Begitulah Takdir

Begitulah Takdir
Patul


__ADS_3

"Loe jangan ngawur deh Tul, pasti kita akan sering ke pesantren, tapi ya kalau udah lulus gue gak janji karena loe tahu sendiri kami ini anak perantauan" tutur Sasa


"Iya lu tenang aja, tapi kami gak bisa nginap lagi ya Tul soalnya lu kan sudah....." Ucapan Pipa terpotong


"Kalian mau jauhi aku?" cicit Patul dengan mata berkaca-kaca


"Cakap (omong/bicara) kau itu lah Tul, siapa pulak yang mau jauhi kau?. Kami cuma segan karena kau sudah belakik (bersuami) sekarang " protes Sapi


Patul hanya cengar-cengir mendengarnya.


"Ya sudah, kita ke kampus yuk"


***


Tak lama kemudian, mereka sudah berada di kampus, walaupun jadwal sidang sudah di tangan, tapi mereka memang harus sering ke kampus, selain untuk mengecek perkembangan mereka juga mau menghabiskan sisa-sisa kebersamaan mereka di kampus tanpa menyia-nyiakannya.


"Gue pasti bakal kangen banget sama kampus ini" celetuk Sasa


"Iya, bentar lagi kita sidang.. gak terasa ya " kali ini yang bicara Patul.


"Ke kantin yuk", Ajak Sapi yang di anggukin oleh ketiga sahabatnya.


***


Sepulang kuliah, Patul sempat mengajak ketiga sahabatnya untuk pulang ke rumah, namun ketiga nya menolak dengan alasan ingin lebih fokus mengerjakan skripsi. Padahal alasan sebenarnya bukan itu , ketiganya segan karena Patul sudah memiliki suami.


"Kalian beneran gak mau ke rumah aku?" lirih Patul


The guys saling tatap, Sasa mendekati Patul "Maafkan kami Patul, tapi besok atau lusa kami janji untuk berkunjung ke sana ."


"Janji ya?", lalu ketiganya mengangguk.


"Hanya berkunjung? kalian teh gak mau tidur di rumah Patul lagi?"


"Kalau itu emhhh---" Lidah Sasa tiba-tiba kaku, namun untung saja Pipa mengerti akan hal itu .


"Insya Allah, kapan-kapan kami akan menginap." sahut Pipa


"Ya sudah, aku pulang ya, assalamu'alaikum "


"waalaikumussalam "


Mereka melihat kepergian sahabatnya itu, ada rasa kasihan sebenarnya namun mereka tidak enak mengingat status Patul yang sudah menjadi istri .

__ADS_1


***


Kini Patul sudah berada di halaman pesantren, langkah demi langkah ia masuk ke dalam, banyak sekali santri yang menyapa nya.


"Assalamu'alaikum Ning"


"Waalaikumussalam"


"Afwan Ning, sendiri saja?"


"na'am" jawab Patul singkat.


",Ya sudah ana deluan ya Ning, assalamu'alaikum"


", Waalaikumussalam"


Saat di depan rumah, ia melihat Gus Sakha sedang duduk bersama Abah di depan. Gus Sakha melihatnya lalu tersenyum, begitu sebaliknya.


"Assalamu'alaikum"


"Waalaikumussalam"


Lalu Patul menyalim tangan kedua lelaki yang saat ini berharga di hidupnya, walaupun Gus Sakha belum menerimanya sepenuh hati namun ia akan berusaha menjadi istri yang baik.


"Neng masuk dulu ya bah, A' " lalu di anggukin oleh kedua lelaki itu.


ceklek


Patul yang sedang menyisir rambutnya yang panjang, hitam dan bergelombang itu terkesiap dan langsung ingin memakai jilbabnya, ia lupa kalau Gus Sakha sudah halal melihatnya.


"Assalamu'alaikum" ucap Gus Sakha


"Waalaikumussalam, Aa' ngagetin Neng wae" sahut Patul.


Gus Sakha semakin dekat, dan mengambil jilbab yang masih setengah terpakai itu "Kenapa di pakai? kamu masih malu dengan aa'?


Patul menunduk, ia memang sedang malu saat ini "Afwan a' "


"Duduk" Titah Gus Sakha


Lalu ia melihat wajah istrinya tak seceria biasanya .


"Ada apa Neng?"

__ADS_1


Patul menggeleng, ia bingung saat ini, memangnya ada apa? gumamnya.


"Aa' tahu, neng lagi ada yang dipikirkan, ayo cerita sama Aa' " ujar Gus Sakha namun Patul masih enggan untuk cerita.


"A' " panggil Patul membuat Gus Sakha menatapnya


'duh jantungku' gumam keduanya dalam hati


"A' sebenarnya Neng lagi mikirin teman-teman neng, mereka sungkan untuk datang kesini lagi. "


Gus Sakha tersenyum "Apa karena ada Aa'? "


Patul menggeleng, ia takut ada salah paham "enggak aa ' bukan begitu, tapi aa kan tahu kita sudah menikah dan mereka----"


Gus Sakha kembali tersenyum "Ajaklah teman neng ke rumah, aa ' janji tidak akan mengganggu kalian, selama itu bisa membuat neng bahagia lagi. Aa gak mau dengan terjadinya pernikahan kita, itu akan membuat neng kehilangan kebahagiaan neng"


Gus Sakha menghela nafasnya. "Aa tahu, Pernikahan kita dadakan yang hanya berlandaskan perjodohan. Bahkan kamu juga tahu masa lalu Aa' , tapi sejak ijab Qabul terlaksana, kamu itu milik Aa, begitu juga aa' sepenuhnya itu milik kamu Neng. Aa' mau kita harus saling terbuka, kita jujur, kita mulai semuanya dari awal. Kamu bersedia kan Neng?"


Patul terdiam, ia menelan Saliva nya. Ia tak menyangka Gus Sakha menerima pernikahan ini, tanpa sadar senyum termanisnya terlukis di wajahnya, membuat Gus Sakha semakin mendekati wajahnya, dan...


cup


"Manis" gumam Gus Sakha membuat Patul tersipu malu.


"Maaf" ucap Gus Sakha membuat keduanya menjadi salah tingkah.


"Aa' itu suami neng, kenapa aa' minta maaf?" tanya Patul dengan polosnya..


"Berarti boleh dong sekarang?" Goda Gus Sakha sambil menarik turun kan alisnya.


"Maksudnya A'? Tanya Patul yang masih belum mengerti


"Bolehkan Aa' minta sekarang hak aa' ?


deg!


Pertanyaan itu membuat Patul merinding, bulu kuduknya naik semua, beberapa detik kemudian ia mengangguk..


Merasa dapat Lampu hijau membuat Gus Sakha menjadi senang "Kita sholat Sunnah dulu yuk"


Setelah sholat, Gus Sakha berhadapan dengan Patul, membacakan do'a dan lalu melancarkan aksinya dengan melewati gunung yang cukup lama di sana. Hingga lama kelamaan mulai turun ke lembah dan pertahanan pun usai. Kini gawang tersebut sudah berhasil di gol kan oleh Gus Sakha.


skip...

__ADS_1


"Terimakasih Neng" ucap Gus Sakha lalu mengecup kening Patul sekilas.


Lalu bagaimana dengan Patul? saat ini ia tengah tertidur karena aksi dari Gus Sakha begitu sangat membuat nya kelelahan.


__ADS_2