
Waktu berlalu dengan cepat, pernikahan Hawa dan Zaydan pun berlangsung. "Alhamdulillah," sorak semua orang yang menghadiri pernikahan mereka.
Jodoh akan datang di waktu yang tepat, tak perlu mengejar dan tak menunggu di kejar. Perlahan Hawa menerima Zaydan menjadi suaminya. Sedangkan Adam, bagaimana kabarnya?
Saat ini Adam berada di tanah suci untuk melaksanakan ibadah umrah. Ia ingin memantapkan niatnya kembali karena beberapa hari yang lalu sekretarisnya di kantor memberanikan diri untuk melamarnya. Awalnya Adam sangat terkejut, tetapi gadis ini bukanlah gadis yang buruk. Ia termasuk gadis yang Sholehah dan ternyata ia sudah menyimpan rasa itu sejak pertama kerja di sana.
Lantas, bagaimana dengan hubungan Fakhi, Maryam dan Annasya?
Alhamdulillah, saat ini Maryam sedang mengandung 9 bulan. "Aduh!" Pekik Maryam, ia kesakitan disaat mengajar.
"Astaghfirullah, kenapa Um?" Para santri bertanya dengan cemas.
"Tolong panggilkan kiyai Sakha atau Gus Fakhi."
Tak lama kemudian, Fakhi datang sambil berlari. Ia melihat air berceceran disana. "Innalilahi, Maryam!"
Fakhi langsung menggendong Maryam dan menuju rumah sakit. Kabar itu juga di ketahui oleh Annasya dan yang lainnya, mereka ikut menyusul ke rumah sakit saat ini.
"Mas!" Annasya menghampiri Fakhi.
"Sayang, do'akan Maryam." Lirih Fakhi.
Annasya mengangguk, penyakitnya juga sudah dinyatakan sembuh. Sementara Maryam di dalam sana sedang berjuang antara hidup dan mati. Air ketubah Maryam sudah pecah terlebih dahulu membuatnya harus segera di operasi.
'Ceklek!
Seorang dokter keluar, terdengarlah suara bayi di dalam sana. "Alhamdulillah, kedua bayi anda selamat."
"Alhamdulillah ..." Semua bersorak gembira, Nasya dan Fakhi pun sujud syukur saat ini apalagi anak mereka saat ini kembar.
"Terus, bagaimana istri saya, dok?" tanya Fakhi.
"Untuk Nyonya Maryam __" wajah dokter tersebut tampak sedih.
"Kenapa istri saya, dok?"
"Mohon maaf, kami tidak bisa menyelamatkannya."
"Innalilahi wa innailaihi rojiun!"
__ADS_1
Duar!
Bagai kesambar petir rasanya, ternyata Maryam sudah kembali ke ilahi. Bagai nano-nano rasanya, suka dan duka datang bersamaan. Fakhi langsung masuk ke dalam untuk melihat wajah istrinya. "Terima kasih, istriku. Kamu menghadirkan raja dan ratu di kehidupanku. Kamu adalah bidadari surgaku, terima kasih."
Begitu juga dengan Nasya kini memeluk sahabatnya yang terbaring itu. "Terima kasih, Maryam. Kamu hebat, kamu wanita mulia. Allah pasti sangat menyayangimu. Yang tenang disana ya, tunggu aku!"
Kedua bayi tersebut dinamakan Andra Mumtaz dan Aufa Mumtaza. Sepasang bayi itu membuat suasana menjadi bahagia walaupun ada duka di waktu yang bersamaan.
***
Lima tahun kemudian ...
Waktu sangat cepat berlalu, tak terasa kini sudah lima tahun berjalannya waktu. Aufa dan Andra tumbuh menjadi anak-anak yang solehah dan soleh seperti orang tua mereka.
Annasya sedang berada di kamarnya sambil memandangi sebuah surat yang sudah lama diberikan Maryam untuknya. Ternyata sebelum Maryam melahirkan ia sudah menyiapkan sebuah surat untuk sahabat sekaligus istri pertama suaminya. Annasya masih takut membukanya, tetapi kali ini Fakhi menyuruhnya dengan tegas. Karena sudah lima tahun lamanya, rasa bersalah Annasya tak kunjung berubah. Fakhi berharap istrinya akan sedikit lega saat melihat pesan dari istri keduanya.
"Bismillah, ayo dibuka Sayang." Titah Fakhi, Annasya pun mengangguk.
Teruntuk Sahabatku.
Annasya, sahabatku.
Hihi, rasanya lucu ya, kita bersahabat tetapi kita juga berbagi suami.
Makasih ya, Sya. Hatimu terlalu kuat!
Tak mudah berbagi suami dengan sahabatnya, syurga untukmu!
Akan tetapi sebelum hari itu tiba, kamu mau 'kan merawat anak-anak kita?
Firasatku nggak enak, Sya ...
Kayanya aku akan pergi setelah melahirkan.
Tetapi nggak pa-pa, anak-anak kita akan menjadi hadiahku untuk kalian berdua.
Aku juga titip suami kita, Mas Fakhi.
Kamu yang pertama, maka sudah seharusnya menjadi yang terakhir juga.
__ADS_1
Aku hanyalah perantara agar kita memiliki anak.
Sya, jangan sedih ya ...
Kalau kamu sedih, aku nggak akan tenang ninggalin kalian.
Kamu harus kuat, demi aku, Mas Fakhi dan anak-anak kita.
Oh ya, aku boleh kasih nama 'kan untuk mereka? Namanya sudah aku titipkan dengan Mas Fakhi, yaitu Andra dan Aufa. Bagus nggak?
Bagus dong, aku nyarinya dua hari dua malam tahu ...
Nggak deh, bercanda. Oh ya, sudah dulu ya!
Aku sayang kalian semua ...
Love,
Maryam.
"Hiks ... Hiks ...." Annasya menangis di pelukan suaminya.
"Sudah, jangan menangis, Sayang."
"Mas, ternyata Maryam sudah ada firasat dan Sya? Sya nggak tahu apa-apa. Sahabat seperti apa Sya ini!"
"Kamu mau lihat Maryam sedih?"
Annasya menggelengkan kepala, "Sya harus kuat!"
Ya, Begitulah akhir dari kisah Fakhi dan Annasya. Kini mereka bahagia bisa merawat si kembar yang begitu cantik dan tampan.
Begitu juga dengan Hawa, walaupun ia tidak menyukai Zaydan di awal menikah tetapi pada akhirnya Hawa malah sangat cinta pada Zaydan. Lelaki itu berhasil meruntuhkan pertahanan Hawa. Keduanya juga sudah memiliki seorang anak, bernama Nizam yang kini berusia 3 tahun.
Kebahagiaan juga datang di kehidupan Adam. Setelah pulang dari umrah, ia memutuskan untuk menikahi gadis yang melamarnya tempo hari. Pacaran setelah menikah juga di rasakan oleh sepasang suami istri ini. Wanita itu berhasil mencairkan hati Adam yang sempat beku tersebut. Kini mereka juga memiliki seorang anak, bernama Qisya berusia 2 tahun.
*****
Lantas bagaimana kehidupan Azma dan Azmi juga Mevlan dan Zahra? Nantikan part selanjutnya.
__ADS_1
Sorry ya Author percepat, karena di RL sibuk banget. Tetapi setelah ini jangan lupa baca karya author terbaru di awal bulan 9. Pasang alarm ya, beb! See you ...