Begitulah Takdir

Begitulah Takdir
Benar-benar mengejutkan


__ADS_3

Sejak terlontar kata 'sayang' Patul sedari tadi hanya diam saja, ia kalut dengan perasaannya, dipikirannya kini bercabang. Banyak pertanyaan yang masih mengganjal namun ia takut untuk bertanya langsung.


ceklek


Gus Sakha keluar dari kamar mandi, ia mencari istrinya itu namun tak kunjung ketemu. Ia fikir Patul saat ini sedang bersama teman-temannya, lalu ia memakai pakaian yang sudah disediakan istrinya itu.


Sampai saat pakaian sudah terpasang, pandangannya tertuju pada wanita cantik yang sedang duduk di balkon mereka.


Gus Sakha tersenyum lalu mendekati istrinya.


grepp


"Astaghfirullah" ujar Patul saking kagetnya saat melihat tangan kekar sudah melingkar di pinggangnya.


"ya Allah aa' ngagetin saja"


"Bidadari AA kenapa melamun disini?"


Patul menggelengkan kepalanya lalu Gus Sakha semakin mendekatkan wajahnya "Aa tahu pasti ada sesuatu, ayo cerita sama Aa' "


"Tapi janji atuh, kalau neng cerita aa gak marah sama Neng. Jujur, ini buat Neng jadi kepikiran"


"Iya sayang"


degggg


"Aa' ngomong apa tadi?"


"Sayang, memang gak boleh?"


"Tapi---"


"Mulai sekarang neng harus terbiasa dengan panggilan itu, kalau bisa sih neng juga manggil sayang. itupun kalau bisa ya hahahha!" ujar Gus Sakha sambil tertawa melihat wajah istrinya seperti udang rebus.


"Aa' mah ngeselin" sahut Patul dengan malu-malu


"hahaha! Istri aa' gemesin banget sih, jadi pengen" ucap Gus Sakha sambil menarik turunkan alisnya.


"Pengen apa? jangan macem-macem deh a' masih siang juga"


"hahaha! bercanda sayang. Ya sudah kamu mau bilang apa tadi?"


"Itu, anu-----" Lidahnya serasa beku saking kaku


"Pelan-pelan saja ceritanya".


"Sebenarnya aa' masih sayang sama Sasa gak? Afwan A' , kalau gak bisa dijawab sekarang jugak gak apa-apa " lirih Patul.


Gus Sakha terdiam, ternyata istrinya masih meragukan nya, pikirnya.


"Sini, duduk dulu!" sambil merangkul lengan Patul


Gus Sakha menarik nafasnya dalam lalu membuangnya secara perlahan.


"Aa' akan cerita, tapi kamu jangan tersinggung, fahim?" lalu Patul mengangguk.


"Aa' memang pernah menyukainya, aa' akui aa menyayanginya tapi itu dulu. Sebelum aa' beristikhoroh. Hari dimana aa mengetahui kalau yang dijodohkan dengan Aa itu adalah kamu, jujur aa' sempat frustasi. Bukan karena aa' tidak terima kamu jodoh aa' tapi aa gak menyangka gadis yang Aa jaga sejak kecil adalah jodoh aa'. Aa' akui kalau aa sudah menyayangi neng sejak kecil. Aa' berniat untuk istikharah selama beberapa hari, apalagi kata Abi kita akan langsung di nikahkan. Bagi aa pernikahan itu sakral, tidak main-main, begitu pun dengan perasaannya."

__ADS_1


"Aa' sempat istikhoroh?"


Gus Sakha mengangguk "Iya, dan kamu tahu apa jawabannya?"


Patul menggeleng "Kamu! lagi-lagi hanya kamu jawabannya. Aa' juga bingung, tapi ini takdir Allah. Sejak saat itu, aa sudah menepiskan perasaan aa' untuk teman kamu itu. Jujur, aa masih menyayanginya namun itu hanya sebagai rasa sayang seorang Kakak dengan adiknya, begitu juga dengan teman-teman kamu yang lain. Apa neng keberatan dengan itu?"


"Kalau Sasa masih sayang AA gimana?"


"Gimana ? gimana apanya? kamu meragukan sahabat kamu?"


"Bukan begitu A, neng hanya-----"


"Dengarin aa. Kamu harusnya bangga dengan sahabat kamu, kenapa? karena dia wanita hebat. Kamu jangan marah dulu Neng. Sasa lah yang sudah mengakhiri semuanya, dia punya hati yang lapang menerima takdir nya. Aa' rasa dia juga sudah melupakan aa. Percaya sama Aa', kalau dia sudah ikhlas dengan takdir ini"


"Maafin neng ya a'


"kenapa minta maaf?"


"Karena neng sempat ragu"


"Tidak masalah, yang penting neng sudah jujur dan terbuka."


"Sekarang gantian, kenapa neng menerima Aa'?"


"Karena, takdir. wleeee" sambil tertawa


"Kok ngeselin?" jawab Gus Sakha dengan wajah memelas nya.


"Tapi aa' jangan besar kepala ya, neng malu" jawab Patul membuat Gus Sakha menahan tawanya.


"Neng tuh dari dulu udah sayang sama Aa' tapi neng pendam karena kata Abah neng akan di jodohkan dengan orang yang neng gak tahu siapa, jadi neng gak mau ambil resiko makanya neng pendam selama ini"


***


Malam tiba, ternyata Abah kyai dan Ummah memberikan kejutan kepada Patul dan teman-temannya. Selepas Maghrib Abah menyuruh Patul untuk mengajak The guys ke ruang aula.


Mereka pun sampai di ruangan tersebut, tapi keempatnya merasa heran karena ruangan itu dari luar terlihat gelap, pasti tidak ada orang di sana.


"Tul, ruangannya gelap. kayanya gak ada orang deh" ucap Pipa


"Aku juga ga tahu atuh, Kata Abah tadi sini kok.." sahut Patul yang juga bingung


"Ya sudah, kita masuk aja dulu. nanti telpon Gus Fathan " kata Sasa yang di anggukin ketiganya.


ceklek


Patul menghidupkan lampu, keempatnya tercengang dengan apa yang mereka lihat , saking terharunya mereka sampai mengeluarkan air mata bahagia.


"Masyaallah " ucap keempatnya.


Surpriseeeeeeeee


Semua orang yang hadirpun keluar dari tempat persembunyiannya. Dimana sudah ada Abah, ummah, Abi, umi, Gus Fathan, Ustadz Ghibran dan Gus Sakha.


Ruangan yang sudah di dekor pun terlihat mewah, apalagi ada bacaan "Selamat Sarjana The Guys"


Namun tiba-tiba

__ADS_1


Datanglah, tiga pasang orang tua yang tak terduga. Mereka datang jauh-jauh dari kampung halamannya hanya untuk melihat anak gadisnya tanpa mereka tahu.


Ketiga pasang orang tua tersebut sudah berada dibelakang mereka, namun ketiganya tidak mengetahui itu.


Masing-masing orang tua sudah membawakan nasi tumpeng, ketiganya serempak mengucapkan salam "assalamu'alaikum"


Sontak membuat ketiganya langsung melihat kebelakang saking kagetnya mereka langsung memeluk orang tuanya..


"Mamaaaaa, Papaaaaa" ucap Sasa sambil menangis


"Ayah, bunda..." lirih Pipa


"Mak, Pak... kok gak bilang kesini" ujar Sapi


"Bagaimana? kalian senang?" kali ini yang bertanya adalah Abah


Ketiganya merenggangkan pelukannya "Senang Abah "


"Euy, sudah dong acara tangis nya, sekarang acara makan hayuk, laperrrr atuh" celetuk Gus Fathan tanpa malunya, padahal ada orang tua Pipa disana.


Mereka masuk ke sesi makan. Hening, ya hanya keheningan karena mereka membiasakan diri untuk diam saat makan.


Seusai makan, tampak ke-empat orang tua dan juga orang tua dari Gus Sakha sedang asik mengobrol.


Tiba-tiba, Bundanya Pipa memanggil anak gadisnya..


"Fifa sayang, sini nak" pinta Bunda, membuat Fifa langsung menghampiri.


"Ada apa bunda?"


"Anak gadis bunda yang lain juga, sini"


Patul, Sasa dan Sapi juga datang, mereka bergabung bersama orang tuanya. Begitu pun juga dengan Gus Sakha, Ustadz Ghibran dan Gus Fathan.


"Ada yang mau Abah bicarakan"


Semua diam membisu sampai Abah membuka suaranya.


"Begini nak, jika kalian mau, kalian bisa ikut mengajar di pesantren ini, bagaimana?"


"Tapi bah-----"


"Nak, Abah tahu ijazah kalian belum keluar, tapi Abah juga tahu kemampuan anak gadis Abah. Dengan begitu kalian juga akan tinggal di pesantren ini, tak perlu nge kost, karena disini juga menyediakan tempat tinggal bagi pengajar yang rumahnya jauh"


"Iya nak, benar kata Abah. Bunda rasa itu ide bagus, bagaimana yang lain? setuju?"


Semua orang tua tampak setuju,.jadi mau gak mau para The Guys pun juga ikut menyetujui nya.


"Dan ada satu hal lagi yang kalian harus tahu, terutama kamu Fifa" ujar Ayah


"Ada apa Ayah?"


"Apa kamu menyukai Nak Fathan?"


degggg!


"Tadi, nak Fathan sudah menyampaikan niat baiknya, bagaimana? apa kamu menerimanya? jika ia, Ayah dan bunda akan pulang lebih awal untuk mempersiapkan segalanya.

__ADS_1


"Bagaimana nak?"


__ADS_2