Begitulah Takdir

Begitulah Takdir
Pamit dengan calon mertua gak jadi


__ADS_3

Hari ini, Pipa pamit pada Abah Kiyai dan The guys untuk pulang ke kampungnya. Hanya beberapa hari, tetapi semuanya seperti tak rela kehilangan Pipa.


"Pa, loe jahat banget sih gak bilang dulu ke kita ..."


"Lu kalau mau ikut ya ayok loh micin, lu juga Patul ayok kalau mau ..."


"Eh tunggu, aku gak diajak nih?" celetuk Sapi dengan berkacak pinggang.


Pipa langsung mendaratkan jewerannya pada Sapi,q membuat sang empunya meringis kesakitan. "Aw! sakit, ampun ampun ampun ..."


"Rasain lu! siapa suruh nyosor aja, dengerin dulu orang ngomong. Ini ngomong masih setengah sudah di potong aja kaya tukang angkot lu."


"Iya deh, Lupita akika!" lirih Sapi yang langsung dapat pelototan dari The Guys.


"Kenapa mata Kelen? sawan?"


"JADWAL NGAJAR JANGAN DI PAKE UNTUK NGERUMPI YA BUNDA SAFIA, JADI ALAY TAU GAK!"


Prok! Prok! Prok!


Sapi terkekeh-kekeh melihat sahabatnya pada kesal dengannya. The guys paling anti dengan kata-kata aneh kaya tadi, hanya Sapi yang suka begitu karena sering mengobrol dengan para santri. Saat asyik bercanda, tiba-tiba ...


"Assalamu'alaikum!" suara bariton itu membuat semuanya terkesiap, terutama Pipa.


"Waalaikumussalam." Jawab mereka serempak.


"Ana tadi ngga sengaja dengar, Fifa mau balik kampung kah?"


Pipa mengangguk, "Benar Gus."


"A! kunaon?" Patul terlihat panik, bukan karena apa-apa ia hanya takut sang kakak tidak bisa melupakan sahabatnya itu dan menyakiti Indah yang sedang tengah hamil muda.

__ADS_1


"A teh cuma nanya atuh, memangnya gak boleh?" setelah itu ia kembali melihat Pipa yang sedang menunduk, "Jangan sungkan untuk main ke pesantren ya, Neng."


"Maksud Gus apa ya? Gus mengira gua berhenti ngajar?"


"Loh, memangnya enggak ya? terus ngapain ke kampung?"


"Pftttt hahaha!" semua terkekeh melihat Gus Fathan yang sudah salah sangka.


"Maaf ... maaf ...," Pipa sambil menggelengkan kepalanya, "Gua cuma sebentar, kangen Bunda sama Ayah aja."


"Mau lamaran juga tuh si Pipa," celetuk Sapi tanpa sengaja.


Gus Fathan tampak diam beberapa saat, walau bagaimana pun Pipa pernah singgah di hatinya. "Be ...benarkah?"


"Doakan saja yang terbaik, Gus." Singkat Pipa sambil tersenyum.


"Se ...La ...mat ya!" ucapnya sambil gelagapan.


Semenjak Menikah, Gus Fathan sudah pindah di sebelah rumahnya Abah Kiyai. Awalnya rumah itu dihadiahkan Abah untuk Patul dan Gus Sakhi, akan tetapi karena Gus Fathan sudah menikah juga dan memiliki anak sambung akhirnya Patul memberikan rumah itu kepada kakaknya. Sedangkan saat ini Abah sedang membuat rumah untuk Patul di sebelah kiri nya. Abah sengaja mengosongkan beberapa luas tanah sejak dulu untuk anak dan cucunya kelak.


"Silahkan, iya hampir tiap hari perutnya kram dan kata dokter harus banyak istirahat Neng." Jawab Gus Fathan.


"Ya sudah A, Abah ada di rumah gak? Pipa mau pamit."


"Ada atuh, baru saja siap sholat Dhuha."


"Kami pulang dulu ya, Assalamu'alaikum."


Mereka pun pergi ke rumahnya Abah Kiyai. Sasa begitu terkejut karena yang berada di sana adalah suaminya.


"Assalamu'alaikum," salam mereka serempak.

__ADS_1


"Waalaikumussalam." sahut Abah dan Gus Sakhi.


Tak lama kemudian, keluarlah dua bocah kecil menghampiri Sasa.


"Anteeeeee!!!" ujar keduanya langsung memeluk Sasa.


"Uuuu tayang Ante, lucu banget sih." Sahut Sasa.


Saat ini, usia Adam dan Hawa sudah satu tahun. Sementara Sasa dan Gus Sakhi belum juga mendapatkan keturunan.


Gus Sakhi menatap istrinya penuh rasa iba, beliau sangat mengetahui jika sang istri sangat menginginkan seorang anak, tapi apalah daya jika Allah belum memberikan kepercayaan itu pada mereka.


'Bersabarlah Humaira, suatu saat Allah akan menghadiahkannya pada kita.' Gumam Gus Sakhi.


Sasa yang tahu jika sang suami sedang menatapnya pun ia juga melihat suaminya, pandangan itu menyatu seperti sedang saling memberikan kekuatan.


"Tumben pada kesini?" Suara Abah memecahkan keheningan.


"Ini Bah, Pipa mau mengutarakan surat cintanya." Celetuk Sapi membuat semua terkekeh, sedangkan Pipa hanya menggarukkan kepalanya.


"Ada apa, Nak?"


"Fifa mau izin pulang ke rumah Bunda selama seminggu, boleh gak Bah?"


Abah mengerutkan alisnya, "Memangnya kenapa? apa kamu sedang ada masalah?"


"Tidak Abah, Fifa ...," Pipa menghela nafasnya, lelaki paruh baya didepannya ini dulunya adalah calon mertuanya dan kini ia meminta izin padanya untuk bertunangan dengan lelaki lain, sungguh sangat lucu pikirnya.


"Itu Bah, anu ... Fifa mau di khitbah Bima." Ucapnya dengan kepala menunduk menatap lekat lantai saking malunya.


"Alhamdulillah." sorak Abah dan Gus Sakhi. Juga ada Ummah yang baru saja muncul dari arah belakang.

__ADS_1


Pandangan Pipa langsung menuju Ummah yang sudah sangat disayanginya itu. "Ummah ..." panggil Pipa sambil memeluknya.


__ADS_2