Begitulah Takdir

Begitulah Takdir
Merindukanmu


__ADS_3

"Ekhmm mulai panas nih," celetuk Sapi


Tak lama kemudian pelayan nya datang membawa makanan yang kami pesan . Suasana menjadi hening menikmati makanan yang sudah kami pesan.


Setelah itu kami kembali lagi melanjutkan perjalanan kami. Dua jam berlalu, akhirnya kami sampai di halaman pesantren milik Abah Kyai.


"Alhamdulillah" sorak kami gembira.


Kami segera turun dari mobil dan membawa segala macam barang kami ke dalam kamar. Tiba-tiba ada seseorang yang mensejajarkan jalannya denganku.


"Assalamu'alaikum" sapa nya.


"Waalaikumussalam" jawabku tanpa menoleh


"Mau ana bantu?" ya, lelaki itu Ustadz Sakha


"Gue bisa sendiri" ketusku


"Setelah ini apa kita masih bisa bertemu?".


Aku menoleh sekilas "Ga tau juga, berharapnya sih enggak ya."


"Kok gitu Dek?"


Aku pura-pura mencari siapa yang dia tanya, ku lihat kanan kiri yang gak ada siapa-siapa.


"Cari siapa?" Tanyanya heran.


"Cari orang yang Ustadz panggil Dek"


"Kamu beneran gak mau ketemu Ana?"


"Gue mau, tapi tidak begini keadaannya. Ustadz gak lupa kan kalau ada dua orang yang bukan mahramnya terus jalan beriringan seperti ini yang ketiganya apa? hush sana!"


"Astagfirullah, ya sudah Assalamu'alaikum" ujar Ustadz Sakha yang sepertinya tidak ingin berdebat.


"Waalaikumussalam" Aku menatap kepergiannya, jujur ini semua sangat menyedihkan, tapi aku harus bagaimana?


'Aku merindukanmu Bang ' lirihku pelan, sangat pelan bahkan nyaris tak terdengar. Tapi aku kaget ketika Ustadz Sakha berhenti sejenak, eh apa dia mendengarnya? Aku menarik nafas panjang saat melihatnya melanjutkan langkahnya lagi.


***


Dua bulan sudah berlalu, kini aku kembali dengan rutinitas ku. Apalagi kalau bukan skripsiku yang tak kunjung usai.


Selama Dua bulan ini kami masih suka ke pesantren milik Abah Kyai, Aku sering melihatnya mengajar, aku juga pernah berpapasan dengannya lalu saat ia ingin menyapa aku langsung pergi begitu saja. Ternyata, menjaga jarak itu gak mudah, ya.

__ADS_1


Pagi yang sejuk, Aku sudah bersiap dengan membawa skripsi ku ini keluar kamar, tanpa menunggu lama kedua sahabatku juga keluar dari kamarnya. Kami pun jalan beriringan.


"Gak terasa ya , bentar lagi kita tamat, loe bakal balik ke Medan ya Pi?" tanyaku saat berjalan


"Ya iyalah rindu juga aku sama mamak bapakku walaupun kerjanya asik merepet (mengomel) aja " Jawab Sapi sambil cengengesan membayangkan kedua orang tuanya.


"Bakal jauh dong" lirihku


"Eh kau jangan kek gitu, masih pagi ini masa udah galau aja" jawab Sapi.


"Terus, loe juga balik Pa?"


"Sekarang gua tanya sama lu, apa lu gak balik? hm?" sahut Pipa.


"Ya balik sih, berarti masa kita akan usai dong?"


Pipa mengangguk "Semua ada masa nya, setiap ada pertemuan pasti ada perpisahan. Tapi bukan berarti kita gak akan jumpa lagi, kita hanya berpisah karena jarak dan waktu, bukan karena alam dan dunia"


"Alamakjang, seram kali bahasa kau itu"


"Udah ah, yuk tunggu Patul di dekat pos satpam aja" celetukku yang mulai ingin nangis .


***


Akhirnya Hari yang kami tunggu akan datang, Janji yang dilontarkan dosen pembimbing kami itu harus kami tagih sekarang. Bagaimana tidak? Dia berjanji untuk meluangkan waktu sehari full time untuk kami.


"Duh gue degdegan banget" celetukku


"Iya, sama. kira-kira kita semua di Acc gak ya?" sahut Pipa


"Gak tahu lah, yang penting sekarang kepalaku pun berkeringat ini sangkin gugupnya" kata Sapi


",husst udah ya jangan ngedumel gitu. Yang penting kita harus doa untuk yang terbaik." sahut Patul


"Ayo, masuk semua....." kata Bu Dosen Pembimbing.


bismillah, gumam kami.


Kami sudah berbaris di dalam ruangan, Nama kami satu persatu di panggil , dan.....


"Alhamdulillah" sorak kami semua. Entah sebuah kebetulan atau memang tahun ini di jurusan kami ini semuanya kompak jadwal sidangnya .


"Pulang nanti ke pesantren yuk" Ajak Patul, membuat semua melihatku.


"Kenapa pada lihatin gue?" tanyaku heran

__ADS_1


"Lu Gimana? tahan kalau lihat Ustadz Sakha?"


"Ya biasa aja, Yuk Tul, tapi kita beli kemeja putih dulu nanti ya, gue ga punya" Ucapku.


"Buat apa?" tanya Sapi si lemot


"Buat Kain lap, ngeselin loe.. buat sidang lah"


"Oh iya, astaga naga... untung kau ingatin, aku juga gak punya"


Kami berjalan ke kantin, sudah sangat jarang kantin ini kami singgahi sekarang, bahkan nanti tak akan di singgah lagi.


Kami cukup kaget ketika ada dua orang yang berjalan mendekati kami, dia salah Syauqi dan mantannya yang mungkin sekarang sudah jadi pacarnya.


"Tuh orang masih gak kapok ya" celetuk Sapi


"Cabut yuk" kataku lalu aku langsung berbalik badan, namun tiba-tiba...


brukkkk


Aku menabrak seseorang, aku menunduk karena malu dilihat orang dan takut jika yang ku tabrak akan marah.


"Maaf," Lirihku


"Kalau jalan pakai mata" ketusnya.


"Iya, sekali lagi maaf, saya buru-buru", ucapku sambil memberanikan diri melihatnya.


"Kamu?"


"Bapak?"


Ucap kami barengan, Ya aku sudah tahu dia adalah dosen dari orang yang menyapa nya di perpustakaan, walau aku tak tahu dia ngajar mata kuliah apa .


"Ceroboh sekali kamu ini", ucapnya


",Maaf pak, saya pergi dulu" ucapku tapi tiba-tiba ada yang memanggilku..


",Shazfa!" kata lelaki itu, Syauqi.


"Semua sudah selesai Syauqi, pergi dan jangan muncul di hadapan gue lagi!" ketusku di balik badan lelaki yang kutabrak.


"Tapi sa?"


"Telinga kamu masih berfungsi kan? pergi!" tegas bapak itu.

__ADS_1


"Iya pak"


Setelah Syauqi sedikit menjauh, aku bergeser dari tempat yang tadi " Terimakasih pak"


__ADS_2