
Kini hari menjadi sore, Sasa dan teman-temannya memutuskan untuk pulang ke rumah mereka. Sasa ingin sekali pergi ke barak (Asrama) tempat Sapi dan Pipa tinggal, akan tetapi dirinya sadar jika sekarang di adalah seorang isteri.
Ceklek!
Sasa membuka pintu rumahnya, terasa sepi memang jika tidak ada suami di sampingnya. Apalagi, rumah ini terlalu besar kalau di huni untuk dua orang saja. Tanpa terasa air mata pun mengalir begitu saja dari pipinya, keinginannnya memiliki anak sangatlah tinggi dan itu pula lah yang membuatnya merasa sedih saat teringat keinginannya itu.
"Kok gue sekarang gampang sedih ya?" gumam Sasa dalam hati.
Malam harinya, Sasa mengambil wudhu dan melaksanan sholat Maghrib. Setelah sholat, ia mengadukan semua keluh kesahnya pada sang Pencipta.
"Yaa Allah, aku hanya manusia biasa yang bisanya hanya meminta. Aku mohon pada Mu, izinkan aku mendapatkan titipan Harta yang tak ternilai itu, aku mohon Ya Allah." Sasa memberhentikan ucapannya sambil terisak-isak.
"Hiks ... hiks ..., Aku meminta padamu Yaa Allah, hanya padamu. Aku ingin hadirnya bayi mungil di keluarga kecil kami ini. Aku mohon, hiks ... hikss ...."
Sasa terus saja menangis sampai ia tertidur dengan masih memakai mukenah nya. Cukup lama ia tertidur, bahkan dirinya belum memakan apapun dari tadi siang.
Di sisi lain, pukul 21.15 Gus Sakhi baru saja siap mengajar di kampus dan kini ia tengah menunggu Hendrawan untuk mengantarkannya pulang.
"Assalamu'alaikum Khi." Salam Hendrawan yang baru saja datang.
"Waalaikumussalam." Sahut Gus Sakhi.
__ADS_1
"Lama ya? Afwan, ana tadi ke ruang Dosen sebentar." Ucap Hendrawan tidak enak karena telah ditunggu.
"Belum lama kok Hen, santai aja. Pulang sekarang kita?"
"Siap Bos."
Hendrawan adalah Teman Gus Sakhi sejak Kecil, makanya mereka terlihat akrab sekali.
Tibalah di parkiran, akan tetapi saat Gus Sakhi ingin naik ke mobil tiba-tiba datang seorang wanita mencegahnya.
"Pak Sakhi!" Panggilnya.
Gus Sakhi dan Pak Hendrawan pun berbalik badan untuk melihat siapa yang datang.
"Udah mau pulang ya?" tanya Bu Nita dengan nada semanis mungkin.
"Iya Bu." Jawab Gus Sakhi.
Sejak pertama kali bertemu, Bu Nita sudah menyukai Gus Sakhi apalagi dia tahu kalau Gus Sakhi akan menjadi Rektor dalam waktu dekat ini. Pakaiannya yang minim membuatnya merasa cantik seperti primadona di kampus itu.
Walaupun banyak yang mengakui kecantikannya, akan tetapi bagi Gus Sakhi dan Pak Hendrawan wanita itu terlihat biasa saja.
__ADS_1
"Boleh numpang gak?" pertanyaannya membuat Gus Sakhi dan Pak Hendrawan saling tatap.
"Mohon maaf Bu, tapi saya sudah terlambat." Kali ini yang menjawab adalah Pak Hendrawan, Lelaki itu tahu jika sahabatnya ingin menolak Bu Nita yang sengaja mendekati mereka.
Bu Nita berdengus kesal melihat Pak Hendrawan yang mencoba untuk menggagalkan nya. "Bapak kan yang terlambat? kenapa Bapak tidak memesan ojol saja?"
Pak Hendrawan langsung diam, melawannya pun percuma pikirnya. Sementara Gus Sakhi tersenyum sinis melihat Bu Nita yang masih saja berusaha mendekatinya. "Mohon maaf Bu Nita, sebaiknya Ibu saja yang naik ojol. Karena saya juga sudah di tunggu di rumah."
"Kalau begitu, saya ikut ke Rumah Pak Sakhi saja, gimana? Hitung-hitung kenalan dengan keluarga Bapak." Ucapnya tanpa dosa, Bu Nita memang tidak tahu kalau Gus Sakhi sudah menikah.
"Maaf Bu, saya tidak ada waktu lagi. Istri saya sudah menunggu."
Deg!
Bagai di sambar petir baginya, ucapan Gus Sakhi membuat Bu Nita tersentak kaget, ia sangat kecewa dengan ucapan Gus Sakhi.
"I ... istri?" tanyanya gelagapan.
"Iya Bu, saya sudah ber istri. Maaf karena tidak mengundang Ibu karena kami menikah di kediaman istri saya. Kalau begitu saya pamit dulu ya, Assalamu'alaikum." Gus Sakhi langsung masuk ke dalam mobil.
Sedangkan Pak Hendrawan tersenyum geli mendengarnya. "Ingat Bu, Pak Sakhi sudah menikah. Kalau Ibu mau, masih ada saya. Assalamu'alaikum." Goda Pak Hendrawan sambil terkekeh, setelah itu ia masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
Kepergian Gus Sakhi dan Pak Hendrawan membuat Bu Nita kesal, ia menatap mobil Gus Sakhi sambil mengepalkan tangannya. "Awas kalian! Dan aku akan merebut mu dari istrimu itu, Sakhi!" gumamnya.