Begitulah Takdir

Begitulah Takdir
Kok loe lagi sih, Bim?


__ADS_3

Ternyata Takdir sedang tidak berdiam diri, tapi ia tengah menunggu kita memainkan ceritanya dalam bentuk kepastian, entah itu untuk memulai, mempertahankan atau pun mengikhlaskan.


Pipa berjalan di trotoar sambil menangis karena saat ini dia hanya butuh waktu untuk sendiri. Mengapa harus ada pertemuan jika itu akan berbanding lurus dengan perpisahan?


ckiiiittt


Sebuah mobil hampir saja menabraknya, Pipa menghampirinya dengan niat ingin memarahi orang tersebut "Woy! Bisa nyetir gak?"


Kata-kata itu lolos begitu saja, tapi saat Pipa melihat orangnya Pipa langsung terdiam. Kenapa dia lagi? pikirnya.


"Hei, Mbak! aku tuh udah benar nyupirnya, Mbak aja yang melamun." Protes Lelaki itu.


"Kok jumpa lu lagi sih Bim? Apa dunia ini sempit ya?"


"Gak tahu, jodoh kali."


"Pengen muntah, gua muntahin ke muka lu ya."


"Dih, galak! Ayo naik"


"Gak, makasih"


"Ayo Mbak, gak bagus malam begini perempuan jalan sendiri. Mbak kalau belum mau pulang juga gak papa, Mbak mau kemana? Biar Tak antarin!"


"Tap------"


"Ayo Mbak, jam segini rawan preman lewat loh" kata Bima menakuti Pipa.


Sebenarnya Pipa tidak takut karena dia jago bela diri, tapi kakinya juga lumayan pegal untuk berjalan.


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


Di mobil, Pipa menangis terus dan Bima membiarkan nya begitu saja. Bima mengajaknya kesebuah villa yang berada di daerah puncak yang indah, bahkan villa itu ternyata milik pribadinya.


"Ini dimana?" tanya Pipa heran


"Ini Villa punya Bubu. Mbak gak usah khawatir, aku gak akan ngapa-ngapain Mbak kok. Aku hanya nemanin Mbak nangis."


"Setiap aku sedih, aku selalu kesini Mbak. Tempat ini mengingatkan aku pada Baba. Dulu baba pengen banget punya villa pribadi, dan Alhamdulillah kami sudah mewujudkannya sekarang walau tanpa Baba."


"Memangnya baba sakit apa?"


"Baba gak sakit Mbak, Tak ada pertanda apapun saat beliau meninggal. Beliau sedang Adzan tapi dipertengahan adzannya berhenti dan Baba terjatuh. Orang yang sholat membawa Baba pulang dalam keadaan sudah meninggal."

__ADS_1


"Astaghfirullah"


"Bisa mbak bayangin kan? Saat pergi pamit untuk sholat, namun saat pulang tinggal kenangan." Bima menatap ke depan seolah ingatannya berputar ke beberapa tahun silam.


"Pasti sakit banget ya Bim?"


Bima mengangguk "Aku anak bodoh mbak, Baba sendiri meninggal eh aku malah saat itu lagi diluar. Bahkan aku tak lihat saat baba ditutup kain kafan, hiksss ..."


"Bim, jangan nangis... Semoga baba Husnul khotimah, Aamiin."


"Aamiin. Sebentar ya Mbak"


Bima pergi dari sana, Pipa kembali menatap lurus ke depan. Angin yang menerpa kini membuat pikirannya menjadi tenang sekarang.


Tak lama kemudian Bima kembali lagi dengan membawa dua bungkus nasi dan dua botol minuman.


"Makan Mbak" sambil menyodorkan nasi itu.


"Gua kenyang, lu aja bim"


"Makan dong Mbak, nangis juga butuh tenaga loh"


'Eh benar juga, hmm" gumam Pipa.


"Ekhm, katanya kenyang tapi makannya lahap bener"


blushhh


Pipa baru menyadari tingkahnya yang memalukan, pipinya merona menahan malu. Ingin sekali rasanya dia lari dari sana.


"Bim kalau lu mau pulang gapapa, tapi gua boleh nginap disini kan?"


Bima menggeleng


"Kok gak boleh? Pelit lu"


"Makanya orang belum ngomong tuh jangan di potong. Bukan gak boleh nginap tapi gak boleh sendiri an. Mbak mau nginap kan? ya sudah aku temenin mbak, tenang aja kamar disini ada Empat."


"Beneran boleh?"


"Iya mbak galak"


"Cih, hahahha" Pipa tergelak

__ADS_1


"Eh ternyata lu asik juga ya Bim, gua kira lu taunya ngelesin Mulu hahahhaa"


"Aku memang asik mbak orangnya, kalau mbak kenal aku pasti nanti mbak bilangnya aku ngangenin."


"Duhhh percaya diri sekali anda!!!"


"Hahaha ya sudah mbak, aku masuk ke kamar yang di sebelah kiri sana ya... Ingat, jangan salah kamar nanti."


"Hmm..."


Sepeninggal Bima dari tempat itu, Pipa baring di rerumputan yang mengarahkan ke pemandangan puncak itu. Ia baru ingat kalau The guys belum mengetahui keberadaannya.


"Oh iya, the guys" Sambil merogoh saku celana kulot nya.


Begitu Pipa membuka ponsel ia dikejutkan dengan panggilan masuk sampai beribu kali, dan disusul dengan pesan Beratus kali hingga membuat ponselnya lemot seketika.


"Ahh, kebiasaan ni bocah-bocah" Kesalnya.


Dengan terpaksa Pipa me-restart ulang ponselnya dan langsung mencari nama Sasa disana.


๐ŸŒธin call


"Assalamu'alaikum micin"


"Waalaikumussalam, loe kemana aja sih? kok belum balik? kami khawatir tauuuu! Ngeselin banget loe"


"Udah nyerocos nya?"


Sasa mengangguk


"Lu tenang aja, gua baik-baik aja. Gua cuma ingin sendiri, itu aja. Eh lu mau tau gak gue dimana?"


"Ya mau lah makanya gue tanya tadi"


"R a h a s i a , rahasia!! hahaha, nih coba nih lihat"


Kemudian panggilan itu beralih ke video call.


"Masyaallah, keren banget Pa... loe dimana sih? gue ikut dooong!"


"Hahaha udah gua bilang rahasia, keren kan? ya sudah gua mau lanjut menatap langit dulu. Dah jangan nungguin gua, tidur aja Sono. bye bye micin bawel"


"Dih sok banget, ya sudah bye. Assalamu'alaikum"

__ADS_1


"Waalaikumussalam "


__ADS_2