
"Terus?"
"Alhamdulillah, dia selamat. Tetapi, Mas nggak menunggunya sampai ia sadar karena bus yang Mas tempati sudah waktunya jalan."
"Jadi, Mas ada perasaan sama dia?"
"Astaghfirullah, ada-ada saja kamu ini. Sudahlah, itu semua sudah berlalu. Yang harus kita pikirkan sekarang itu hanya keluarga kecil kita ini, Mas hanya milikmu seorang, Shazfa Aiysha Humaira."
"Bagaimana jika dia kembali muncul di hadapan, Mas?"
"Kamu masih ragu dengan suamimu? Astaghfirullah, Humaira. Biarkan saja dia muncul di hadapan Mas, tapi Mas tidak akan pernah meliriknya. Di hati mas hanya ada kamu, Humaira. Mas hanya trauma saat melintas di jembatan tadi, itu saja. Mas kebayang dengan kejadian dulu, nggak ada hal lainnya."
"Beneran?"
"Demi Allah, saat Ijab Qabul terlaksana maka Mas juga sudah berjanji pada Allah untuk selalu bersamamu hingga ke Jannah. Mas mau hanya kamu bidadari Mas di dunia maupun nanti di surga. Mas menyayangi, Humaira. Mas sangat mencintaimu."
Tanpa terasa, Gus Sakhi mengucapkannya dengan meneteskan air mata. Entah kenapa, ucapannya yang begitu tulus itu ia katakan juga pada Sasa, padahal selama ini ia sangat malu mengatakannya.
"Janji ya?"
"Iya, Sayang. Eh tapi, apa kamu sekarang sedang cemburu? hm? istri Mas sedang cemburu nih?"
__ADS_1
"Menurut Mas?"
"Sini, Mas beritahu sama kamu. Cemburu itu Memang hal yang wajar. Istri Rasulullah Siti Aisyah saja pernah cemburu kepada salah satu istri Nabi yang lain. kecemburuannya itu di riwayatkan pada HR. Muslim, yang artinya Tidaklah aku cemburu kepada salah seorang istri-istri Nabi SAW sebagaimana kecemburuanku terhadap Khadijah. Padahal aku belum pernah melihatnya. Sebenarnya, kecemburuan itu di bagi dua, ada yang di sukai oleh Allah, ada juga yang tidak disukai Allah. Kamu tahu tidak, apa saja itu?"
Sasa menggelengkan kepalanya, "Yang disukai Allah itu adalah cemburu yang memiliki bukti jelas adanya. Sedangkan yang tidak disukai Allah adalah cemburu yang tidak ada bukti yang jelas. Intinya, kamu boleh cemburu tapi jangan tanpa sebab. Dan ketika kita lagi ada salah paham seperti ini jangan di selesaikan dengan saling diam, kamu pikir kalau diam itu bisa menyelesaikan masalah?"
"Mas memarahiku?"
"Astaghfirullah, Mas hanya bertanya. Ini nih, sifat kamu yang begini buat kita bisa jadi renggang. Kamu mau surga kamu jauh?"
"Mas mah selalu gitu, ujung-ujungnya bahas surga."
Sasa pun membalas pelukannya, yang ia butuhkan sekarang memanglah pelukan sang suami. "Maafkan Sasa, Mas. Sasa sayang sama Mas."
"Mas sangat sangat sangat sayang dengan Humaira." Ucap Gus Sakhi sambil mengecup singkat dahi Sasa.
"Lebay!" sahut Sasa dengan cekikikan.
"Mau Mas buktikan?" Gus Sakhi menaik turunkan alisnya.
"Maksudnya?" Sasa bingung dengan tingkah Gus Sakhi, ia sebenarnya mengerti tetapi ia menutupinya.
__ADS_1
"Mas akan membuatmu percaya dengan cara ..." Gus Sakhi mengucapkan kalimat itu dengan mendekati bibirnya, malah semakin lama semakin dekat, hampir saja tidak ada jarak di antara keduanya.
Tiba-tiba ....
"Daddy, Mommy ..." Panggil seorang bocah dengan polosnya.
"Fakhi ..." Teriak Sasa dan Gus Sakhi dengan terkejutnya.
"Mommy sama Daddy ngapain? Fakhi ganggu ya? Kalau begitu, Fakhi balik lagi aja deh ..."
"Nggak Sayang, Sini Nak." Gus Sakhi melambaikan tangannya agar sang anak semakin dekat.
"Kali ini kamu aman, Sayang..." Bisik Gus Sakhi pada Sasa yang masih mematung.
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
Hai semuanya, jangan lupa dukung Othor ya...
Oh iya, othor punya rekomendasi lagi nih, cekidot👇
__ADS_1