Begitulah Takdir

Begitulah Takdir
Kami takut di DO, Pak!


__ADS_3

Saat sedang asyik main, Gus Sakha mendapatkan telpon dari kakeknya, beliau memang sudah sangat tua bahkan mereka saja jarang menjenguknya. Setelah menjawab telepon tersebut, Gus Sakha kembali bergabung lagi dengan The guys.


"Kak," panggil Gus Sakha pada Gus Sakhi.


"Hm?"


"Kakek nelpon aku, nyuruh kita singgah ke rumahnya. Katanya rindu dengan cicit-cicitnya, sudah lama tidak berjumpa."


"Allahuakbar, rumah kakek kan memang dekat dari sini, tapi dari mana beliau tahu?"


"Mungkin dari Umi, mungkin ya."


"Bagaimana, Humaira?" Gus Sakhi menatap istrinya, walau gimana pun keputusan harus milik bersama.


"Ya Sasa gak masalah sih, apalagi kan Kakek memang gak pernah jumpa mereka. Loe gimana, Tul?"


"Hayuk, Atuh."


"Woy, kami bukan patung!" celetuk Sapi tiba-tiba.


"Napa loe?"


"Kami juga punya pendapat kali, jangan putusin sepihak gitu dong, sanggup kali bah!"


"Pftttt hahahhahahaha"

__ADS_1


"Kenapa pada ngetawain aku?" ternyata Sapi juga masih belum mengerti kesalahannya.


"Lu tuh aneh, memangnya lu cucu Kakek Kiyai?"


"Eh?" Sapi menggarukkan kepalanya yang tidak gatal. "Betul juga, dahlah! merajok aku."


"Bodo'!" jawab mereka serempak.


"Astaghfirullah, sudah ... sudah .... Habiskan makanannya, setelah itu kita mampir ke rumah kakek. Ada yang keberatan?" Gus Sakhi terlihat kaku, persis seperti Dosen yang sedang menjelaskan mata kuliahnya.


Para lelaki diam karena keputusan ada pada istrinya, sedangkan sang istri hanya mangut-mangut saja pertanda setuju. Tentu hal itu membuat Gus Sakhi heran, karena nggak biasanya wanita seperti mereka hanya mengangguk patuh. "Tumben," gumamnya.


"Kami takut di D.O Pak!" celetuk Sapi lagi membuat Gus Sakhi tertawa kecil, Daddy nya Fakhi baru sadar jika dirinya sudah seperti Dosen dari tadi.


"Boleh mendaftar jika berkenan!" sahut Pipa.


🌿🌿🌿


Tingginya pepohonan menyejukkan rumah kayu tersebut. Bukan karena mereka tak sanggup membangunkan rumah yang lebih layak lagi, tetapi pria tua tersebut 'lah yang tidak menginginkannya. Alih-alih semua itu karena mengingat banyaknya kenangan di dalamnya.


Apa lagi, saat ini rumah beliau hanya tinggal seorang diri. Kakek Abdullah namanya, beliau sudah lama di tinggalkan oleh Nenek Zainab selamanya. Umi dan Abi sebenarnya sudah lama menyuruh Kakek untuk tinggal di rumahnya, tetapi pria tua itu tetap kekeuh tidak mau ikut. Sudah banyak yang membujuknya, namun tetap saja beliau tidak mau. 'Setidaknya, kalau aku disini, aku bisa mengingat semua kenangan ku dengan nenek kalian!' ya, itulah kata-kata yang selalu di sebut olehnya.


Tetapi, bukan karena beliau ingin sendiri lalu di telantarkan, oh itu salah besar. Umi, Abi dan adik-adiknya Abi mengirimkan beberapa orang untuk mengurus dan merawat Kakek. Dan sesekali mereka juga datang dan menginap di sana.


Rumah kayu tersebut terletak di dalam lorong, jauh dari keramaian. Walaupun umur sudah 88 tahun tetapi beliau masih kuat berjalan, jika bisa di katakan pria ini termasuk kakek yang gaul karena bisa ahli dalam menggunakan ponselnya.

__ADS_1


Tok! Tok! Tok!


"Assalamu'alaikum."


"Waalaikumussalam," sahut seseorang dari dalam.


Ceklek!


"Masya Allah, akhirnya kalian datang juga." Kakek itu langsung memeluk Gus Sakha dan Gus Sakhi secara bergantian.


"Apa kabar, Kek?"


"Alhamdulillah, seperti yang kalian lihat sekarang. Ayo, masuk. Bawa Zahra ke kamar, Cung." Kakek Abdullah memerintahkannya sambil menunjuk arah pintu.


"Wah, ada bule toh?" Kata Kakek setengah teriak.


"Ck! itu suamiku, Kek." Sahut Sapi dengan kesal.


🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿


**Wkwkwkwk kocak banget nih Sapi ya guys, becandanya gak ingat umur, et dahhhh.


Oh iya, sekali lagi, othor mau kenalin karya teman othor, cekidot πŸ‘‡**


__ADS_1


__ADS_2