Begitulah Takdir

Begitulah Takdir
Cerita Pipa


__ADS_3

"Iya mbak, saya" beo nya.


"Kamu kan..." ucap Pipa terpotong


"Yang ganteng itu" kata Bima sambil membetulkan kerah bajunya.


"Cihhh!!! percaya diri sekali anda. Jadi benar lu yang bawa gue kesini?"


"Iya mbak, daripada saya bawa mbak ke penghulu kan lebih baik saya bawa kesini"


"Bima....." Tegur bubu


"Iya , maaf" lirihnya.


"Sorry deh mbak karena udah lancang bawa Mbak kesini, kemarin hujan lebat mbak ditambah lagi saya panik jadi saya mendadak pikun dimana rumah mbak. Sekali lagi saya minta maaf ya mbak."


"Oke, gua maafin. Makasih ya udah nolongin gua . Dan lagi, gua sudah gak tinggal di sana."


"Sudah, sudah... Sekarang ayo ke ruang makan, kalian belum makan kan?"


"Gak usah dek Bu, saya mau pulang aja. Maaf Bu sebelumnya." Tolak Pipa halus .


"Ini sudah kemalaman nak, besok pagi saja biar di antar sama Bima ya. "


"Hah?" teriak mereka bersamaan.


"Kompak benar" goda bubu.


"Eh, mana ada gitu..." protes Pipa


"Itu namanya kebetulan Bu, refleks gitu..." Bima tak mau kalah.


Setelah perdebatan panjang akhirnya mereka makan malam dan bubu mengajak Pipa untuk tidur bersamanya di kamar.


"Ayo nak, tidur..."


"Maaf Bu, apa boleh saya duduk dulu di depan?"


"Ya sudah, tapi jangan lama-lama ya. Langsung ke kamar saja nanti kalau sudah ngantuk dan kamu jangan sungkan, oke?"


"Siap bubu..."


Pipa berjalan ke depan dan duduk di teras rumah. Pipa menatap langit cukup lama sampai tiba-tiba air matanya menetes begitu saja.


"Gak baik anak gadis diluar malam-malam " suara bariton mengagetkan Pipa.


"Isss lu lagi..." kesal Pipa.


"Kenapa belum tidur mbak?" tanya laki-laki itu


"Stop panggil gue mbak karena gue bukan mbakmu!"


"Jadi saya harus panggil apa toh mbak? sayang?"


"Sekali lagi lu Ngawur, gua tonjok lu!"


"Wiiih cantik-cantik galak. Saya memang harus manggil kamu itu mbak karena kamu lebih tua dari saya."


"Tapi gua gak seumuran sama bubu!"


"Tetap aja, kamu itu lebih tua dari saya mbak"


"Terserah deh. Memangnya kamu semester berapa sih?" tanya Pipa mulai kepo .


"Semester berapa? bhahahahha! saya masih kelas 3 SMA mbak."


"Hah? yaampun, benar-benar masih bocah."


"Eh jangan ragukan bocah mbak"

__ADS_1


"Memang nya kenapa? dasar bocah!"


Bima tersenyum tipis, baru kali ini ada wanita yang bisa melawan ucapannya karena selama ini semua wanita takluk akan ketampanannya.


"Mbak , walaupun saya masih bocah tapi saya sudah bisa buat bocah loh" Kata-kata nya membuat Pipa benar-benar ingin memukulnya tapi beruntunglah dia karena sebelum tangan Pipa mendarat lelaki itu sudah pergi terlebih dahulu.


Pipa menghela nafasnya dengan dalam , lalu kembali lagi ia menatap langit A' apa kita sedang menatap langit yang sama? Apa masih ada pertemuan bagi kita? gumamnya.


Tak lama kemudian, ponsel Pipa berdering dan ia melihat itu dari nomor baru. "Nomor siapa ya? Ah, paling orang iseng!"


Semakin di biarkan maka semakin sering ponsel itu berbunyi, Pipa sangat terganggu sampai ia mengambil ponselnya kembali dan memutuskan untuk mengangkatnya.


๐ŸŒผin call


"Halo? siapa sih? ganggu aja!" ketus Pipa


"Assalamu'alaikum"


degggg


"I--ini A Fat--than?"


"Iya, di jawab dong salam nya"


"Waalaikumussalam, ini beneran Aa?"


"Iya, kamu apa kabar?"


"Untuk apa menanyakan kabar? Apa pernah memberi kabar?"


"Astaghfirullah, neng..."


"Ada apa aa nelpon neng?"


"Kok nanya nya begitu?"


"Udah langsung aja jawab"


"Bisa gak langsung ke intinya aja A? Maaf, tapi neng udah lelah."


"Aa' besok pulang neng, semoga besok neng mau maafin Aa "


"Apasih, gak jelas banget"


"Assalamu'alaikum"


"Waalaikumussalam"


๐ŸŒผend call.


Pipa mengusap kasar wajahnya lalu menangis dalam diam. Perasaannya kini campur aduk. Besok adalah kepulangan Gus Fathan tapi apa yang harus dirasakannya sekarang? Apa dia harus bahagia? atau masih kecewa?.


Tanpa di sadari sepasang mata ternyata masih setia memandangnya dan mendengar semuanya.


kasian kamu mbak, gumamnya.


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


Pagi hari, sudah membantu bubu menyiapkan sarapan. Pipa merasa nyaman di rumah ini dan Sebenarnya saat ini Pipa malas pulang ke pesantren karena pasti dalam hitungan jam ia akan berjumpa dengan Gus Fathan .


"Bubu sudah berapa lama usaha catering makanan?" Tanya pipa mencairkan suasana.


"Sejak Babanya Bima meninggal Nak. Ah iya, waktu Bima kelas 6 SD kalau gak salah"


"Lumayan lama juga ya Bu"


"Benar nak, awalnya ya kecil-kecilan tapi semakin lama Alhamdulillah rezeki buat Bima lancar sampai sekarang."


๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ

__ADS_1


Waktu berjalan, sebenarnya Pipa tak ingin kembali ke pesantren dan dia sudah nyaman tinggal di rumah Bima walaupun baru satu hari.


Hanya memakan waktu 20 menit untuk Pipa sampai didepan Pesantren. Saat ini ia sedang berada di perjalanan dan hari sudah sore kemungkinan Gus Fathan juga sudah sampai di rumah.


"Mbak sekarang tinggal di pesantren? kenapa? mbak bandal ya?" Celetuk Bima saat mobil berhenti di depan pesantren.


"Sembarangan! Gua ngajar di sini dan kebetulan bagi pengajar yang rumahnya jauh, dikasih rumah juga disini. Lumayan dong buat ngurangin biaya kost"


"Oh mbak itu guru toh? berarti muridnya ntar pada takut tuh, hahhahah"


"Lucu ya? dih, miris banget, humor lu sebatas itu doang!"


Akhirnya Pipa turun dari mobil itu dan Bima kembali melajukan mobilnya setelah pamit dengan Pipa.


Pipa berjalan dengan santainya sampai ia melihat The guys berdiri di depan rumah Patul untuk menunggu kepulangannya.


Pipa malas debat hari ini, tapi apalah daya? untuk menghindar juga tak bisa lagi sekarang karena rumahnya berada di belakang rumah Abah Kyai.


"Noh itu Pipa " ucap Sapi sambil menunjuk.


Patul dan Sasa menoleh


"Pipa...!!!" teriak mereka


"Berisik " ketus Fifa.


"Loe dari mana aja sih?"


"Cari ketenangan hahahha"


"Gaya kali kau bah. Jijik aku dengarnya..."


"Aku masuk dulu ya guys, gerah"


"Kunaon Pa? ada masalah cerita aja atuh "


"Iya Pa, jangan di pendam begitu "


"I'm okay,"


"Pa, loe di cari Abah dari tadi. Kalau udah siap mandi loe samperin aja Abah"


"Di cari Abah?"


Semuanya mengangguk.


"Buat apa?" tanyanya lagi


"Nanti juga kamu paham. Sok atuh, mandi dulu..."


๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ


Pipa gak banyak cerita lagi dan ia memilih untuk tetap pulang terlebih dahulu.


Satu jam kemudian, Pipa pergi ke rumah Abah Kyai. Ia heran kenapa semua orang berkumpul disana sekarang.


"Itu Pipa..." celetuk Patul membuat Pipa berdengus kesal.


Dengan langkah pelan Pipa semakin dekat kesana, dan...


"Assalamu'alaikum" ucap Pipa


"Waalaikumussalam " sahut semua.


Mata Pipa langsung menyapu ke seluruh ruangan, tiba-tiba pandangan itu bertemu...


"Kamu?"


๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ

__ADS_1


hayoloooo kira-kira siapa ya yang dimaksud Pipa? kakak baik hati othor minta maaf ya kalau di part ini lebih banyak ngobrolnya, othor lagi pusing dan kurang fokus karena anak othor nangis terus huuaaaaaaa


๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ


__ADS_2