
"Masyaallah, pantas Mirip. Salam Gus, nama saya Alif. dan untuk Bunda Shazfa, kita sudah kenalan kan? Dan ini Bunda Fifa dan Bunda Safia."
"Bunda?" ucap Pipa dan Gus Sakha bersamaan, sedangkan Gus Sakhi sedang menahan api cemburunya.
"Iya, masa kami di panggil Ustadzah? bukannya gak mau ya, tapi belum pantas." sergah Sapi membuat Semuanya mangut-mangut.
"Oh iya, bunda Shazfa kenapa tidak kelihatan beberapa hari ini? kamu masih sakit?"
"Dia sedang ada urusan keluarga kemarin." Kali ini yang menjawab adalah Gus Sakhi.
"Oh begitu ya Gus, tapi Gus kok tahu ya?"
Sasa yang mengerti suasana menjadi tegang kini ia berdiri dari kursinya "Maaf, saya pergi deluan. Ada panggilan alam, assalamu'alaikum."
"Panggilan alam? ada-ada aja bahasa kau bah!" celetuk Sapi yang lemotnya kumat.
Sasa langsung pergi dari tempat itu, kemudian ia pulang ke kamarnya. Sampai di kamar, Tiba-tiba ada yang mengetuk pintunya.
Tok, Tok, Tok!
ceklekkk
"Gus?" pekik Sasa
"Assalamu'alaikum, Humaira!" salam Gus Sakhi
"Waalaikumussalam" jawab Sasa singkat, lalu ia duduk di kursi depannya, sementara Gus Sakhi duduk di kursi sebelahnya yang jaraknya lumayan jauh.
"Ada apa mas?"
"Kenapa tadi pergi?" bukannya di jawab, dia malah balik tanya.
"Sasa capek mas, tadi baru sampai dari rumah."
__ADS_1
"Bukan karena suasana menjadi keruh kan?"
Seperti di jalan buntu, mau balik malu tapi diteruskan pun tak ada jalan lagi.
"Sebenarnya itu juga salah satunya."
"Ya sudah, kamu istirahat lah dulu. Mas mau balik ke kampus. Kalian kapan wisuda?"
The guys memang memutuskan untuk menunda wisuda nya, mereka bertekad akan melaksanakan wisuda saat uang mereka sudah terkumpul semua dengan hasil jerih payahnya sendiri.
"Insya Allah, tahun depan." singkat Sasa
"Mas pergi ya, assalamu'alaikum."
"Hati-hati mas, waalaikumussalam"
🌸🌼🌸
Saat Sasa sedang berbunga, berbeda lagi dengan Sapi yang tidak mendapatkan kabar dari Ustadz Ghibran. Lelaki itu pergi menghilang entah kemana, Umi juga bilang jika lelaki itu sudah resign dari pesantren.
Kini, Sapi berada di Taman dan menangis sejadi-jadinya, untung saja tak ada santri yang datang di jam segitu.
"Jangan terlalu meratapi makhluk ciptaan Allah." suara berat itu membuat Sapi tersentak.
Sapi mengusap air matanya "Kenapa disini Stadz?"
"Saya kebetulan aja lewat sini tadi, terus lihat kamu yang sedang menangis. Kamu kenapa?"
"Tidak apa-apa. Saya hanya butuh waktu untuk sendiri, Stadz."
Ustadz Alif pergi dari sana, akan tetapi setelah itu beberapa menit kemudian ia kembali lagi.
"Ambil!" titahnya sambil menyodorkan ice cream.
__ADS_1
"Ustadz kira aku anak kecil?" protes Sapi akan tetapi tangannya tetap meraih ice cream tersebut.
"Saya pamit dulu, Assalamu'alaikum" ujar Ustadz Alif lalu ia pergi.
Sapi begitu lahap memakannya, padahal yang dibeli Ustadz Alif ada lima buah ice cream dan dalam sekejap saja ice cream itu habis di makannya.
Ice cream ternyata dapat membuat Sapi melupakan kesedihannya, hingga datanglah Patul membawa si kembar dengan Baby Walker nya.
"Pi!" sambil mengagetkan Sapi dari belakang.
"Astaghfirullah!" pekik Sapi membuat Patul terkikik.
"Ngeselin kali kau ya, kalau aku jantungan kek mana?" sambung nya sambil memegang dada.
"Lagian kamu melamun terus, ada apa sih?"
"Orang tua gak boleh tau, iya kan babyku" sambil mengelus kepala Adam dan Hawa.
"Walaupun aku sudah jadi orang tua mah, aku lebih muda dari kamu kalau kamu lupa."
"Tauk ah, ngeselin kali kau."
"Kamu masih mikirin Ustadz Ghibran ya?"
"Enggak."
"Gak salah lagi, maksudnya? Sudahlah Pi, kalau jodoh mah gak kemana."
"Tapi dia sudah berjanji di depan orang tuaku...," sambil menghapus air matanya.
Patul merangkul Sapi ke pelukannya "Sudah, jangan nangis... "
"Aku gak pantas bahagia ya, Tul?"
__ADS_1
"Kamu teh ngomong apa? Istighfar atuh. Allah gak akan menguji hambanya di luar dari batas kemampuan sang hamba. Akan ada pelangi setelah hujan, kamu percaya kan?"
Sapi mengangguk "Aku harus move on!"