kira Bubu bisa kau tokohi (bohongin)? Lupa ya lahir dari rahim siapa?" Bubu terus saja mengoceh, sampai Kak Ali datang menghampiri keduanya.
"Astaga, Baba cariin juga dari tadi, ternyata pada di sini. Ada apa sih?"
"Ini nih, anak Baba ... Dia lagi jatuh cinta, tapi nggak mau ngaku sama Bubu ..."
"Allahuakbar! jadi kaya gitu ceritanya? Biarin aja lah, Bu. Dia juga sudah gede kok. Tapi ngomong-ngomong, sama siapa sih?"
"Dih, si Baba ... Sok-sokan nasehatin Bubu, tapi kepo juga. Nggak tau lah, tanya saja tuh sama si Ucok." Jawab Bubu membuat Mevlan hanya menggelengkan kepalanya.
"Punya orang tua nggak ada yang rebes, eh beres maksudnya." Ucap Mevlan pelan.
"What?" teriak Baba dan Bubu, sementara Mevlan kini berlari untuk menghindari orang tua nya.
🌸🌸🌸
Hari semakin sore, di tempat lain ada yang baru saja mendarat ke Indonesia. Lelaki itu membawa seorang teman laki-laki yang kebetulan ingin mengabdi di pesantren milik Abah Kiyai.
"Assalamu'alaikum, tanah airku ..." gumam lelaki itu.
__ADS_1
"Waalaikumussalam, ya Akhi." Sahut temannya, lalu ia mengedarkan pandangannya. "Ternyata Ibu kota sudah banyak berbeda dari yang dulu ya, Bas."
"Oh iya, ente kapan terakhir kali ke ibu kota, Zay?"
"Waktu itu umur ana masih 5 tahun. Kedua orang tua ana sudah meninggal dan untung saja Paman dan Bibi mau mengasuh ana walaupun ana harus pergi ke luar negeri mengikuti mereka." Lirih Zaydan.
"Jangan sedih, nanti ana temanin ziarah ke makam orang tua ente, sekalian ajak yang lain." Sahut Fakhi.
"Terima kasih, Bas. Kalau nggak ada ente mungkin ana nggak bakal balik lagi kesini."
Di Cairo, Fakhi sering di panggil Abbasy. Entah kenapa panggilan itu melekat di nama lelaki itu padahal Fakhi sudah sering menyebut dirinya sesuai nama panggilannya.
"Nanti, jangan lupa ente kenalin ana sama gadis itu, ya ..." Kata Zaydan tiba-tiba.
"Ente beneran ada hati sama dia? jangan sakitin dia, awas aja!"
"Ana sudah istikhoroh berkali-kali, dan jawabannya tetap sama."
"Ya sudah, tapi jangan berharap lebih. Saudara ana sedikit tertutup, ana nggak tahu selera dia kaya ente atau nggak." Canda Fakhi.
"Apa ana kurang ganteng?"
__ADS_1
"Bukan kurang, tapi emang nggak ganteng!" sahut Fakhi sambil menggelengkan kepala, sedangkan Zaydan terkekeh mendengarnya.
Zaydan memang lebih tua dari Fakhi, tetapi dia sudah seperti saudara bagi Fakhi, begitupun sebaliknya. Zaydan sering memarahi Fakhi saat lelaki itu memanggil nya dengan sebutan Kakak karena itu terlalu formal, katanya.
"Cewek Indonesia cantik-cantik ya, sudah lama aku nggak lihat produk kaya begini." Kata Zaydan dengan polosnya.
'Pletak!!!!
"Astaghfirullah, Zaydan! Zina mata, woy! Ente mau ana sembelih? hah?"
"Ampun, Pak Kiyai ..." Sahut Zaydan, sementara Fakhi meninggalkannya di pasar tersebut.
Butuh waktu tiga puluh menit untuk sampai di rumah, senyuman Fakhi semakin mengembang saat melihat rumah yang sudah lama ia tinggal itu akhirnya terlihat lagi.
"Ini rumah ente?" suara bariton itu mengagetkan Fakhi.
🌸🌸🌸
*Nggak terasa, sudah mau di penghujung season 1 ya ... oh iya jangan lupa mampir juga di "Ranjang Pelampiasan Dewa". ☺️☺️☺️☺️☺️
SALAM SAYANG, AUTHOR❤️*
__ADS_1