Begitulah Takdir

Begitulah Takdir
Keberadaan Sasa


__ADS_3

Sasa terjaga, perlahan ia membuka mata dan memandang sekitarnya. Tempat yang begitu asing baginya, rumah terbuat dari papan dengan bercahaya satu lampu sedikit redup itu 'lah tempat nya sekarang. "I ... ini dimana?"


Seorang nenek tua datang dengan jalan sedikit menunduk karena umurnya, "Syukurlah, Cung... Kamu sudah sadar."


"Nenek!" pekik Sasa saking kagetnya.


"Kamu sekarang berada di rumah Nenek, Kemarin cucung Nenek yang membawamu kesini. Katanya kamu pingsan di jalan, mana lagi hamil pula."


"Makasih, Nek. Ngomong-ngomong cucu Nenek sekarang dimana?"


"Sedang bekerja, Cung. Oh iya, kamu bukan orang sini ya? Tinggal dimana?"


Pertanyaan Nenek membuat Sasa sedikit meringis karena mengingatkannya pada suaminya.


"Saya cucunya Kakek Ibnu, istri dari Mas Sakhi."


"Oh, Istrinya Cung Sakhi. Nenek kenal betul sama dia, dulu sering belanja di warung Nenek. Weleh, Cantik tenan kamu, Cung."


Sasa hanya tersenyum menanggapinya, lalu ia ingin duduk tetapi perutnya kembali sakit.


"Jangan banyak gerak dulu, Cung. Kata Bu Bidan tadi kamu harus istirahat karena kandungan kamu sedikit lemah."


"Apa bayi saya baik-baik saja, Nek?"


"Alhamdulillah, Cung. Karena bayi kamu memiliki ibu yang kuat, maka dia juga akan kuat."


Sasa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, bagaimana mungkin Nenek itu tahu jika dirinya punya masalah dengan Gus Sakhi.


"Maaf kalau Nenek ikut campur. Nenek rasa, masalah itu untuk di hadapin. Bukan di hindari, Cung. Nenek cuma merasa kamu dengan suamimu sedang ada masalah sekarang. Percaya 'lah, jika menyelesaikannya dengan kepala dingin maka hati kamu pasti akan lega, pikiran jernih dapat membuat keputusan yang jernih pula. Nggak bagus masalah rumah tangga itu sampai berlarut-larut, Cung."

__ADS_1


"Hiks ... hiks ...." Sasa menangis sejadi-jadinya, kata-kata Nenek itu membuatnya merindukan suaminya. "Tapi, saya masih sakit hati mendengar ucapan suami saya, Nek. Dia menyuruh saya menjaga sikap pada masalalu nya. Padahal, bukan saya yang mencari masalah duluan." Tanpa sadar, Sasa membongkar aib suaminya.


"Maaf, tapi apa maksud kamu itu si Ratih?"


"Apa Nenek mengenalinya?"


Nenek mengangguk, "Dia memang dari dulu menyukai suamimu, Nak. Saran Nenek kamu harus kuat-kuat hati dan telinga selama disini."


"Maksud Nenek?"


"Ratih itu sudah tergila-gila dengan Cung Sakhi, selama Sakhi pergi ia sudah seperti orang gila yang selalu menganggap dirinya sebagai kekasihnya Sakhi. Terkadang, warga disini kasihan melihatnya yang terlalu obsesi pada Suamimu itu."


"Astaghfirullah. Sampai segitunya, Nek?"


"Iya, Cung. Apa kamu mencintai suamimu?"


"Sangat, saya sangat mencintainya, Nek."


Sasa mengepalkan tangannya, "Demi Allah, saya nggak Ridho, Nek."


Nenek tersenyum, "Sabar, Nenek hanya mengujimu. Cuma kamu 'lah yang mengerti suami kamu, jika dia khilaf sedikit saja maka sebagai Istri kamu harus memakluminya, Cung. Mungkin bukan maksudnya menyakitimu."


Sasa merenung sejenak, "Nenek benar, Mas Sakhi pasti Khilaf." Ucapnya pelan.


"Ya sudah, kamu istirahat saja dulu. Di luar hujan, semoga saja suami kamu tidak mencarimu di kondisi seperti ini."


"Terimakasih, Nek."


"Sama-sama ..."

__ADS_1


Sasa hanya bisa meringis, Tidak mungkin suaminya seperti itu, pikirnya. Ia mencoba membuka ponsel, matanya membulat sempurna ketika Jaringan yang tiba-tiba muncul itu membuat banyak sekali pesan masuk ke Ponselnya.


Hubby.


[Sayang ... Maafkan, Mas. Bukan maksud Mas untuk membuat kamu tersinggung, Mas seperti itu hanya untuk melindungi mu dari wanita itu.]


Sasa mengernyitkan alisnya, "melindungi apa? dasar modus!" Gumam Sasa. Lalu ia membuka pesan lainnya ...


Hubby.


[Humaira, jika terjadi sesuatu padamu Mas nggak akan pernah bisa memaafkan diri Mas sendiri. Mas mohon, kembali 'lah. Mas dan Fakhi sangat membutuhkan kamu, Sayang. Fakhi sakit, apa kamu tidak mau melihatnya?.]


'Prang!


'Astaghfirullah, Fakhi sakit?' Batin Sasa bertanya-tanya tanpa memperdulikan pecahan gelas yang pecah akibat tersenggol tangannya.


💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔


***Astagaaaa, kok jadi rumit gini ya, Sa? heran Othor.


Oh iya othor punya rekomend lagi nih, cekidot👇***



***blurb:


Humaira Khema Shareen adalah salah satu gadis yang menjadi korban pembullyan di kampus karena memiliki wajah yang berjerawat dan berkulit coklat. Dia juga mendapatkan tekanan batin oleh ibunya sendiri yang membuatnya merasa insecure.


Hingga suatu hari kejadian naas membuatnya terjebak dalam ikatan pernikahan dengan seorang pria cassanova bernama Guntur Syakir Alhusayn. Dia disiksa, dicaci dan dihina oleh suaminya sendiri ketika sedang hamil.

__ADS_1


Hadirnya kekasih Syakir di antara mereka berdua semakin membuat Humaira menderita. Lalu bagaimana kisah ini berakhir?


Apakah Humaira akan bertahan dengan Syakir atau dia memilih bercerai dan meninggalkan pria itu***?


__ADS_2