
"Mas gak akan pernah meninggalkanmu!" Suara bariton itu mengagetkan Sasa, bagaimana bisa orang yang sedang tertidur itu bisa menyahutinya.
"Mas gak tidur?" pekik Sasa.
Gus Sakhi membuka matanya. "Mas memang belum tidur, terima kasih sudah menjadi istri mas seutuhnya."
Cup!
Ciuman itu begitu hangat bagi Sasa, dan Sasa sangat menyukainya.
Keesokan harinya, Sasa pergi ke pesantren bersama Gus Sakhi. Di halaman banyak sekali yang menyapa mereka.
"Micin! Woy!" Teriak Sapi yang baru saja keluar dari baraknya.
"Teman kamu sudah nungguin tuh, Mas duluan ya!" kata Gus Sakhi sambil memberikan tangannya untuk di cium sang istri.
"Iya Mas, nanti jadi ke dokter THT kan?"
"Jadi, Sayang. Sepulang ngajar ya?"
Sasa mengangguk dengan senyuman.
"Wih, harus kali Kelen mesra depan aku?" celetuk Sapi yang sudah di depan Sasa.
"Sejak kapan loe di situ?" Sasa malah balik nanya.
"Barusan! makanya kalau mau mesra-mesraan jangan depan umum, jiwa jombloku meronta-ronta nih!"
Sasa terkekeh geli melihat sahabatnya, "Siapa suruh loe di sini? makanya loe cepetan nikah, tuh sama Ustadz Alif aja kalau gak, mau?"
"Kurang asin! kau kira kaya milih gorengan? Nggak mau aku, trauma aku sama Ustadz!"
"Ustadz Ghibran belum kasih kabar ya?" tanya Sasa lirih, ia baru sadar jika ucapannya mungkin bisa menyakiti Sapi.
"Belum, udah mati mungkin dia di dasar laut!" kesal Sapi dengan berkacak pinggang.
"Sabar ya Pi, gue yakin jodoh loe pasti lebih baik dari Ustadz Ghibran." Sasa menepuk pelan bahunya Sapi.
__ADS_1
"Iya Sa, semoga saja. Kalau bisa lebih sempurna lagi dari Gus Sakhi." goda Sapi sambil berjalan meninggalkan Sasa yang masih tercengang.
"Sa ...." pekik Sasa tertahan karena ia baru menyadari jika ini adalah lingkungan pesantren dan statusnya bukan hanya sebagai pengajar, tetapi bagian keluarga dari pemilik pesantrennya. "Huh, hampir saja!" gumam Sasa.
"Hampir apa?" Tanya seseorang dari arah belakang.
Sasa tersentak saking kagetnya dan menoleh ke arah belakang, "Pipa semprul!!!!" katanya sambil memeluk Pipa.
"Loe sejak kapan pulang? gue kangen banget sama loe, dan gimana acara kemarin? lancar kan? Sorry gue gak bisa datang, loe maafin gue kan?" cerocos Sasa membuat Pipa menutup telinganya.
"Berisik lu!" Sahut Pipa, "Lagian kalau nanya itu satu-satu jangan kaya kereta api gitu. Baru juga beberapa hari gak jumpa, sudah ngeselin aja. Untunglah lu itu istri Dosen, kalau nggak sudah ku toyor tuh kepala lu!"
"Heheheh!" Sasa hanya bisa cekikan sampai akhirnya Patul muncul dari arah belakang.
"Assalamu'alaikum." Ucap Patul
"Waalaikumussalam" Sahut mereka berdua.
"Nah yang kaya gini nih patut di contoh, datang tuh pakai salam bukan ngagetin gue. Pintar ya adik ipar!" kata Sasa membuat mereka terkekeh.
"Paling di kantin, yuk nyusul. Dan loe juga harus ceritain ke kita acara kemarin, oke?"
"Siap Nyonya Sakhi." Sahut Pipa membuat mereka terkekeh kembali.
Mereka pun pergi ke kantin dan ternyata benar kalau Sapi sudah berada di sana. Setiap pagi mereka memang suka ke kantin karena Sapi juga tidak bisa membuat sarapannya di dalam barak.
"Wih, sarapan sendiri aja nih mbak?" goda Pipa.
Uhuk uhukkkkk
Sapi tersedak, "Kau sudah balik Pa? ya Allah ngagetin aja kau bah!"
"Minum dulu atuh." Patul mengambilkan segelas air putih dan memberikannya pada Sapi.
"Makasih Ummi"
Lalu, setelah makan Pipa pun menceritakan semuanya, ketiganya mendengar dengan khidmat dan sangat terharu. Mereka sangat senang melihat sahabatnya itu.
__ADS_1
"Selamat ya, Pa." Ujar Patul.
"Iya Pa, maafin kami terutama gue karena gak bisa datang." Sahut Sasa.
"Dan aku gak nyangka akhirnya jodoh loe si Bima, bocah yang dulunya kau bilang najis itu." celetuk Sapi membuat semuanya terkekeh.
Memori mereka pun berputar saat Pipa dan Bima bertemu. Pipa yang mengira Bima adalah kurir dan Bima yang sempat bersumpah akan berjodoh dengannya jika bertemu kembali. Begitulah Takdir, sangat unik.
"Huek ... huek ...."
Sasa kembali mual, "Loe mesan apa sih Tul?"
"Nasi goreng, kunaon Sa?" Patul menatap Sasa heran.
"Kok bau sih?" tanya Sasa membuat Patul semakin bingung
"Hah?"
"Aneh banget lu!" Celetuk Pipa.
"Iya, padahal sering kau cium nasi goreng Mbok Atun ini, tapi gak ada kau mual gitu. Atau jangan jangan ..." Sapi mulai menebak .
"Jangan-jangan apa? jangan aneh-aneh lah!" kesal Sasa sambil menutup hidungnya.
"Kamu teh hamil?" Tebak Patul.
"Hah?"
"Iya Sa, kamu teh hamil ya? ciri-cirinya kok sama persis sih?"
"Masa sih?" Sasa malah balik bertanya.
"Kau kapan halangan?" tanya Sapi membuat Sasa seketika menjadi mikir.
"Kapan ya? Astaga, bulan kemarin gue memang belum halangan, biasanya juga rutin dan ini sudah awal bulan." Sasa tampak terkejut.
"Ya sudah, pulang nanti beli test pack aja!" saran Pipa yang di setujui Sasa.
__ADS_1