
Sementara saat ini Gus Sakhi sedang menunggu Hendrawan datang dan tak lama kemudian sahabatnya itu sudah berada di depan rumahnya.
"Afwan lama, bro!" Kata Pak Hendrawan saat Gus Sakhi sudah naik ke dalam mobilnya.
"Santai aja, bro!" Sahut Gus Sakhi.
Tak lama kemudian, mereka sampai di depan Kampus dan ternyata sudah ada Bu Nita yang menunggu mereka.
"Pagi, Pak!" Sambil tersenyum wanita itu menyapa keduanya.
"Pagi!" jawab keduanya dengan wajah datar.
"Pak Sakhi, saya hari ini boleh numpang gak?" Wanita itu terus saja berusaha untuk mendekati mereka.
"Maaf Bu Nita hari ini saya tidak membawa mobil." Sahut Gus Sakhi sambil mengambil absensi.
"Kalau begitu, kita naik taksi bareng saja bagaimana?"
"Kita tidak satu arah Bu, Maaf!" Tolak Gus Sakhi secara halus.
"Kata siapa? Pak Fahri memangnya tidak tahu?" Bu Nita semakin mendekat ke arah Pak Fahri, akan tetapi tiba-tiba saja Pak Hendrawan menghalanginya.
"Tahu apa ya Bu?" kata Pak Hendrawan.
"Gak ada yang dapat Email dari Pak Rektor?" Kali ini Bu Nita bersikap profesional karena di dalam ruangan sudah banyak Dosen yang datang.
"Tidak!" Jawab Hendrawan sambil menggelengkan kepala.
__ADS_1
"Kita ada seminar di hotel A, dan beruntungnya saya itu satu kelompok dengan kalian berdua." Ucap Bu Nita sambil menunjukkan pesan di ponselnya.
Hendrawan langsung mengambil ponsel tersebut, dan memperhatikannya dengan baik. Hendrawan langsung mendekati Gus Sakhi yang sekarang berada di mejanya sendiri. "Khi, coba ente lihat ini."
Gus Sakhi pun melihatnya, matanya langsung melotot seakan tak percaya. "Kenapa pakai kelompok segala?"
"Mana ana tahu, coba deh tanya Bu Siska dulu." Jawab Hendrawan, tak lama kemudian Bu Siska pun datang ke ruangan tersebut.
"Bu Siska!" panggil Pak Hendrawan.
"Iya, Pak!" Bu Siska pun datang ke arah mereka.
"Maaf Bu, mau nanya ... Itu beneran ya ada seminar?"
"Benar Pak, saya juga baru saja mendapatkan pesan dari Pak Rektor."
"Sepertinya begitu Pak, kata Pak Bambang kursi di hotel itu ada tiga buah per meja, nah biar nanti lebih rapi saat di lihat tuan rumah makanya sebelum masuk ke ruangan harus barengan sesuai dengan kelompoknya masing-masing."
"Baiklah, terima kasih Bu."
"Sama-sama, saya permisi dulu ya. Mari!"
Setelah Bu Siska pergi, Gus Sakhi dan Pak Hendrawan saling tatap Kebingungan, sedetik kemudian Gus Sakhi menaikkan bahunya pertanda tidak tahu.
"Bagaimana, Pak? kita barengan kan?" Suara bariton itu membuat Gus Sakhi dan Pak Hendrawan bubar tanpa menyahuti ucapannya.
'Hahaha! Gak sia-sia punya Om sebagai Rektor." gumam Bu Nita.
__ADS_1
Ya, Bu Nita sudah tahu dari kemarin bahwa hari ini akan ada seminar, untuk itu dia menghubungi Om Dinata sebagai Rektor di kampus ini untuk membuat konsep yang berbeda. Pak Dinata memang tidak tahu alasan khusus dari Bu Nita, jika dia mengetahuinya maka beliau pun tidak akan setuju karena Pak Dinata terkenal dengan sikap yang jujur selama ini.
Setelah mengajar, mau gak mau Pak hendrawan dan Gus Sakhi memperbolehkan Bu Nita untuk bergabung dengan mereka di dalam mobil.
"Pak Sakhi duduknya di belakang aja dong bareng saya." Ucapnya tanpa dosa.
"Astaghfirullah." gumam Gus Sakhi dan Pak Hendrawan.
"Mohon maaf, saya duduk di depan saja." Gus Sakhi langsung duduk di kursi depan.
Akan tetapi, tiba-tiba Bu Nita turun dari kursinya dan dengan secepat kilat ia langsung mengambil kursi supir membuat Gus Sakhi dan Pak Hendrawan terkesiap melihatnya.
"Apa yang Bu Nita lakukan?" tanya mereka serempak.
"Biar saya saja pak yang menyetirnya." Jawabnya santai.
"Bu Nita silahkan kembali ke belakang, ini mobil saya jadi anda tidak berhak mengatur saya." Tegas Pak Hendrawan.
"Bapak mau naik atau saya tinggal nih?" Bukannya nurut, Bu Nita malah mengancam Pak Hendrawan membuat sang empunya menghela napas kasar.
Pak Hendrawan mau gak mau pun akhirnya menurut saja apa yang disuruh Bu Nita. Beliau duduk di kursi belakang, tetapi saat Gus Sakhi ingin menyusulnya tiba-tiba mobil jalan dengan cepat sampai membuat Gus Sakhi hampir saja jatuh ke pelukan Bu Nita saking kagetnya.
"Jangan bersikap tidak sopan ya, Bu!" Tegas Gus Sakhi.
"Tapi saya tidak melakukan apapun, Bapak saja yang ingin dekat-dekat dengan saya. Iya kan?" Sambil dikedipkan nya matanya membuat Gus Sakhi menggeleng kepala.
"Sudah lah Khi, sebaiknya ente pandang aja wajah istri ente di ponsel!" Saran Hendrawan membuat Gus Sakhi mengangguk Patuh.
__ADS_1