Begitulah Takdir

Begitulah Takdir
Kepergian Sasa


__ADS_3

"Mbak Ratih ..."


Rupanya, dari tadi seseorang mendengar percakapan keduanya. Sasa terbangun dari tidurnya lantaran ia mendengar suara Mevlan menangis. Ia terkejut saat melihat suaminya tidak ada di sampingnya untuk menjaga Fakhi yang kebetulan juga ikut tidur. Saat ia mencari suaminya, matanya tertuju pada seorang wanita yang sedang berbicara dengan laki-laki yang wajahnya tidak begitu kelihatan karena terhalang oleh dinding.


Sasa pun berjalan semakin dekat sampai akhirnya ia melihat sosok tersebut adalah orang yang sangat di kenalnya, lelaki yang kini menjadi belahan jiwanya. Sasa hanya bisa menjadi pendengar saat ini walaupun dadanya sedikit sesak sekarang.


"Mbak Sasa!" pekik Ratih terkejut.


"Ada apa, Mbak? kenapa wajah Mbak begitu tegang?" Sasa berpura-pura tidak tahu.


"Nggak pa-pa, oh iya Mbak Sasa dari kapan disana?" Terlihat jelas wajah Ratih begitu kaku sekarang.


"Dari tadi, Mbak."


"Jadi ...."


"Iya, saya mendengar semuanya. Kenapa Mbak begitu tega?" Sasa menghela napasnya. "Mbak, bagaimana mungkin Mbak merusak rumah tangga seseorang sementara Mbak juga melihat rumah tangga tersebut sangat bahagia?"


"Maaf sebelumnya, Mbak Sasa. Saya tidak bermaksud seperti itu. Tapi, bukankah poligami di agama kalian itu diperbolehkan?"


"Tentu saja di perbolehkan, tapi bagi mereka yang mendapatkan ridho dari istri pertamanya. Bagi mereka yang memang dapat berlaku adil. Dan bagi mereka yang tidak karena paksaan."


"Kalau begitu, penuhi saja ketiganya, beres'kan?" Ratih berbicara seolah menantang, kali ini wanita itu seperti bukan Ratih yang sebelumnya.

__ADS_1


"Astaghfirullah, Saya nggak habis pikir dengan jalan pikiran Mbak!"


"Jujur ya, Mbak. Saya sudah lama menunggunya, bahkan dari kalian belum saling kenal. Saya ..."


"Saya tahu semuanya, Mbak. Bahkan Mbak rela lompat dari jembatan itu hanya karena cinta kan? ck! itu cinta apa pembodohan?" Sasa terpancing emosi, bahkan ia melupakan rasa sakit di perutnya sekarang.


"Itu bukan urusan kamu!"


"Jangan pernah merusak hubungan rumah tangga saya, atau Mbak akan menanggung akibatnya." Ancam Sasa.


"Humaira!" bentak Gus Sakhi tiba-tiba datang.


Sasa tersentak, sementara Ratih kini berpura-pura sedih agar mendapat simpati dari Gus Sakhi.


"Kamu nggak pa-pa kan, Tih?" bukannya menjawab Sasa, Gus Sakhi malah mengkhawatirkan Ratih.


"Aku, hiks ... hiks ...." Ratih melancarkan aksinya, "Aku nggak pa-pa, istri kamu hanya mengancamku tadi."


"Humaira!" lagi-lagi, Gus Sakhi memanggilnya dengan nada sedikit tinggi.


"Astaghfirullah, Mas mempercayainya?" Sasa menggelengkan kepala, ia tidak menyangka suaminya itu akan percaya begitu saja.


"Tentu saja, kamu lihat ini, dia menangis. Ini rumahnya, Humaira. Harusnya kamu mengerti dengan adabmu sebagai tamu."

__ADS_1


Deg!


Kata-kata Gus Sakhi benar-benar menyayat hatinya. Sasa begitu kecewa dengan suaminya. Sementara yang lain hanya bisa melihat kegaduhan itu, mereka tidak berhak untuk ikut campur karena situasi benar-benar menegangkan.


"Oh, begitu ya? Baiklah, maaf sebelumnya. Tapi kini saya akan tunjukkan bagaimana adab saya sebagai tamu di desa ini, permisi." Jawab Sasa dengan menahan sesak di dadanya.


"Sasa!"


"Micin!"


"Tunggu, Sa, aku ikut!"


Begitulah teriakan ketiga sahabatnya, tapi Sasa meminta mereka untuk tidak ikut dengannya. Awalnya mereka tidak ingin menurutinya tetapi Sasa memohon dengan sangat, apalagi dia senang hamil tua, mereka tidak ingin terjadi sesuatu pada sahabat dan kandungannya itu.


"Kak! Sadar!" teriak Gus Sakha yang kecewa dengan kakaknya.


'Shazfaku, maafkan aku yang kini untuk menghapus air matamu saja itu tidak bisa. Kamu harus kuat, Sa.' Batin Gus Sakha.


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


Waduh, kemana Sasa? ada yang tahu nggak???


Sebentar, othor cari dulu. Tapi sebelumnya, othor mau rekomendasiin lagi nih punya teman othor, cekidot👇

__ADS_1



__ADS_2