Begitulah Takdir

Begitulah Takdir
Anu


__ADS_3

Sedetik kemudian, Gus Sakha tertawa lepas "bhahhahahahahha"


Beda hal nya dengan Patul, ia berdengus kesal melihat ketiga sahabatnya itu, bisa-bisanya sahabatnya itu memberikan pakaian haram untuknya.


"Sepertinya teman-teman kamu sangat mengerti Aa neng"


"Eh?" Patul kaget karena tiba-tiba saja ia berada dipangkuan sang suami.


"Ada apa sayang?" Sambil menarik turunkan alisnya.


"Emh , itu, anu... A' lepasin atuh, Neng malu" Sambil menutup wajahnya dengan kado yang diberikan temannya itu.


"Baiklah, tapi setelah ini kamu harus coba pakaian yang diberikan teman kamu" sambil tersenyum


"A! baju nya kan kurang bahan gini, gak ah neng gak mau nanti masuk angin"


"Sayang, nolak suami itu dosa loh... Bukan masuk angin yang ada, tapi masuk buah hati di dalam sini" sambil mengelus perut sang istri yang dilapisi baju itu


blushh


Kedua pipi Patul merah merona, ia pun tak tahu harus menaruh dimana lagi wajahnya. Ada-ada saja si Patul.


Patul masuk ke kamar mandi, ia sedikit ragu memakainya namun ia harus pakai karena suaminya sudah menyuruh nya.


ceklek


Saat Patul keluar , Gus Sakha sedang bermain dengan laptopnya. Ia tak menyadari jika sang istri sudah berada di depannya.


"A!" panggil Patul lembut, Gus sakha menoleh, dan...


Glekkkk


"Sa---sayang" Gus Sakha terbata-bata.


Patul tersenyum dan sedetik kemudian Gus Sakha menerkamnya tanpa ampun.


Skip


***


Keesokan harinya, Sasa Sapi dan Pipa sedang asik membantu Ummah di dapur. Patul terlambat bangun karena setelah sholat subuh tadi Gus Sakha meminta lagi.


"Assalamu'alaikum" sapa Patul kepada sahabatnya dan yang lainnya


"Waalaikumussalam" sahut semuanya.


"Maaf ya, Patul telat bangun" ucap Patul pelan


"Iya , kami ngerti kok" Sahut Sasa


"Olahraga malamnya asik ya Tul?" tanya Sapi tiba-tiba membuat yang lainnya menahan tawa.


"Sapi!!!!" tegur Patul


"Apaan sih, kan nanya" sahut sapi dengan polos nya


"Iya asik atuhlah, nuhun kadonya!" ketus Patul


Sasa dan yang lainnya saling pandang, dan sedetik kemudian...

__ADS_1


"Bhahahhahahhahahah! ngakak! hahahahhah" Suara mereka begitu menggelegar sampai membuat Abah pergi ke dapur .


"Ada apa neng?" Suara bariton menghentikan tawanya


"Tidak ada apa-apa Abah," Sahut Patul, lalu Abah kembali lagi ke depan.


"Kalian sih" ketus Patul


"Oh jadi ada yang udah unboxing nih?" Goda pipa


"Pantesan telat bangun"


"Iya, sampai subuh pula, hahahhaha"


Ketiganya sengaja menggoda Patul sampai Patul benar-benar malu, apalagi disana ada beberapa santri yang membantu.


"Udah ah, aku tinggal kalian mah jahat" ucap Patul meninggalkan dapur.


"Aya Aya wae" ucap Ketiga sahabatnya mengejek


***


Sore harinya, Sasa Sapi dan Pipa pamit untuk pulang ke kost beserta keluarga nya. Mereka memang tidak ingin berlama-lama, apalagi besok adalah hari yang menegangkan bagi Pipa. Karena ia sudah berjanji akan menjawab lamaran dari Gus Fathan .


"Kalian apa gak nunggu besok saja?"


"Pengen sih, tapi ya gimana, Loe lupa besok sahabat kita mau jawab lamaran? ekhemm" ucap Sas


"Oh iya, aku lupa . Ya sudah kalian hati-hati"


Mereka di antar oleh supir nya Abah Kyai, Sementara Abi dan Umi sudah lebih dulu pulang ke rumahnya.


Sasa memikirkan apa yang di ucapkan oleh Umi nya Gus Sakha tadi, ucapan itu membuat hatinya tak tenang.


"Apa maksud Ummi ya?"


Flash back on


Sasa sedang duduk di taman, Karena taman di pesantren ini merupakan salah satu tempat favoritenya. Tiba-tiba...


"Assalamu'alaikum" suara lembut seorang wanita paruh baya membuat Sasa tersentak


"Waalaikumussalam, umi?" jawab Sasa


Umi tersenyum "Boleh Umi gabung?"


"Silahkan Umi"


"Kamu senang ya di taman?"


"Sasa memang hobi duduk di taman Umi, ke Asrian hijaunya membuat Sasa ketagihan hihi" sambil tertawa renyah.


"Pantesan waktu dipesantren Umi, kamu juga sering disana"


"Hahah! iya umi, bahkan taman yang di pesantren umi itu salah satu tempat favoritenya Sasa juga sekarang. Entah kapan lagi Sasa bisa kesana" lirihnya


Mendengar itu seperti sebuah tamparan bagi Umi, karena memang jujur ia kini juga menyukai Sasa dan menginginkan Sasa menjadi menantunya, tapi bukan dari Sakha melainkan anaknya yang lain.


"Maaf Umi" ucap Sasa tiba-tiba

__ADS_1


"Sini peluk Umi"


Cukup lama mereka berpelukan, keduanya kalut dengan perasaannya.


"Nak, Umi akan selalu menjadi Umi kamu. Jodoh gak ada yang tahu, bisa saja kamu jodoh kakaknya Sakha"


degggg.


"Maksud Umi?"


Belum sempat Umi menjawab, Ummah sudah terlebih dahulu datang


"Assalamu'alaikum"


"waalaikumussalam"


"Mbak disini ternyata" ucap Ummah


Sasa yang merasa tidak ingin mengganggu pun pamit untuk ke kamar.


Flashback Off


dooooooooorrrrrr


"Astaghfirullah!" pekik Sasa


"Hehehhehe" siapa lagi yang petakilan begini kalau bukan Sapi


"Gue sembelih loe nanti" ketus Sasa


"Kau lah pulak, udah mau Maghrib malah duduk disini. Awas kesambet kau" jawab Sapi


"Ya suka-suka gue dong" ucap Sasa


pletakkkk


"aw!" pekik Sasa


"Mampus kau! lagian, ponsel kau mana? ditelpon mamakmu kau bukannya di angkat. Turun yuk, dicari mamakmu itu, makanya kalau pergi jangan bawa sendok"


"Siapa yang bawa sendok?"


"Ya kau lah, kan kata orang kalau bawa sendok pasti di cari mamak hahahah!" ucap sapi tanpa dosa


Sasa yang mendengarnya hanya bisa menggelengkan kepala, bagaimana bisa dia punya sahabat yang tingkat kekonyolannya sangat dewa seperti ini .


"Kau mikirin apa sih?"


"Gak ada, gue cuma pengen cari angin aja"


"Masuk angin kau yang ada, bodooooh!"


pletakkkk


"Aw!" kali ini yang mekik adalah Sapi


"Tuh, rasain" ucap Sasa lalu meninggalkan sapi yang masih kesakitan


"Sasaaaa! awas kau ya micin! dasar Sasa Marisa hei hei"

__ADS_1


***


__ADS_2