Begitulah Takdir

Begitulah Takdir
Akhi Fillah


__ADS_3

"Mirip ya Pi?" goda Patul


"Kali pun, kok bisa kek gitu?" ambigu nya Sapi


"Maksudnya?"


"Entah, aku juga gak tahu mau ngomong apa!"


Bruk!


Patul melemparkan bantal bayi pada Sapi membuat sang empunya meringis kesakitan padahal tidak sakit tapi ya bukan Sapi namanya kalau tidak lebay.


Sasa masuk ke dalam kamar Patul dan melihat kegaduhan tersebut tanpa mengganggu mereka. Saat Patul dan Sapi usai bertengkar mereka langsung menoleh ke ambang pintu sambil cengengesan.


"Kalian ya, sudah kaya kucing sama tikus saja!" omel Sasa


"Ini nih si Sapi, suaranya gede pisan." adu Patul


"Enak kali kau nyalahin aku, kau juga salah udah ngelempar aku tadi woy!" elak Sapi.


"Stop! Adam mana?" sanggah Sasa


"Adam sama kakaknya Gus Sakha. Memangnya kau gak jumpa di depan?"


Sasa menggeleng "Gak ada siapa-siapa tuh di depan. Ya sudah gue main sama si cantik hawa aja." Lalu Sasa melihat bayi kecil yang sedang tidak tidur tapi tidak menangis . "Iya kan Nak? Ughhh tayang Ante" Sambil menirukan suara anak kecil.


Saat asik main dengan bayi kecil itu, tiba-tiba Gus Sakha masuk ke dalam dan membawa Adam yang sedang menangis.


"Loh, Mas?" cicit Patul.


"Sayang, Adam haus nih." Gus Sakha memberikan Adam pada Patul.


Sasa melihat keromantisan pasangan satu ini, sedikit meringis tapi ia tutupi dengan senyuman.


"Oh iya, tadi Kak Sakhi titip salam sama kamu dan yang lain. Katanya dia harus balik ke kampus sekarang karena ada jadwal ngajar gitu."


Patul dan yang lainnya mengangguk tanda mengerti.


"Sa, Kau sudah pernah liat kakaknya Gus Sakha?" celetuk Sapi tiba-tiba

__ADS_1


"Belum, kenapa?"


"Mirip kali loh sama Gus Sakha..." kata Sapi seperti sales menawarkan barang.


Sasa semakin bingung sambil mengerutkan alisnya "Terus?"


"Udah? gitu doang reaksinya?" kata Sapi lagi


"Jadi gue harus apa Sapi? Salto-salto sambil bilang WAW gitu?" omel Sasa dengan mata mendelik.


"Sasa seram ya kalau sudah marah, kayak mamak-mamak! Patul aja yang mamak-mamak gak kek kau, Sa!" ujar Sapi santai


"Bukan gue yang kaya mak-emak, tapi mak-emak yang kaya gue. Puas loe?" ketus Sasa. Untung saja adam dan Hawa tidak terganggu.


"Astaghfirullah, masih lanjut ngomelnya? nih ana bawain minum, ngomel juga butuh tenaga kan?" Suara bariton terdengar dari ambang pintu.


Gus Sakha membawa Es Teh manis beserta nampan nya dan meletakkan nya di atas meja.


"Gus kapan perginya?" Tanya Sapi heran.


"Tadi, kamu sih keasikan ngoceh." Ledek Gus Sakha .


"Pamit dia, mau jumpain Bima." sahut Patul.


"Bima? Pada ngerasa aneh gak sih? kok belakangan ini mereka..." Sasa menghentikan ucapannya saat Gus Sakha meletakkan minuman di depannya.


"Minum dulu, Soal Pipa mari kita doakan saja yang terbaik untuknya." Sahut Gus Sakha membuat Sasa menjadi diam.


Perhatian kecil itu mungkin terlihat biasa saja, tapi tidak dengan Sasa. Lelaki yang berada di hadapannya sekarang memang bukan miliknya, tapi dulu lelaki itu lah yang berhasil mengambil hatinya untuk pertama kali. Entah memang itu yang dinamakan cinta atau hanya kagum semata, akan tetapi Sasa sangat merasa nyaman di kala itu. Waktu memang cepat berlalu, Sasa pun berharap perasaan ini segera berlalu.


"Terima kasih" sahut Sasa setelah beberapa detik.


Suasana menjadi hening karena Sapi bermain dengan ponselnya, Gus Sakha menidurkan Adam dan Patul juga menidurkan Hawa. Sasa pun mengambil ponselnya dan membuka salah satu sosial media nya.


Tiba-tiba saja rasanya ia ingin sekali membuka sosmed tersebut padahal sudah lama ia tak membukanya.


Matanya tertuju pada sebuah pesan dari seseorang yang ia tak kenal.


๐Ÿ’ŒAkhi Fillah

__ADS_1


Assalamu'alaikum wr.wb.


Perkenalkan ukhti, nama saya Sakhi. Jujur, selama ini saya mencari tahu tentang Ukhti sejak pertama kali kita bertemu. Pertemuan yang tidak disengaja, namun Allah menghadirkan rasa itu. Maafkan saya jika saya lancang dan saya ingin mengajak Ukhti Shazfa untuk ber ta'aruf dengan saya. Berikut saya sertakan CV saya.


(xxx.docx.x)


Saya akan menunggu jawaban Ukhti sampai satu Minggu ke depan. Semoga Allah menolong niat baik saya. Aamiin... Aamiin."


Prang!


"Astaghfirullah"


"Kenapa Sa?"


๐ŸŒธ๐ŸŒผ๐ŸŒธ๐ŸŒผ๐ŸŒธ๐ŸŒผ๐ŸŒธ๐ŸŒผ๐ŸŒธ๐ŸŒผ๐ŸŒธ๐ŸŒผ๐ŸŒธ๐ŸŒผ๐ŸŒธ


Wiiiih Sasa dapat pesan dari siapa tuh?


Ini tipe cowo yang gak bertele-tele gak sih? kalo menurut othor sih iya, dunia nyata ada gak ya?๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚


Yuk, dukung othor yuk..


jangan lupa ya, like koment fav dan hadiahnya dunia๐Ÿค—


lumayan kan beli kembang api buat anak othor hehehh๐Ÿฅฐ


Oh iya , othor kembali lagi ingin promo in punya teman othor nih, cekidot๐Ÿ‘‡



Sinopsis:


Pura-pura menjadi orang miskin malah mempertemukan Ruby dengan seorang pemuda kaya yang angkuh dan sombong bernama Melvin.


Lelaki itu tersenyum sinis seakan merendahkan, "Heran kampus bisa menerima mahasiswa jorok seperti ini. Miskin lagi. Ini kampus atau yayasan sosial. Mekanisme yang aneh."


"Hahaha.... Kata-katamu kejam sekali, Vin. Kasihan dia masih baru di sini. Nanti kena mental."


Belum tahu saja mereka kalau orang yang sedang dihina juga anak seorang pengusaha besar.

__ADS_1


__ADS_2