
"Hm, jangan banyak tanya! mau masuk nggak?"
"Ettt dah, dingin banget kaya es kutub!" seru Zaydan.
Akhirnya, Zaydan mengikuti Fakhi dari belakang, sampai di depan pintu Fakhi menarik napas terlebih dahulu.
"Kak Fakhiiii !" teriak Azma dan Azmi.
"Astaghfirullah, ngagetin saja." Ucap Fakhi dan Zaydan bersamaan.
Fakhi tersenyum ke arah kedua adik kembarnya itu lalu ia merentangkan tangannya.
'Grep!
Mereka berpelukan, Zaydan tersenyum melihatnya. 'Seperti Teletubbies,' batinnya.
"Ini adik-adik Kakak ya? Masya Allah, sudah pada besar sekarang."
"Hiks ... Kak, aku kangen, hiks ..." kata Azma.
"Cengeng banget, Woy!" kata Azmi.
"Diam kamu, Bocil! Tuh juga air mata napa turun? hm?" sahut Azma.
__ADS_1
"Dih, ngatain bocil, lahir beda menit juga." kata Azmi membuat semuanya tertawa.
"Kalian ini ya, selalu saja berantam."
"Hehhehe, bodo' ah, aku masih kangen sama Kakak." kata Azma kembali, sambil memeluk Fakhi.
Fakhi hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan adik-adiknya itu. "Azma, Azmi ... kenalkan, ini teman Kakak yang namanya Zaydan itu."
"Hai, salam kenal ..." Zaydan berusaha untuk tetap ramah.
"Hai Kak, tapi kita udah kenal. Iya nggak, Azmi?"
"Betul, Kak Az. Kak Zaydan itu yang suka sama ...."
'Ekhm!
"Ente yang kasih tau mereka ya?" tuduh Zaydan pada Fakhi.
"Yo'i, tenang saja ... mereka sudah buka biro jodoh kok, walaupun kasus terakhir ini belum juga jadi." Fakhi terkekeh mendengar ucapannya sendiri.
"Bukan belum jadi Kak, si Zahra ini belum sadar kalau dia juga suka sama Bang Mevlan, kalau sudah sadar mungkin mereka dulu yang nikah baru Kakak." Protes Azma.
"Afwan nih, kita mau ngobrol di sini saja ya? bisa pinjam tikar nggak? Afwan, kaki ana pegal." Zaydan mengeluh, karena koper dan bawaannya yang lain sangat berat.
__ADS_1
"Bhahahha! sorry kak, yuk masuk ..."
"Hm, bismillah ..." Seru Zaydan dan Fakhi
'Tok! 'Tok! 'Tok!
Pintu terbuka, wanita paruh baya keluar. Keduanya saling berpelukan melepas kerinduan yang amat dalam. "Fakhi ... anak Mommy, apa kabar?"
Fakhi enggan melepaskan pelukan Ibunya. Wanita paruh baya itu sangat merindukan anak sulungnya, Fakhi tahu itu. "Biarkan seperti ini, Mommy. Fakhi tahu Mommy pasti merindukanku ..." Fakhi hanya jawab itu, ia juga menangis dalam pelukan sang Ibu.
Tak lama kemudian, Gus Sakhi keluar. Pelukan itu pun berpindah ke arah Gus Sakhi. "Alhamdulillah, kamu sudah besar sekarang." kata Gus Sakhi, ia mencoba untuk tetap tenang.
"Alhamdulillah, Dad. Terima kasih atas bekal ilmunya, Fakhi sayang sama Daddy ..." jawab Fakhi.
Kembali lagi, Gus Sakhi menahan tangisnya. Seorang Ayah lebih sering memendam rasanya sendiri. Bukan karena dia tidak punya rasa, hanya saja ia tidak ingin di anggap lemah. Gus Sakhi tidak ingin semua orang tahu jika dirinya sangat merindukan putra sulungnya. Setiap kali Sasa meminta untuk mengunjungi Fakhi, Gus Sakhi selalu melarangnya dengan dalih untuk tidak mengganggu Fakhi menuntut ilmu.
Padahal alasan sebenarnya adalah ia tidak sanggup melihat putranya hanya untuk sebentar. Bahkan setiap malam, ia sering menelpon temannya yang berada di Cairo hanya untuk menanyakan kabar Fakhi.
Sasa pernah bertanya pada Gus Sakhi, apa suaminya itu merindukan putra sulung mereka, tetapi jawaban Gus Sakhi tetap sama, "Biarkan rindu ini kita sampaikan pada Allah, serahkan semua pada-Nya."
'Ekhm!
"Kalau mau nangis ya nangis saja kali, Dad." Celetuk Azma, anak gadis itu memang tahu watak Daddy nya.
__ADS_1
๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ
Hai semuanyaaa, author mau sharing nih, nanti season 2 nya mau disini saja atau buat judul baru? di jawab dongggggg๐ฅฐ๐ฅฐ๐ฅฐ๐ฅฐ๐ฅฐ