
Keesokan harinya, Sasa sudah menceritakan semuanya pada Patul dan juga meminta Patul untuk tidak mengatakan apapun pada Sapi dan Pipa, sedangkan Gus Sakha dengan senang hati mengantarkan semuanya untuk pulang ke rumah orang tuanya.
Awalnya, Patul sangat terkejut mendengarnya apa lagi Gus Sakha yang memang mengenal Ustadz Ghibran sejak lama. Ia tidak menyangka kalau sahabatnya semasa mondok dulu akan melakukan itu pada Sapi.
"Ummi, Pakaian anak-anak sudah masuk ke dalam tas semua?" tanya Gus Sakha saat melihat Patul memasukkan pakaiannya ke dalam koper.
"Sudah Abi, tinggal sepatu dan sandal mereka saja yang belum." Kata Patul.
"Ya sudah, biar Abi yang siapin dan langsung masukin ke dalam mobil ya." Gus Sakha pun meninggalkan Patul yang sedang beres-beres.
Saat kembali, Gus Sakha terkejut melihat Patul menangis. Dengan langkah cepat, Gus Sakha memeluk Patul untuk menenangkannya. "Kenapa? hm? Ummi kepikiran sama Safia ya?"
Patul mengangguk. "Kasihan Sapi atuh."
"Sudah, jangan menangis. Semua sudah di atur oleh Allah, yang terpenting sekarang Ummi harus kuat. Safia pasti sangat membutuhkan Ummi dan yang lainnya sekarang. Pahamkan?"
Patul terdiam sambil mencerna ucapan suaminya, benar memang saat ini Safia lah yang harus di semangati, pikirnya. "Iya Abi, maafin Ummi."
Setelah bersiap-siap, Patul keluar dari kamarnya dan ternyata sudah ada Pipa dan Sapi di sana. Sementara Adam dan Hawa sudah berada di dalam mobil karena mereka sudah tidur. Bagian belakang mobil memang sengaja di sulap oleh Gus Sakhi seperti kasur mini, semua itu di lakukan untuk si kembar yang suka rewel di jalan.
__ADS_1
"Kenapa sih kita nyusul si micin?" tanya Sapi heran.
"Nggak tahu," jawab Pipa santai sambil mengambil cemilan.
"Anggap saja liburan." Sahut Patul dari belakang.
"Tapi kok aku merasa nggak enak ya?" tanya Sapi membuat Patul salah tingkah, untung saja Sapi tidak melihatnya sekarang, pikirnya.
🌼🌼🌼
Di perjalanan Sapi hanya diam, tidak biasanya dia seperti itu. Pipa mengernyitkan dahinya, ia merasa ada sesuatu yang tidak beres tetapi enggan untuk bertanya secara langsung pada Patul.
Tak lama kemudian mereka pun sampai di Pesantren Al Kausar, lalu memarkirkan mobilnya di halaman Abi.
"Kok aku ngerasa horor ya di sini?" pertanyaan itu lolos dari mulut Sapi, Gus Sakha dan Patul hanya bisa saling pandang. Mereka sedikit meringis melihat sahabatnya itu yang sudah merasakan sesuatu sejak tadi.
"Lu ngomong apa sih? sudah ayo!" seru Pipa sambil merangkul Sapi.
Setelah keluar dari mobil, Sasa dan Gus Sakhi sudah menunggu mereka di depan.
__ADS_1
Grep!
Tanpa aba-aba, Sasa langsung memeluk Sapi membuat sang empunya tersentak saking kagetnya. "Kenapa nya kau ini?"
Sasa menggelengkan kepalanya, "Biarkan seperti ini Pi, sebentar saja. Gue kangen sama loe."
"Lebay kali kau." Kata Sapi membuat semuanya tertawa.
Setelah itu mereka di persilahkan masuk oleh Gus Sakhi dan di berikan satu kamar untuk Pipa dan juga Sapi.
"Hai Adam, hai Hawa. Rindu sama Ante nggak?" Sasa menghampiri keponakannya yang asyik dengan ice creamnya.
"Lindu banget Ante," jawab Hawa.
"Hawa butan Ante mandilna, tapi mommy! (Hawa, bukan Ante manggilnya, tapi Mommy!)" kata Adam memperingati Hawa.
"Mommy?" tanya Hawa heran.
"Iya, nanti dedek bayina mandil Ante itu Mommy! belalti kita juda mandil Mommy bial cama kaya Dedek bayi, iya kan Mommy? (iya, nwnti dedek bayinya manggil Ante itu Mommy! berarti kita juga manggil Mommy biar sama kaya Dedek bayi, iya kan Mommy?)"
__ADS_1
Ucapan Adam membuat Sasa tertawa, kedua bayi itu sangat menggemaskan baginya. "Iya, boleh kok panggil Mommy." Sahut Sasa membuat bayi kembar itu gembira mendengarnya.